5 Tip Sukses Bisnis Fashion ‘Modest Wear’ dari FashionValet & The dUCk Group dan kami. – Wanita Indonesia
GAYA HIDUP

5 Tip Sukses Bisnis Fashion ‘Modest Wear’ dari FashionValet & The dUCk Group dan kami.

wanitaindonesia.coPotensi pasar busana muslim sangat besar, baik di Indonesia maupun di Asia pada umumnya. Namun, meski tingkat kompetisinya sangat tinggi, peluang untuk sukses terbuka lebar. Terutama, jika label yang bersangkutan memiliki karakter atau kepribadian yang kuat, yang stand out dari para kompetitor. Entah itu dari sisi material maupun kreativitas desainnya. 

Dari ajang Indonesian Womens Forum (IWF) 2021, di hari kedua yang berlangsung pada Selasa (28/9/2021), beragam masterclass hadir mengupas tip dan trik untuk para wanita wirausaha. Salah satunya, tema How to Create Modest Fashion Brand Personality. Kelas yang dipandu oleh Elfitra Augustin, PR & Communications Endeavor Indonesia ini menghadirkan dua wirausaha fashion terkemuka busana muslim atau modest wear, yakni pemilik label Duck dan Kami Idea, keduanya memiliki pangsa konsumen loyal yang besar. Hadir dalam sesi ini Vivi Yusof, dari label hijab Duck, yang juga pendiri Fashion Valet, portal e-commerce fashion terbesar di Asia Tenggara, dan dua founder Kami Idea, Istafiana Candarini dan Nadya Karina (Karin).

Mengawali bisnis dari tahun 2010, Vivi yang berdomisili di Kuala Lumpur, mengatakan, di Malaysia waktu itu belum ada brand lokal untuk hijab. Ia mengerjakan segala sesuatunya sendiri, dari desain, kontrak, pemotretan, operasional, keuangan, marketing, sampai website. Sedangkan, Kami Idea didirikan oleh Istafiana Candarini, Nadya Karina, dan Afina Candarini pada tahun 2009. Bermula dari produk aksesori, kalung, dan scarf, ketiganya memulai label Kami secara online dari postingan Facebook.


Sesi Masterclass di IWF 2021 dengan topik How to Create Modest Fashion Brand Personality bersama narasumber
Vivi Yusof, Istafiana Candarini dan Nadya Karina dipandu oleh Kelas yang dipandu oleh Elfitra Augustin.

Berikut adalah lima tip sukses bisnis fashion modest wear dari para pembicara masterclass sesi ini:

1. Siapkan perencanaan matang. Perjalanan sehelai hijab sederhana tidaklah sesingkat dan sesimpel yang kita bayangkan. Satu produk bisa melewati tahapan selama setidaknya 10 bulan lamanya. Tahapan yang panjang itu dimulai dari sebuah perencanaan. Semua produksi harus direncanakan 12-24 bulan sebelumnya. Saat ini, misalnya, tim Duck sudah mengerjakan koleksi busana untuk Desember 2022. “Setiap tahunnya kami punya rencana produk. Seteleh ada master plan, baru mulai desain, lanjut masuk ke proses sampling untuk produksi, barulah masuk ke order produksi. Setelah dari produksi, masuk ke warehouse atau inbound. Proses berikutnya adalah QC dan storage. Produk yang sudah jadi itu siap untuk sesi pemotretan dan marketing. Baru bisa launching dan bisa dibeli koleksinya oleh konsumen,” tutur Vivi.

2. Desain. Desain Kami Idea sangat dinamis dengan pilihan warna yang ‘adem’. Dari mana sumber inspirasinya? Kata Karin dan Istafiana, inspirasi bisa datang dari mana-mana. “Kami bisa sangat terinspirasi dengan siluet, pattern, desain arsitektur, warna, dan apa saja di sekitar yang ditemui,” jelas Istafiana. Apa pun yang menarik buat mereka, lalu mereka membuat mood board. Ia menambahkan, “Kami mengutak-atik satu sampel pola. Sekalian pilih bahan yang mau dipakai,” ujar Karin. Sembari membuat sampel, tim Kami Idea juga secara simultan mempersiapkan rencana marketing.

3. Keunikan dan kepribadian label. Menurut Kami Idea, kepribadian label ini sesuai dengan visi yang ingin mereka bawa, yakni menjadi solusi bagi setiap pengguna busana muslim dan peminat fashion modest wear.  “Kami berusaha membawa happiness untuk konsumen,” Karin.

Vivi berpandangan, sebuah label harus punya kepribadian. Itulah kenapa, wirausaha harus bisa menemukan niche atau fokusnya dengan mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing. “Fokus pada apa yang ingin Anda buat, jangan apa yang orang lain sudah buat. Apakah Anda ingin fokus ke basic atau premium, misalnya? Pilih salah satu, lebih penting daripada mau buat semuanya.”

4. Ikut tren atau tidak? Dalam soal tren, Vivi bercerita, di Duck, ia dan timnya mempelajari desain dari tren yang ada di pasar dan keinginan konsumen. “Kenali konsumen Anda. Cek, warna dan  motif seperti apa yang mereka sukai. Sekarang, kita juga bisa googling tren dari internet atau media sosial.” Cara lainnya adalah dengan mempelajari apa yang sedang dikerjakan oleh brand lain yang kita jadikan benchmark, apa yang sedang mereka kerjakan saat ini dan bisa belajar dari mereka.

Di Kami Idea tidak selalu mengikuti tren. “Jika mengikuti tren 100 persen, pasti konsumen juga akan bosan. Kami juga merasa produk kami stuck dari sisi inovasi. Selain ikutin tren, kami harus menghadirkan sesuatu yang baru yang membawa excitement.”

5. Berpartner lebih baik. Bisnis itu berat. Dengan adanya partner, ada yang bisa menemani dan saling menyemangati saat menghadapi masalah. Akan tetapi, kekurangannya, sulit menemukan mitra bisnis yang tepat. Pastikan Anda dan mitra Anda sudah sama visi dan misi. Vivi sendiri bermitra dengan suaminya, Fadzarudin Anuar dalam menjalankan bisnis mereka. Jika ia adalah tipe orang yang ambisius, maka suami bisa menjadi penyeimbangnya yang membuatnya lebih membumi.

“Ajukan dulu pertanyaan-pertanyaan seperti, kenapa ingin berbisnis bersama? Kontribusi apa yang bisa diberikan?” Saran Vivi, ajak pihak lain untuk menjadi moderator yang netral saat mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Vivi menambahkan, ia pernah melakukan hal yang sama saat ia ingin  menjajal bisnis dengan sahabatnya. “Kami berdua sama-sama menangis. Untuk bisnis, ternyata tidak bisa sekadar teman, sekadar senang-senang. Harus cari orang yang bisa melengkapi kelemahan Anda. Orang tersebut harus orang yang Anda enjoy untuk jalan bareng dan Anda menaruk respek padanya,” kata Vivi, yang sekarang membawahi 400 karyawan.

Sedangkan, Karin berpendapat, brand itu seperti anak kita. Kita pasti ingin yang terbaik untuk anak. Untuk itu, menemukan partner yang tepat sama pentingnya dengan bisnis itu sendiri. “Partner adalah orang yang bisa menjadi akselerator sekaligus bisa jadi rem. Kira-kira seperti cari suami. Butuh komitmen jangka panjang biar tidak gampang putus di tengah jalan.(wi)

Menampilkan lebih banyak

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button