Menyemai Kedamaian dan Harmoni Keluarga di Hari Kenaikan Yesus Kristus

Ilustrasi Gereja Katedral. HO-Gereja Katedral

WANITAINDONESIA.CO – Suasana khidmat menyelimuti jantung ibu kota saat ribuan umat Kristiani melangkah perlahan memasuki Gereja Katedral Jakarta untuk merayakan Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus pada Kamis ini.

Di tengah pengamanan ketat kepolisian di ratusan titik rumah ibadah, gereja ikonik ini menjadi saksi betapa nilai-nilai spiritualitas tetap menjadi pilar utama bagi keluarga Indonesia dalam merajut kerukunan. Perayaan tahun ini bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan sebuah ajakan mendalam untuk menghadirkan tindakan nyata yang bermanfaat bagi sesama di lingkungan sekitar.

Untuk memastikan kenyamanan umat yang hadir, pengelola gereja mengatur jalannya ibadah dalam empat sesi waktu yang berbeda. Pastor Rekan Gereja Katedral Jakarta, Yohanes Deodatus, menjelaskan bahwa pembagian sesi ini bertujuan agar umat dapat beribadah dengan lebih khusyuk tanpa harus berdesakan.

Baca Juga :  Memeluk Kedamaian di Bhutan: Perjalanan Jiwa Melintasi Waktu dan Tradisi

“Ada empat kali misa di Gereja Katedral Jakarta, yakni pukul 08.30 WIB, 11.00 WIB, 16.30 WIB, dan 19.00 WIB,” ujar Pastor Yohanes Deodatus saat menjelaskan pengaturan jadwal tersebut.

Berbeda dengan perayaan besar lainnya, kali ini gereja tidak memasang tenda tambahan karena jumlah jemaat telah terdistribusi dengan baik di setiap sesinya.

Antusiasme jemaat terlihat jelas sejak pagi hari, di mana ribuan orang telah memadati area gereja sejak sesi pertama. Pastor Yohanes mencatat sekitar 2.300 umat hadir pada misa pagi hari, dengan rincian 800 orang di dalam ruangan dan sisanya mengikuti ibadah di area luar dengan penuh ketenangan.

Baca Juga :  Memeluk Kedamaian di Bhutan: Perjalanan Jiwa Melintasi Waktu dan Tradisi

Kehadiran keluarga, mulai dari anak-anak hingga lansia, memberikan nuansa hangat yang menunjukkan bahwa nilai keagamaan selalu bermula dari penguatan iman di dalam lingkup terkecil, yaitu rumah tangga.

Semangat kebersamaan ini sejalan dengan pesan yang disampaikan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar. Dia mengajak seluruh umat untuk menjadikan momentum suci ini sebagai pengingat akan pentingnya menjaga persaudaraan lintas batas.

Baca Juga :  Memeluk Kedamaian di Bhutan: Perjalanan Jiwa Melintasi Waktu dan Tradisi

Menag berharap agar nilai-nilai agama tidak berhenti pada ritual semata, melainkan menjelma menjadi aksi kepedulian sosial yang nyata bagi kemajuan bangsa.

“Nilai agama perlu dihadirkan dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi lingkungan. Mari menjaga harmoni, memperkuat persatuan, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia,” ungkap Nasaruddin Umar dalam pesannya yang menggugah.

Perayaan Hari Kenaikan ini pada akhirnya meninggalkan jejak refleksi yang dalam bagi setiap hati yang hadir. Di balik gedung-gedung tinggi Jakarta, terdapat kerinduan yang sama untuk terus menjaga api solidaritas agar tetap menyala. (Gdi)