Harga Beras Melonjak Lima Bulan Beruntun, 155 Daerah Mulai Merasakan Dampaknya

Ilustrasi tanaman padi siap untuk dipanen. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Kepulan asap nasi hangat di meja makan warga kini dibayangi oleh tren kenaikan harga yang tak kunjung mereda. Sejak awal tahun, pangan pokok masyarakat Indonesia ini terus merangkak naik dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda hingga pengujung bulan ketujuh.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa lonjakan harga beras, baik beras kualitas menengah (medium) maupun beras kualitas super (premium), masih terus berlangsung hingga pekan kelima Juli 2026. Tren kenaikan tanpa henti ini bahkan terhitung telah berjalan selama lima bulan berturut-turut.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa grafik pergerakan harga komoditas utama tersebut konsisten menanjak dari bulan ke bulan.

Baca Juga :  Diperkirakan Tarif Cukai Naik 12 Persen Harga Rokok juga ikut

“Sejak bulan Februari sampai dengan minggu kelima Juli, beras selalu mengalami peningkatan harga untuk beras medium dan juga beras premium. Harga beras medium naik 0,50 persen dan beras premium naik 0,52 persen,” ujar Ateng Hartono dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah (koordinasi kemerosotan nilai mata uang) yang dipantau secara daring dari Jakarta.

Secara nasional, rata-rata harga beras kualitas menengah pada pekan kelima Juli 2026 telah menyentuh angka Rp14.489 per kilogram, meningkat jika dibandingkan dengan harga pada Juni 2026 yang sebesar Rp14.417 per kilogram. Sementara itu, beras kualitas super juga mengalami nasib serupa dengan naik menjadi Rp16.330 per kilogram dari sebelumnya Rp16.245 per kilogram.

Baca Juga :  Harga Minyakita Bakal Naik, Pemerintah Hitung Ulang Biaya Produksi

Dampak dari gejolak harga pangan ini tidak lagi terkonsentrasi di beberapa wilayah saja, melainkan terus meluas ke berbagai pelosok tanah air. BPS mencatat bahwa perluasan kenaikan harga beras kini telah menjangkau 155 kabupaten dan kota, bertambah dari pekan sebelumnya yang tercatat sebanyak 152 wilayah.

Ateng Hartono menekankan bahwa penambahan jumlah daerah yang terdampak ini memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak. “Beras semakin mengalami peningkatan jumlah kabupaten dan kota-nya. Di minggu yang lalu ada 152, sekarang 155 kabupaten dan kota,” tutur Ateng.

Dari ratusan daerah terdampak tersebut, Kota Langsa mencatatkan lonjakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) paling tajam di tingkat nasional, yakni mencapai 6,23 persen. Tren peningkatan tajam sekitar lima persen juga membayangi wilayah lain seperti Kabupaten Tambrauw, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Kaur. Sementara itu, kenaikan pada kisaran empat hingga lima persen mengekor di Kabupaten Aceh Barat Daya, Kabupaten Maluku Barat Daya, hingga Kabupaten Serdang Bedagai.

Baca Juga :  Rekor Sejarah! Stok Beras Melimpah, Dapur Bunda Aman Terkendali

Ketika bulir-bulir beras kian bernilai mahal di pasaran, ketahanan ekonomi harian masyarakat kembali diuji. Akankah sinergi pemangku kebijakan mampu meredam gelombang kenaikan harga ini sebelum piring-piring di meja makan terasa kian berat untuk diisi? (Gdi)