Teknologi Biomedis Berkembang Pesat, Kini Diarahkan untuk Mengamati Kesehatan Manusia

Dokter Spesialis dan Peneliti RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran UI, Amanda Tiksnadi (kanan atas) saat webinar seputar Teknologi Biomedis yang diselenggarakan Grup Riset Bio Mekatronika, PRMC BRIN. (Foto: Dok BRIN)

WANITAINDONESIA.CO – Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan riset di bidang teknologi biomedis dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk teknologi dan kedokteran. Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung pemahaman terhadap kondisi kesehatan manusia.

Kepala PRMC BRIN, Yanuandri Putrasari, mengatakan perkembangan teknologi biomedis tidak hanya menghasilkan perangkat kesehatan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menganalisis dan mengamati kondisi kesehatan manusia.

“Perkembangan teknologi biomedis sangat pesat. Jadi teknologi biomedis tidak hanya menciptakan alat, tetapi juga menjadi sarana untuk menganalisis, kemudian mengamati kondisi kesehatan manusia,” kata Yanuandri saat webinar bertajuk “Inovasi Teknologi Biomedis untuk Memahami dan Meningkatkan Kualitas Kesehatan Manusia” yang diselenggarakan Grup Riset Bio Mekatronika, PRMC BRIN, dikutip Sabtu (3/10/2026).

Baca Juga :  Memanfaatkan Budaya Lokal untuk Membangun Ekosistem AI yang Berkelanjutan di Indonesia

Dia menjelaskan, kolaborasi berbagai bidang keilmuan, seperti engineering, kedokteran, dan bidang lainnya, penting dalam pengembangan teknologi biomedis. Melalui kolaborasi tersebut, hasil riset diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi inovasi yang memberikan manfaat dalam bidang kesehatan.

Salah satu topik yang dibahas adalah pemanfaatan teknologi untuk gait analysis atau analisis gerak.

Dosen dan Peneliti Universitas Gadjah Mada, Ridwan Wicaksono, mengatakan hasil analisis gerak dapat dimanfaatkan untuk mendukung terapi, teknologi asistif, hingga sports science.

Baca Juga :  Cinta Laura Rawat Dinding Lewat Teknologi Efek Daun Talas

Ia menjelaskan, penerapan gait analysis mencakup sejumlah tahapan, mulai dari pengumpulan data, pre-processing, dan integrasi hingga implementasi hasil analisis.

Selain analisis gerak, pengembangan teknologi kesehatan juga perlu mempertimbangkan proses perawatan secara menyeluruh.

Dosen dan Peneliti Institut Teknologi Bandung, Allya Paramita Koesoema, menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan pengguna dalam pengembangan teknologi kesehatan.

“Teknologi kesehatan perlu dirancang untuk seluruh siklus perawatan, bukan untuk satu titik saja,” jelas Allya.

Ia menambahkan, pengembangan alat kesehatan perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari pengguna, tenaga kesehatan, fasilitas layanan, pembiayaan, regulator, hingga industri. Menurut Allya, berbagai aspek tersebut perlu diperhatikan agar teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Baca Juga :  Penggunaan IFP Lahirkan Inovasi Pembelajaran di Ruang Kelas

Aspek lain dalam pengembangan teknologi biomedis adalah pemanfaatannya untuk memahami aktivitas otak dan intensi gerak.

Dokter Spesialis dan Peneliti RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Amanda Tiksnadi, membahas pendekatan electroencephalography (EEG), motor imagery, dan brain-computer interface (BCI) untuk tujuan tersebut.

“Kita tidak lagi hanya melihat tubuh yang diam. Melalui EEG, MU/Beta rhythms, dan Machine Learning, kita menangkap intensi yang terperangkap,” kata Amanda menambahkan. (Yud)