
WANITAINDONESIA.CO – Memadukan dimensi religi, arsitektur sejarah, dan sosial Gereja Katolik Puhsarang menjadi obyek pariwisata religi, dan budaya terdepan di Jawa Timur.
Suasana pemandangan alam nan asri, jauh dari hiruk-pikuk kebisingan hidup manusia. Senandung alam ditingkahi oleh merdunya kidung yang dilantunkan dalam kelembutan, menghadirkan suasana nyaman.
Gereja berarsitektur Majapahit yang berlokasi di kaki gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur menawarkan kedamaian nan hakiki.
Lebih dari sekedar destinasi religi, Gereja Puhsarang menjadi sebuah perjalanan bernilai menyelami nilai-nilai spiritual, dan budaya Jawa yang hidup berdampingan. Kediri mumpuni menyuguhkan wajahnya yang paling hangat, hening, ramah, serta penuh makna.
Gereja Puhsarang memiliki magnet lintas keyakinan, layaknya rumah peribadatan agama lainnya, dikarenakan lekat dengan pikat pesona.
Melting pot khususnya di sejumlah momen penting perayaan Natal, Paskah, liburan tahun baru, dan malam Jum’at Legi. Puhsarang terasa lebih hidup, dan penuh makna dengan toleransi pengunjung dari berbagai daerah di Indonesia.
Berada di sebuah kompleks luas, lekat dengan sejarah, arsitektur unik, serta peran sosial yang membuatnya menjadi salah satu destinasi religi budaya paling menarik di Jawa Timur.
Keberadaan Gereja Puhsarang tentunya tak lepas dari andil seorang Romo Wolterus Westerbeek, SJ sang arsitek. Beliau pastor yang merupakan imam Jesuit dengan minat khusus pada seni arsitektur, dan budaya Jawa.
Nyala arsitektur Majapahit yang lekat dengan budaya Nusantara terasa kental dari penggunaan bata merah, punden berundak, dan struktur menyerupai bangunan Candi Jawa. Bangunan tak menjulang melainkan menyatu dengan tanah, dan lanskap sekitarnya.
Elemen-elemen ini bukan sekadar estetika, tetapi simbol inkulturasi iman Katolik dengan budaya lokal.
Romo Wolterus Westerbeek sosok manusia unggul, dan penuh kasih menghadirkan filosofi lewat bangunan gereja, yang dibuat lebih rendah dari permukaan tanah sekitarnya. Merupakan perlambang akan kerendahan hati, dan kedekatan manusia dengan Sang Pencipta. Konsep ini berasal dari filosofi Jawa.

Ragam Destinasi di Sebuah Kompleks
Berbeda dari perkiraan kebanyakan orang awam, meski memegang nama Gereja Puhsarang, namun tempat ini bukan berbentuk satu bangunan saja. Faktanya, Puhsarang adalah kompleks yang luas, terdiri dari berbagai titik penting, seperti Gereja Tua Puhsarang, Gua Maria Lourdes, Plaza Santa Maria, Jalan Salib Bukit Golgota, Pondok Rosario Nazareth, hingga Pasar Rosario yang merupakan UMKM warga setempat.
Kompleks yang menyajikan pengalaman beragam bagi pengunjung, mulai dari spiritual sederhana seperti berdoa, berjalan santai, hingga menikmati budaya yang begitu dekat dengan bangunan Jawa modern.
Salah satu area yang paling terkenal dari Puhsarang, yaitu Gua Maria Lourdes. Ini merupakan tempat devosi utama umat Katolik. Gua yang terinspirasi oleh Gua Maria Lourdes di Prancis menjadi ruang doa, dan permohonan yang tenang, dan tertata rapi.
Pengunjung tidak hanya datang dari kalangan Katolik. Banyak wisatawan umum yang juga menghampiri, dan menikmati syahdunya Gua Maria yang berdiri anggun di sisi barat dari bangunan utama Gereja Puhsarang itu.
Destinasi lain berupa Jalan Salib Bukit Golgota.
Ini bukan jalan yang berat, dan melelahkan seperti yang dibayangkan, karena dirancang mengikuti kontur alami bukit, dengan jalur yang relatif landai.
Lokasinya berada di tengah komplek Puhsarang yang rindang dan sejuk. Setiap langkah menghadirkan refleksi, dan ketenangan untuk keluarga, termasuk anak-anak, dan lansia.
Layaknya sebuah destinasi wisata religi, pasar menjadi magnet tersendiri, hadir Pasar Rosario yang letaknya berada dalam kompleks Puhsarang. Aneka jajanan tradisional, jamu, kopi lokal, kerajinan tangan, hingga suvenir rohani buatan UMKM setempat yang telah terkurasi siap memuaskan hasrat berbelanja Anda.
Dekat dari Bandara
Saat ini perjalanan ke Puhsarang semakin mudah. Dari Dhoho International Airport di Kediri, kemudian dilanjutkan perjalanan darat sekitar 30 menit menuju kompleks Puhsarang. Akses yang praktis ini menjadikan Puhsarang pilihan ideal untuk liburan religi, dan keluarga.
Llebih dari sekadar tempat ibadah, fakta terpenting dari Gereja Puhsarang adalah perannya sebagai ruang perjumpaan antara iman dan budaya, antara pengunjung, dan warga, serta antara ketenangan, dan kebersamaan. Di sinilah banyak orang memilih melambat, berbincang, dan menikmati momen sederhana bersama keluarga.
Lebih dari destinasi religi, Gereja Puhsarang merupakan sebuah perjalanan menyusuri nilai-nilai spiritual, dan budaya Jawa yang hidup berdampingan. Di sinilah Kediri menyuguhkan wajahnya yang paling hangat, hening, ramah, dan penuh makna. (*)




