WanitaIndonesia.co, Jakarta – Rasa sakit sering menjadi inspirasi utama bagi grup musik Wijaya 80 dalam menciptakan karya mereka. Grup yang terdiri dari Ardhito Pramono, Erikson Jayanto, dan Hezky Joe ini memanfaatkan sensitivitas perasaan sebagai sumber inspirasi untuk menghasilkan musik.
Ardhito mengungkapkan kepada kumparan di Cikini, Jakarta Pusat, pada Rabu (9/4), bahwa mereka semua memiliki sifat sensitif dan menggunakan kepekaan tersebut untuk dituangkan dalam lagu-lagu mereka.
Pengalaman cinta yang ditolak hingga hadinya kembali mantan yang toxic dituangkan oleh Ardhito dan rekan-rekannya dalam EP terbaru mereka, Perjumpaan.
Lagu-lagu seperti Terakhir Kali, Pemain Lama, hingga Seharusnya Aku menggambarkan realitas yang dialami anggota Wijaya 80.
Beruntung, lagu-lagu dengan balutan nuansa musik Indonesia era 80-an tersebut mendapatkan sambutan positif dari penggemar setia mereka, Wijayanti/Wijayanto.
“Kami menulis lirik yang mungkin terdengar cheesy, tapi itulah gaya 80-an. Bahwa laki-laki tidak masalah mengungkapkan perasaan seperti ‘di dadaku masih ada kamu’,” jelas Ardhito.
“Banyak yang tanpa sadar merasa terhubung dengan situasi seperti itu,” tambahnya. (imb)





