
WANITAINDONESIA.CO — Suara gemuruh dahsyat yang memecah ketenangan sore warga di kawasan perkebunan kelapa sawit wilayah Sampit, Kalimantan Tengah, akhirnya menemukan jawaban pasti. Serpihan benda misterius yang jatuh dan ditemukan warga pada Senin (19/10) tersebut terkonfirmasi sebagai bagian dari sampah antariksa sisa peluncuran roket ZhuQue-2E (ZQ-2E) milik perusahaan komersial asal China.
Peneliti Astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Thomas Djamaluddin memaparkan bahwa berdasarkan penelusuran data orbit, bekas roket tersebut melintas dari arah utara ke selatan di atas wilayah Kalimantan pada Minggu (18/10). Sekitar pukul 17.36 WIB, lintasannya berada tepat di sekitar kawasan Sampit, melintasi angkasa saat warga mendengar dentuman menggelegar di sore hari. Kesesuaian waktu kejadian dan lintasan orbit tersebut menjadi petunjuk amat penting dalam mengidentifikasi asal-usul objek yang memasuki kembali atmosfer (reentry) Bumi tersebut.
Hasil analisis penelusuran orbit menunjukkan bahwa itu merupakan lintasan terakhir bekas roket sebelum terdorong turun dan tidak lagi berada di orbit.
Thomas Djamaluddin dalam keterangan resmi, Rabu, menegaskan bahwa data menunjukkan lintasan orbit terakhir bekas roket tersebut sebelum kembali memasuki atmosfer Bumi, sehingga kesesuaian antara waktu lintasan dan laporan warga menjadi dasar kuat untuk menduga bahwa benda yang ditemukan di Sampit merupakan bagian dari sampah antariksa ZhuQue-2E.
Roket ZhuQue-2E itu sendiri merupakan wahana peluncur satelit yang dikembangkan oleh perusahaan antariksa komersial China, LandSpace. Roket ini memanfaatkan bahan bakar metana cair dan oksigen cair, sebuah teknologi propulsi metana oksigen cair (liquid oxygen–liquid methane atau methalox) yang kini menjadi pendekatan baru di industri antariksa demi meningkatkan efisiensi sistem peluncuran.
Berdasarkan informasi resmi yang dipublikasikan Xinhua, roket ZhuQue-2E Y4 diluncurkan dari kawasan peluncuran Dongfeng di China pada 14 Oktober 2026 dengan mengangkut sepuluh satelit.
Misi peluncuran tersebut dinyatakan sukses besar setelah seluruh satelit berhasil ditempatkan pada orbit yang ditentukan. Namun, setelah menyelesaikan tugas mulianya menembus angkasa, bagian badan roket yang tidak lagi digunakan tetap melayang mengorbit Bumi untuk sementara waktu. Seiring berjalannya hari, hambatan atmosfer secara bertahap menurunkan ketinggian orbit hingga akhirnya potongan sisa tersebut tertarik gravitasi dan jatuh kembali ke Bumi.
Meski data orbit telah menyajikan analisis yang begitu kuat dan presisi, pemeriksaan fisik secara langsung tetap menjadi tahapan mutlak yang wajib dilakukan. Langkah ini penting guna memastikan kecocokan bentuk, material, hingga penandaan spesifik pada komponen benda yang ditemukan dengan dokumen informasi teknis roket.
Kejadian jatuhnya sisa wahana antariksa ini menjadi pengingat menarik bahwasanya dinamika eksplorasi ruang angkasa yang begitu jauh di atas sana rupanya kerap meninggalkan jejak yang dapat kita saksikan langsung di daratan. Ke depan, akankah fenomena sampah antariksa seperti ini makin sering menyapa langit nusantara seiring pesatnya peluncuran satelit dunia? (Gdi)




