WANITAINDONESIA.CO – Kabar baik bagi para ibu rumah tangga di awal pekan ini. Setelah melewati tekanan inflasi yang cukup tinggi di pengujung tahun 2025, harga sejumlah komoditas pangan nasional terpantau mulai bergerak turun pada Senin pagi (5/1/2026).
Berdasarkan data terbaru dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), mayoritas harga pangan strategis seperti cabai, bawang, dan beras menunjukkan tren penurunan dibandingkan hari sebelumnya.
Berikut adalah rincian harga konsumen secara nasional per pukul 07.35 WIB:
Komoditas Harga Saat Ini (per kg/lt) Status Perubahan
- Cabai Rawit Merah Rp58.796 Turun Rp2.891
- Cabai Merah Keriting Rp42.607 Turun Rp5.022
- Bawang Merah Rp39.173 Turun Rp5.655
- Beras Premium Rp15.168 Turun Rp343
- Daging Ayam Ras Rp40.953 Turun Rp1.091
- Minyakita Rp17.203 Turun Rp380
- Daging Sapi Murni Rp136.818 Naik Rp845
- Gula Konsumsi Rp18.231 Naik Rp164
Meskipun sebagian besar komoditas turun, beberapa bahan pokok seperti daging sapi, jagung peternak, dan ikan segar (kembung serta tongkol) masih mengalami kenaikan harga yang tipis.
Meskipun hari ini menunjukkan penurunan, masyarakat masih merasakan dampak harga tinggi dari bulan sebelumnya. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa Desember 2025 ditutup dengan inflasi nasional sebesar 0,64% (mtm), yang didominasi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Ada beberapa faktor utama yang dianalisis menjadi penyebab tingginya harga pangan di awal tahun 2026 ini:
- Siklus Musiman & Cuaca Ekstrem:
Januari identik dengan puncak musim hujan di banyak wilayah Indonesia. Curah hujan yang tinggi seringkali merusak tanaman cabai dan menghambat pengeringan bawang merah, sehingga pasokan ke pasar induk berkurang dan memicu lonjakan harga. - Residu Permintaan Libur Natal & Tahun Baru (Nataru):
Permintaan tinggi terhadap daging ayam, telur, dan bensin selama masa libur akhir tahun memberikan tekanan pada sisi suplai. Meski liburan usai, butuh waktu bagi rantai distribusi untuk menyeimbangkan kembali stok dan harga. - Kenaikan Biaya Logistik:
BPS mencatat bahwa bensin dan tarif angkutan memberikan andil inflasi pada akhir 2025. Kenaikan biaya transportasi secara otomatis meningkatkan biaya distribusi pangan dari petani ke konsumen di perkotaan. - Komponen “Volatile Food” yang Belum Stabil:
Komoditas seperti cabai rawit dan telur ayam masuk dalam kategori harga bergejolak. Ketidakpastian jadwal panen di tingkat lokal membuat harga komoditas ini sangat sensitif terhadap perubahan stok harian.
Catatan BPS Terkait Inflasi 2025
Sepanjang Desember 2025, kontributor utama inflasi adalah cabai rawit (0,17%), diikuti daging ayam ras dan bawang merah. Menariknya, emas perhiasan juga ikut menyumbang inflasi sebesar 0,07%, menunjukkan bahwa faktor ekonomi makro dan harga komoditas global juga berperan dalam menekan daya beli masyarakat di awal tahun ini.
Pemerintah melalui Bapanas dan instansi terkait diharapkan terus memantau stok, terutama untuk komoditas yang masih merangkak naik seperti gula dan daging sapi, guna memastikan stabilitas harga di minggu-minggu pertama tahun 2026. (Gdi)





