Solusi Canggih Bebas Sayatan Dada Bagi Penderita Kebocoran Katup Jantung di Bali

Tenaga medis melakukan operasi Mitral Transcatheter Edge-to-Edge Repair (M-TEER). SCVC Bali

WANITAINDONESIA.CO – Dada yang sesak dan kaki yang membengkak kerap disalahartikan sebagai efek kelelahan atau sekadar tanda penuaan semata. Padahal, gejala tersebut bisa menjadi alarm bahaya dari jantung yang diam-diam mengalami kebocoran katup mitral (mitral regurgitation) dan memerlukan penanganan medis segera.

Kabar baik berhembus dari dunia kedokteran tanah air. Sapporo Cardio Vascular Clinic (SCVC Bali) berhasil mencatatkan sejarah baru dengan melaksanakan tindakan perbaikan tepi ke tepi katup mitral melalui kateter (Mitral Transcatheter Edge-to-Edge Repair/M-TEER) pertama di Bali. Metode inovatif ini menjadi opsi penyelamat bagi pasien yang membutuhkan penanganan katup jantung tanpa perlu menjalani prosedur bedah terbuka.

Baca Juga :  Menyambut Tahun Baru yang Penuh Keberuntungan dan Menikmati Momen Kebersamaan di The Ritz-Carlton, Bali

Konsultan Intervensi Jantung SCVC Bali, I Dewa Gde Dwi Sumajaya, menjelaskan bahwa prosedur minimal invasif ini dilakukan dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di area pangkal paha menuju jantung. Pendekatan ini sangat berbeda dari operasi tradisional yang mengharuskan pemotongan tulang dada. Melalui perangkat khusus, tim medis melakukan penataan bagian daun katup yang bocor agar aliran darah tidak kembali membalik ke ruang jantung.

Keunggulan metode ini dibuktikan langsung pada penanganan pasien pria berusia 68 tahun yang mengidap kebocoran katup mitral berat akibat proses penurunan fungsi organ (degeneratif). Pasien yang sebelumnya menunjukkan gejala gagal jantung tersebut berhasil ditangani hanya dalam waktu kurang dari 2 jam. Dengan bantuan pemantauan gelombang suara jantung melalui kerongkongan (ekokardiografi transesofageal) secara langsung (real time), penjepitan katup berlangsung sangat presisi sehingga masa pemulihan pasien berjalan jauh lebih cepat.

Baca Juga :  Begini Solusi OJK Agar Bank Berikan Kredit Ke UMKM

Prosedur medis bersejarah ini juga melibatkan pertukaran ilmu tingkat internasional. I Dewa Gde Dwi Sumajaya menyampaikan bahwa kolaborasi dengan tim internasional memberikan kesempatan bagi para dokter untuk menggabungkan pengalaman serta keahlian dalam menangani kasus kompleks, sekaligus memperkuat pemindahan pengetahuan (transfer knowledge) kepada tim medis di Indonesia.

Namun, tantangan terbesar saat ini terletak pada tingkat kesadaran (awareness) masyarakat yang masih rendah terhadap bahaya penyakit katup jantung. I Dewa Gde Dwi Sumajaya mengingatkan bahwa kebocoran katup kerap berkembang tanpa disadari. Tubuh yang mudah lelah, sesak napas saat beraktivitas, hingga pembengkakan pada area kaki merupakan sinyal penting agar seseorang segera melakukan pemeriksaan medis mendalam.

Baca Juga :  MĀUA Olea Ubud by Swiss-Belhotel Resmi Dibuka di Bali, Memadukan Semangat Māori dan Budaya Bali

Kini, harapan hidup yang lebih baik dan proses pemulihan yang minim rasa sakit bukan lagi sekadar impian. Mengingat jantung adalah poros utama kehidupan, mendengarkan setiap sinyal kecil dari tubuh dan mengambil langkah penanganan modern sejak dini merupakan keputusan terbaik untuk menjaga kualitas kesehatan. (Gdi)