Sisi Lain Pinjaman Daring yang Jarang Tersorot Kamera

Ilustrasi pindar. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Narasi negatif mengenai pinjaman daring atau pindar kerap mewarnai ruang publik akhir-akhir ini. Namun, di balik riuhnya kabar miring tersebut, tersimpan kisah jutaan senyap dari para peminjam yang berhasil mengubah nasib berkat modal cepat. Industri ini sejatinya telah menjadi jembatan keuangan bagi masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses ke perbankan formal.

Data industri mencatat akumulasi penyaluran pinjaman kini telah melampaui Rp1.388 triliun dengan 169 juta borrower (peminjam) aktif. Menariknya, sekitar 38 hingga 40 persen di antaranya merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang baru pertama kali mendapat modal. Lebih dari 90 persen dari mereka juga terbukti taat melunasi pinjaman tepat waktu sesuai perjanjian.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH), Firlie Ganinduto, mengungkapkan adanya ketidakseimbangan informasi yang perlu diluruskan kepada masyarakat luas. Jutaan kisah sukses peminjam yang berhasil mengembangkan usaha atau menyelesaikan kebutuhan mendesak justru jarang menjadi sorotan.

“Pindar adalah jembatan bagi jutaan orang tersebut, yang selama ini tidak punya rekam jejak perbankan dan kini bisa mendapatkan modal untuk tumbuh. Mereka yang meminjam untuk beli stok dagangan, bayar biaya sekolah anak, atau tambal modal saat arus kas seret dan kemudian melunasi pinjamannya tanpa masalah. Cerita mereka juga bagian dari realitas industri ini,” kata Firlie Ganinduto.

AFTECH kini menaungi sembilan penyelenggara pindar resmi di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yaitu Easycash, Samir, AdaKami, Amartha, Julo, Indosaku, PinjamDuit, LumbungDana, dan Danai. Asosiasi ini berkomitmen memastikan seluruh anggotanya menerapkan standar tata kelola ketat dan transparansi biaya sejak awal.

Dampak nyata di lapangan juga dirasakan langsung oleh para pelaku industri. Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menyaksikan sendiri bagaimana layanan digital ini mampu mengubah perilaku ekonomi penggunanya dari waktu ke waktu menuju arah yang lebih mapan.

“Yang kami lihat adalah bagaimana seorang borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya beberapa karyawan dan mulai masuk ke ekosistem perbankan formal. Pindar bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, kami adalah titik masuknya,” ujar Nucky Poedjiardjo.

Sementara itu, ekspansi ke segmen produktif di luar Pulau Jawa juga membawa angin segar bagi perputaran ekonomi daerah. Akses modal digital terbukti memberikan efek domino yang positif bagi ekosistem di sekitar wilayah para peminjam.

Direktur PT Sahabat Mikro Fintek (Samir), Yonathan Gautama, menjelaskan bahwa kepercayaan berupa modal awal bagi masyarakat yang sebelumnya dianggap tidak layak oleh perbankan konvensional memberikan dampak psikologis dan ekonomi yang sangat kuat.

“Kami mencatat bahwa dampak pinjaman produktif tidak berhenti pada penerima langsung, tetapi menjalar ke rantai ekonomi di sekitarnya: tenaga kerja yang terserap, pemasok lokal yang ikut tumbuh, dan perputaran uang yang semakin aktif di tingkat komunitas,” ungkap Yonathan Gautama.

Kehadiran teknologi keuangan digital sejatinya membuka mata kita bahwa inovasi yang bertanggung jawab mampu memberikan kesempatan kedua bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat bawah. Menatap pindar secara objektif membantu kita melihat peluang besar dalam menggerakkan roda perekonomian yang lebih inklusif dan merata di seluruh pelosok negeri. Rasa percaya dan pemanfaatan yang bijak tentu menjadi kunci utama kesuksesan bersama. (Gdi)