WANITAINDONESIA.CO – Tekanan ekonomi yang berkepanjangan tidak membuat konsumen sepenuhnya menahan pengeluaran. Survei Inventure–Alvara 2025 yang melibatkan 589 responden menunjukkan bahwa 61% konsumen bersedia mengurangi belanja kebutuhan pokok demi membeli produk baru atau premium yang sedang viral, sementara 39% lainnya memilih tetap pada prioritas dasar.
Temuan ini menggambarkan realitas baru di tengah kondisi dormant economy. Meski situasi ekonomi belum pulih, konsumen tetap mencari ruang untuk memenuhi kebutuhan emosional, sosial, dan aspiratif. Produk viral dinilai menawarkan nilai lebih, baik dari sisi kualitas, pengalaman, maupun status sosial yang diperoleh melalui keterhubungan di ruang digital.
Managing Partner Inventure, Yuswohady, menjelaskan bahwa perubahan perilaku ini menunjukkan semakin matangnya logika frugal consumer.
“Frugal consumer tidak sekadar mengencangkan ikat pinggang. Mereka merelokasi anggaran ke kategori yang memberi reward emosional dan sosial. Kebutuhan pokok bisa ditunda, tetapi kebutuhan untuk tetap merasa relevan dan up-to-date justru dianggap lebih meaningful,” ujarnya.
Pergeseran ini menjadi sinyal penting bagi industri retail. Kategori kebutuhan pokok tak lagi menjadi ‘pembelian default’, sementara produk-produk lifestyle, premium, dan viral-driven justru memiliki daya tarik tinggi meski ekonomi masih menekan.
Di tengah ketidakpastian, konsumen tetap berhemat, tetapi berhemat secara selektif. Mereka menekan pengeluaran rutin yang dianggap kurang berarti, namun tetap mengalokasikan dana untuk hal yang memberi rasa berdaya, relevan, dan terkoneksi. Fenomena ini diprediksi akan terus membentuk arah perilaku belanja masyarakat di tahun-tahun mendatang. (dar)

