
WANITAINDONESIA.CO – Pemimpin Kanwil VIII Jakarta I PT Pegadaian Ahmad Zaenudin mengungkapkan berita-berita di media sosial tentang ketidakpastian global mulai dari krisis pangan hingga perang sepanjang 2025 membuat banyak warga Jakarta yang memilih berinvestasi emas yang membuat Pegadaian mendapat “durian runtuh”.
Ahmad yang berkarir di Pegadaian sejak tahun 1992 berhasil melampui target nasabah baru Pegadaian di wilayahnya yang ditetapkan 127 ribu menjadi 140 ribu berkat “booming” investasi emas.
Jebolan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) lantas menyiapkan berbagai strategi ke depan dalam rangka menjaring nasabah baru terutgama menjaring milenial dan generasi Z agar “melek” investasi emas. Termasuk memperkenalkan aplikasi Tring! untuk memudahkan dalam memanfaatkan layanan Pegadaian.
“Kita edukasi ke sekolah-sekolah serta mendirikan Gadai Longue di perguruan tinggi. Untuk wilayah Jakarta I mencakup Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Bogor, dan Bekasi kita dirikan longue di IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Pakuan, dan Universitas Negeri Jakarta. Alhamdulillah animo sangat besar,” ucap Ahmad.
Tak hanya itu, edukasi juga disampaikan saat memberikan pelatihan kepada 40 pendamping sertifikasi halal bagi pelaku UMKM mengingat mayoritas pelanggan Pegadaian di DKI Jakarta merupakan pelaku UMKM dan pedagang. Kemudian juga lewat festival Tring yang diselenggarakan di pusat perbelanjaan (mal) dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat.
Tak cukup hal itu setiap sudut di Ibu Kota terutama di lokasi strategis juga dipasangi media luar ruang mengenai aplikasi Tring! untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Ahmad juga menjadi bagian dari tim transformasi Pegadaian dalam rangka transisi dari layanan konvensional menjadi digital. Terutama untuk Kanwil Jakarta VIII Jakarta I seluruh frontliner (karyawan yang berada digaris terdepan) termasuk sekuriti agar bisa memberikan penjelasan kepada pelanggan cara mengunduh dan menggunakan aplikasi Tring!.
Dia membenarkan investasi emas baik dalam bentuk simpanan atau gadai kerap dipicu adanya ketidakpastian. Tidak hanya di 2025 yang diakibatkan krisis global, kondisi serupa juga terjadi saat krisis ekonomi 1998 dan juga tahun 2020 saat COVID-19. Ketika itu harga emas mengalami kenaikan seiring tingginya permintaan.
Nasabah pegadaian sendiri sebanyak 80 persen memanfaatkan layanan pegadaian sedangkan 20 persen sisanya memanfaatkan layanan pembiayaan.
Ahmad juga menjelaskan adanya perbedaan karakteristik masyarakat di perkotaan seperti Jakarta dengan di desa. Jangka waktu gadai yang empat bulan biasanya dipakai masyarakat desa saat musim tanam untuk kemudian menebus emas miliknya di saat panen. Sedangkan untuk masyarakat kota biasanya dipakai untuk kebutuhan modal berdagang, serta ditebus setelah mendapatkan keuntungan.
Namun baik di kota maupun desa punya kesamaan yakni emas berupa perhiasan ini akan ditebus disaat hari besar keagamaan seperti Idul Fitri, Idul Adha, maupun Natal untuk dipakai.
Bagi yang belum punya emas, Ahmad menegaskan tak perlu khawatir karena bisa memanfaatkan fitur tabung emas lewat layanan Tring!. Dengan hanya menyisihkan Rp10 ribu dalam jangka waktu tertentu sudah bisa memiliki emas.
“Emas merupakan aset yang mudah dibawa termasuk ke luar negeri serta mudah untuk dicairkan. Sehingga kerap dipakai sebagai lindung nilai (hedging) disaat kondisi ekonomi sedang tidak mengalami kepastian. Serta untuk mendapatkannya cukup mudah bisa melalui aplikasi Tring!,” tutup Ahmad Zaenudin. (Gdi)




