WANITAINDONESIA.CO — Di tengah dinamika perekonomian global yang penuh tantangan, asa terhadap ketahanan ekonomi nasional masih membumbung tinggi. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimistis bahwa performa pengiriman barang ke luar negeri atau ekspor Indonesia tetap menyimpan potensi cerah hingga pengujung tahun 2026. Sektor manufaktur atau industri pengolahan dinilai memegang peranan sentral sebagai tulang punggung (backbone) utama yang menjaga napas perdagangan internasional bangsa.
Namun, di balik optimisme tersebut, bayang-bayang lonjakan pasokan barang masuk dari luar negeri atau impor yang menggelembung tinggi tetap membayangi. Berdasarkan data perdagangan sepanjang Januari–Juli, angka ekspor nasional tercatat tumbuh sebesar 4,43 persen. Angka ini berbanding cukup jauh jika disandingkan dengan laju impor yang melonjak pesat hingga mencapai 19,94 persen. Selisih pertumbuhan yang timpang ini memicu pertanyaan besar mengenai nasib neraca perdagangan Indonesia ke depan.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Perindustrian Kadin Indonesia Saleh Husin memberikan pandangan teoretis sekaligus praktisnya di Jakarta. Kamis. Dia menegaskan bahwa lonjakan masuknya barang dari luar negeri saat ini sebenarnya merupakan cerminan dari makin bergairahnya denyut aktivitas pemrosesan barang dan penanaman modal atau investasi di tanah air.
Hal tersebut terbukti dari fakta bahwa sebesar 91,33 persen dari total pasokan barang masuk sepanjang Januari–Juli didominasi oleh bahan baku atau penolong serta barang modal yang dibutuhkan oleh pabrikan domestik. Kendati demikian, Saleh Husin mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan tidak lantas melonggarkan kewaspadaan terhadap laju belanja luar negeri yang bergerak jauh melampaui kecepatan penjualan produk lokal ke mancanegara.
Bagi wadah pengusaha nasional tersebut, indikator keberhasilan ekonomi tidak sekadar diukur dari seberapa besar lonjakan pasokan bahan baku yang masuk. Tolok ukur yang paling krusial adalah sejauh mana barang impor produktif tersebut sanggup dikonversi menjadi peningkatan daya tampung pabrik, efisiensi kerja, serta keandalan hasil produksi dalam menembus pasar luar negeri.
Peluang emas untuk mendongkrak penjualan internasional Indonesia sejatinya terbuka lebar pada sektor industri pemrosesan yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Sektor-sektor unggulan tersebut mencakup industri makanan-minuman dan pemrosesan hasil pertanian (agroindustri), pengolahan logam beserta peningkatan nilai tambahnya (hilirisasi mineral), perakitan perangkat elektronik dan mesin, hingga industri kendaraan bermotor (otomotif) beserta suku cadangnya.
Di sisi lain, potret berbeda masih membayangi industri yang menyerap banyak tenaga kerja atau padat karya, seperti manufaktur kain dan pakaian (tekstil dan pakaian jadi), pembuatan alas kaki, hingga pengerjaan furnitur. Sektor-sektor ini dilaporkan masih tertatih-tatih dalam menghadapi himpitan beban biaya pemrosesan, tuntutan pembaruan teknologi, hingga sengitnya perebutan pasar internasional.
Guna mengatasi hambatan tersebut, Saleh Husin menegaskan perlunya perubahan haluan strategi perdagangan nasional secara mendasar.
“Fokusnya perlu bergeser dari ekspor berbasis komoditas menuju produk manufaktur dengan nilai tambah dan kandungan domestik yang lebih tinggi,” ujar Saleh Husin.
Pemerintah dipandang perlu mengambil langkah tegas untuk memastikan bahwa setiap pasokan barang produktif dari luar negeri selalu berbanding lurus dengan hadirnya investasi baru, penguatan rantai pasok dalam negeri (domestic supply chain), penjaminan keterjangkauan biaya daya dan pengiriman (energi dan logistik), hingga kepastian aturan hukum dan perluasan wilayah pemasaran.
“Dengan demikian, impor hari ini tidak berhenti sebagai pengeluaran devisa, tetapi menjadi kapasitas produksi dan ekspor Indonesia di masa depan,” pungkas Saleh Husin.
Perjalanan mengawal surplus perdagangan Indonesia memang memerlukan kejelian dalam meramu kebijakan ekonomi. Kini, tantangan terbesar kita bersama adalah mengawal agar setiap bahan baku yang dibeli dengan devisa negara benar-benar mampu terolah menjadi karya industri membanggakan yang siap menguasai etalase perdagangan dunia. (Gdi)





