< 3 Fakta Mix and Match Vaksin COVID-19 untuk Booster - Wanita Indonesia <
WARTA

3 Fakta Mix and Match Vaksin COVID-19 untuk Booster

wanitaindonesia.coTren mix and match (mencampur dan mencocokan) vaksin COVID-19 untuk booster (suntikan tambahan) atau vaksin dosis ketiga telah berkembang di beberapa negara karena diyakini dapat melawan varian virus COVID-19 dengan lebih efektif.

Tindakan tersebut diperkenalkan oleh negara Prancis dan Jerman bagi penerima dosis pertama vaksin AstraZeneca. Namun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) secara resmi merekomendasikan orang-orang yang akan mendapatkan suntikan booster untuk tetap menggunakan merek vaksin yang sama. CDC mengungkapkan bahwa orang yang sebelumnya menerima dua dosis vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech atau Moderna harus menggunakan vaksin mRNA yang sama pada dosis ketiga. Apabila seri vaksin dengan merek yang sama belum tersedia, sebaiknya menunda dosis berikutnya sampai vaksin dari merek yang sama tersedia.

Meski belum ada data yang cukup untuk menyimpulkan bahwa suntikan booster dapat dicampur dengan aman dari berbagai merek vaksin COVID-19, berikut beberapa fakta dan data yang terus berkembang mengenai tren mix and match vaksin COVID-19.

1/ Mix and match vaksin bukanlah hal baru—tren ini dimulai dari penelitian HIV

Mencampur jenis vaksin yang berbeda dikenal sebagai vaksinasi prime-boost heterolog. Hal ini dimulai pada tahun 1990-an sebagai strategi yang diuji oleh peneliti HIV, menurut Dr Pierre Meulien, direktur eksekutif Innovative Medicines Initiative (IMI), kemitraan industri farmasi UE dan Eropa. Jadi secara ilmiah, hal ini bukan sesuatu yang baru.

Peneliti HIV tahu bahwa vaksin klasik tidak akan menginduksi mekanisme imunologi yang sangat kompleks yang diperlukan untuk perlindungan potensial dari infeksi HIV. Itu sebabnya, mix and match vaksin diperlukan.

Rodolphe Thiébaut, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Bordeaux Prancis, mengatakan gagasan di balik pencampuran vaksin adalah bahwa ‘Anda pada dasarnya mempresentasikan antigen (bagian patogen yang dapat dikenali) ke sistem kekebalan tubuh dengan cara yang berbeda’ yang membantu sistem kekebalan tubuh sehingga mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang antigen dan menyesuaikan responsnya.

2/ Mencampur dosis dapat membantu menghindari kekebalan terhadap vaksin

Karena beberapa vaksin dikirim ke dalam tubuh menggunakan virus yang dimodifikasi, sistem kekebalan dapat menyerang vaksin itu sendiri. Mencampur platform untuk booster dapat mengurangi risiko pengembangan kekebalan terhadap vaksin vektor virus. Tidak berbagaya, namun bisa mengurangi efikasi vaksin.

Untuk menyiasati kemungkinan risiko ini, Pia Dosenovic, asisten profesor imunologi di Karolinska Institutet di Swedia, mengatakan mendapatkan suntikan ketiga atau booster dengan vaksin vektor virus tidak akan optimal. Itu sebabnya, platform vaksin booster diubah ke mRNA atau yang berbasis protein seperti Novavax.

3/ Mencampur vaksin dapat menghasilkan respons yang lebih kuat/tahan lama daripada rejimen vaksin tunggal

Ketika Anda mendapatkan vaksin berbasis vektor virus, pendekatan dosis campuran mungkin tidak hanya menghentikan sistem kekebalan tubuh Anda dari penghambatan efikasi vaksin, tetapi juga memberikan perlindungan yang lebih kuat dan tahan lama.

Melakukan pencampuran vaksin jenis yang berbeda dilakukan untuk melatih sistem kekebalan tubuh lebih efektif dalam menyerang virus penyebab penyakit ketimbang bereaksi terhadap vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh. (wi)

Menampilkan lebih banyak

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button