Versi Terbaik Generasi Kedua Legacy Bisnis Kuliner

Faizal Admodirdjo generasi kedua penerus legacy kelezatan usaha kuliner keluarga Lily Admodirdjo, Passion, Komitmen, Adaptif menjadi dasar keberadaan resto "Kembang Goeyang" di melting hub terbaik Indonesia, Sarinah. Foto: ITN

WANITAINDONESIA.CO — Passion, komitmen, adaptif menjadi kunci bisnis kuliner rintisan yang sedang dijalankan oleh Faizal Admodirdjo agar brand besar milik orang tuanya kian bersinar.

Ini diungkapkan oleh Faizal Admodirdjo, Chairman of the Board ketika menerima Wanitaindonesia.co di restoran Kembang Goeyang, di Sarinah. Resto terbaru yang melengkapi kesuksesan resto Kembang Goela, dan Meradelima.

Bisnis kuliner rintisan di Indonesia lekat akan ketidakberlanjutan. Banyak faktor pemicu, utamanya generasi penerus tak ada yang berminat karena tak memiliki passion. Ada juga yang hanya sekedar meneruskan, tanpa mau tahu bahkan belajar serta memperdalam ilmu, dan iklim bisnis kuliner. Lainnya tertarik karena mengikuti tren.

Hal inilah yang kemudian Wanitaindonesia.co highlight saat sesi wawancara khusus, dengan Faizal Admodirdjo, selaku generasi kedua penerus legacy bisnis kuliner rintisan orang tuanya Lily Admodirdjo.

Menjadi pebisnis kuliner merupakan hal yang di luar ekspektasinya. Waktu menimba ilmu di luar negeri, Ibundanya Lily Admodirdjo berharap anaknya kelak akan memiliki karir hebat. Namun hal itu urung terwujud bukan karena Faizal gagal mendapatkan gelar, namun passion yang menuntun Faizal untuk berkiprah menjadi seorang pebisnis kuliner.

Rasa ingin tahu, juga bangga kerap terbesit melihat tangan cekatan ibunda ketika sedang meracik bahan masakan. Proses memilah serta memilih bahan, menimbang kemudian mengupas. Memotong kemudian menghaluskan lalu mengolah bagaikan sebuah simponi keseharian Faizal kecil.

Lewat keterampilan jemari ibunda, tersaji beragam masakan lezat berselera. Hal ini kemudian menggugah rasa keingintahuannya lebih dalam. Karena dari bahan yang awalnya mentah tak bisa langsung dinikmati seperti aneka sayuran, daging, bumbu serta teknik memasak yang cukup beragam, mampu menghadirkan aneka sajian spesial penambat hati, sekaligus penyemarak pesta di rumahnya.

Suasana kumpul keluarga di jamuan malam Natal serta Tahun Baru kerap terbayang, dan menjadi memori berharga bagi hidupnya. Passion yang didapat dari pengalaman saat kecil juga pengaruh dari ibundanya itu, tak serta-merta menjadi restu orang tuanya.

Ceritanya Lily Admodirdjo terstigma ihwal anggapan masyarakat, tentang anak laki-laki yang gemar memasak. “Tak elok, karena anak lelaki itu kerjanya bukan di dapur. Fokus saja kuliah, dan wujudkan cita-citamu dengan berkarir seperti pria lainnya, “kata Faizal mengulang ihwal larangan ibunda tercinta.

Baca Juga :  7 Makanan yang Mampu Melancarkan Haid dengan Cepat 
Twist dilakukan pada menu Kembang Goeyang dengan reka-rasa sajian dari Kembang Goela, dan Meradelima mengacu ke selera masyarakat. Foto: Wanitaindonesia.co

Kuliner & Passion Penyelamat Pandemi

Walau dianggap tabu oleh keluarga, namun gairahnya di dunia kuliner tak pernah padam. Faizal baru bisa belajar memasak ketika dia harus mandiri saat kuliah di luar.

Semua berawal akan rasa kangen kuliner Nusantara yang biasa diolah ibundanya.
Tumbuh, dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang guyub, kenangan akan suasana santap kerap menyiksa.

Di sana dalam suasana musim dingin yang tak bersahabat, dapur apartemennya terasa lebih hangat. “Waktu itu aku mencoba memasak martabak. Selain ingin memuaskan selera, terpikir untuk memberikan sebuah kebahagiaan kecil kepada mahasiswa rantau, dengan membantu menuntaskan perasaan kangen pada masakan Indonesia.”

“Di zamanku itu, untuk mendapatkan kuliner Indonesia masih terbilang susah. Tidak seperti sekarang, sudah banyak diaspora bahkan warga setempat yang berbisnis kuliner Nusantara.”

“Lewat trial-error, aku berhasil membuat sajian martabak yummy, tak kalah dari olahan mamaku.” Dari dapur kecil serta peralatan seadanya, menguar aroma sedap adonan martabak yang sedang dimasak. Saat disantap bersama teman-temannya, nyata olahan perdana itu terasa spesial di lidah.”

Dari momen epik ini passion-nya semakin bertumbuh. Faizal kerap mencari media untuk mengeksplorasi minatnya. Di sela-sela kesibukan belajar, dia juga aktif mengeksplor kemampuan memasak di berbagai acara, baik yang diselenggarakan oleh kampus maupun KBRI.

Titik balik pengayaan kulinernya terjadi pada saat pandemi. Alert datang dari Lily Admodirdjo yang tak bisa lagi mensuport keuangannya. Alasan umum gegara kondisi ekonomi global. Ketika pulang ke Indonesia, Faizal harus mampu mandiri, terlebih dia telah berkeluarga, dan harus berperan sebagai orang tua yang bertanggung jawab.

Peruntungan-pun dimulai ketika dia memasak Burger. Tak ada yang istimewa karena masyarakat telah mengenal kuliner roti isi ini sejak lama.

Namun burger kreasi Faizal tak boleh dipandang sebelah mata. “Aku memakai pate, isian burger berupa adonan daging cincang yang dibentuk bundar pipih yang diracik istimewa. Ku up-grade memakai bahan-bahan pilihan lewat eksperimen panjang semasa kuliah, “cetus Faizal.

Baca Juga :  Staycation di Sini Ke Mana pun Lebih Mudah dan Cepat Lho!

Ibunda yang mulai melunak serta tak bersikukuh lagi ihwal bias gender profesi memasak, tersentuh setelah mencicipi kreasinya. “Coba saja kamu jual, mama optimis karena cita rasa burger ini sangat spesial, “kata Faizal mengenang ucapan belahan jiwanya itu.

Burger rumahan yang dibanderol dengan harga agak mahal seharga 80 ribu rupiah, ternyata direspon banyak pembeli. Pembeli datang dari lingkup keluarga besarnya, suport datang dari teman-teman serta jamaah gereja. Faizal kerap menjualnya di sela acara maupun setelah peribadatan selesai.

“Aku bersyukur in this economy di masa Covid dahulu, olahanku di gemari orang. Pembeli tak lagi berpikir akan sepotong harga burger rumahan, yang di masa itu menjadi hal yang tak lazim. Tapi soal harga aku pastikan hal itu wajar, karena untuk pate aku menggunakan bahan pilihan.”

“Dengan omset yang lumayan besar, aku percaya Tuhan selalu melihat, mengasihi hamba-Nya yang kreatif, giat berusaha. Hanya dengan berjualan burger Faizal mengaku ekonominya jadi tertolong di masa genting dahulu.”

“Jadi terjawab sudah ya, pertanyaan Wanitaindonesia.co, ihwal generasi kedua yang menjadi penerus bisnis rintisan keluarga, yang sebagian tak memiliki kompetensi untuk meneruskan legacy tersebut, “ucap Faizal.

Seiring waktu Faizal mulai dilimpahkan tanggung jawab sebagai penerus legacy bisnis kuliner keluarganya. Bertanggung jawab sebagai Chairman of the Board untuk lini usaha kuliner orang tuanya, ia terlihat sangat bergairah untuk melanjutkan legacy mulia teristimewa lewat brand baru Kembang Goeyang. Resto yang mengusung konsep menu peranakan kasual harus menjadi melting pot terdepan di area Sarinah, juga di kancah industri kuliner Nusantara di Indonesia.

Ada tiga alasan Coffee Lovers memilih “Kembang Goeyang”, racikan kopinya nan khas, ragam pilihan dessert serta ambience homey edgy. Foto: Wanitaindonesia.co

Selaksa Rasa di Kembang Goeyang

Kembang Goeyang terinspirasi dari resto terbaik ibunda yakni Kembang Goela yang menyajikan kuliner Nusantara, dan Meradelima lekat dengan sajian kuliner peranakan otentik.

Nama Kembang Goeyang diambil dari hiasan kepala wanita etnis Betawi, yang kental dengan akulturasi dari budaya Cina. Juga hadir lewat varian snack goreng nan crunchy “Kembang Goeyang”. “Sebagian dari pembaca Wanitaindonesia.copasti ingatkan?

Baca Juga :  Swiss-Belresidences Rasuna Epicentrum Menawarkan Promo Lunch Buffet Rp. 99.000

“Walau lekat dengan DNA Meradelima, konsep Kembang Goeyang aku buat lebih kasual, bewarna tapi tak terlalu berteriak. Kami membidik semua sekmen pengunjung, “jelas Faizal sembari menyajikan segelas minuman hangat Minuman Asam Jawa untuk Wanitaindonesia.co

Waktu meneguk Air Asam Jawa, Wanitaindonesia.co takjub dengan rasa minuman. Hadir harmonisasi dari rasa asam serta manis yang pas.

Faizal menceritakan, olahan yang tersaji di Kembang Goeyang merupakan kekuatan kolaborasi antara anak, dan ibu serta dibantu oleh tim kreatif ketika memilah kemudian memilih, hingga terkumpul ratusan menu yang dikelompokkan sesuai dengan waktu penyajian.

Menu sarapan, makan siang hingga makan malam dipilih serta dikelompokan dengan sangat teliti. Kesemuanya dijeda dengan snacking agar pengunjung bisa tetap bersantai di sepanjang waktu makan.

Walau untuk seluruh sekmen pengunjung, Faizal tetap memiliki konsen tinggi terhadap populasi serta minat Gen-Z, dan Milenial. “Saya percaya, yakin kuliner kita di tangan kreator mumpuni mampu memikat selera mereka.”

Faizal menambakan, “Saya banyak melihat di berbagai spot kuliner, nyata Gen-Z serta Milenial banyak yang menyukai kuliner Nusantara. Asal dibuat menarik tak lagi ribet seperti kuliner aslinya.”

“Coba saja Anda kunjungi resto Manado banyak terlihat generasi muda yang kalap di sana. Sebagian kuliner di Blok M sebagian didominasi kuliner lokal yang telah di up-grade kekinian, “jelasnya.

“Kekuatan lain Kembang Goeyang tersaji sebagai menu personal bukan sharing, menyelaraskan dengan kegemaran Gen-Z. Rahasia kelezatan rasa, hadir twist dari pemakaian bumbu kuliner di Kembang Goela, dan Meradelima, menyelaraskan dengan lidah masyarakat.”

“Berharap dengan keberadaan Kembang Goeyang di melting hub terbaik Jakarta yakni Sarinah, dapat memperkuat brand kami serta menambah pengayaan ihwal kuliner peranakan Nusantara yang menjadi destinasi terbaik F&B di Indonesia.”

“Saya beserta manajemen tentunya sangat mengapresiasi niat baik manajemen Sarinah, yang telah memberi kesempatan bagi kami hadir di sini. Kami hadir dengan membawa sebuah legacy kelezatan cita rasa dari garis keturunan keluarga Admodirdjo, “pungkas Faizal Admodirdjo. (*)