Siasat Kementerian Ekraf Dorong Industri Gim Lokal Mendunia

Video gim menjadi alternatif mendongkrak ekonomi kreatif di Indonesia. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Dunia digital Indonesia saat ini tidak pernah sepi dari jemari yang lincah menari di atas layar ponsel pintar maupun papan tik komputer. Di balik riuhnya ketukan tombol tersebut, tersimpan potensi ekonomi digital yang luar biasa besar. Indonesia kini tercatat memiliki lebih dari dua ratus juta pemain gim (gamer) aktif, sebuah angka fantastis yang menempatkan tanah air sebagai salah satu basis pemain video gim terbanyak di dunia. Sayangnya, meski masyarakat rela merogoh kocek hingga miliaran rupiah setiap harinya untuk bertransaksi digital di dalam aplikasi, kue manis industri ini ternyata belum banyak dinikmati oleh para kreator dalam negeri.

Melihat ketimpangan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam dan langsung memasang target baru untuk memperkuat taji para pengembang lokal. Langkah strategis ini diharapkan mampu mendongkrak nilai ekonomi makro dari karya-karya anak bangsa secara signifikan. Targetnya, valuasi pasar yang dihasilkan oleh para kreator domestik dapat merangkak naik secara konsisten.

Baca Juga :  Kementerian UMKM Dukung Pengembangan Usaha Tempe

Arah kebijakan ini ditegaskan oleh Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif, Luat Sihombing, saat ditemui di Jakarta. Beliau mengungkapkan bahwa pemerintah menaruh harapan besar pada peningkatan produktivitas para pengembang di dalam negeri agar mampu bersaing, baik di pasar domestik maupun pasar internasional.

“Kita juga berharap bahwa nilai yang dihasilkan (generate) oleh para pengembang (developer) lokal kita nantinya adalah baik di konsumsi domestik (domestic consumption) maupun mereka ekspor, ya bisa kita ambil bertambah empat persen dari yang mereka hasilkan (generate) di tahun sebelumnya,” ujar Luat Sihombing dengan nada optimis.

Tantangan yang dihadapi industri kreatif ini memang tergolong berliku. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pada tahun lalu, valuasi pasar gim di Indonesia sebenarnya berada di angka yang sangat menggiurkan, yakni berkisar dua miliar dolar AS atau menembus angka tiga puluh empat triliun rupiah. Namun ironisnya, pangsa pasar (market share) yang berhasil dikuasai oleh pengembang independen (indie) lokal saat ini baru berkisar antara nol koma tujuh belas hingga nol koma tiga puluh empat persen saja di kancah nasional. Lebih memprihatinkan lagi, dari total nilai pasar nasional yang berputar, pengembang lokal secara keseluruhan baru bisa menikmati sekitar dua koma lima persennya saja.

Baca Juga :  Inovasi Daur Ulang Sampah Plastik BRI Dapat Dukungan Menteri UMKM dan Raffi Ahmad

Faktor lain yang membuat ekosistem ini belum berlari kencang adalah urusan modal dan pencatatan administratif negara. Sejauh ini, produk digital seperti gim belum terhitung secara resmi ke dalam kontribusi keuangan negara, sehingga porsi ekspornya belum terlihat sebagai penyumbang pendapatan negara yang tinggi. Selain itu, arus modal yang masuk ke sektor ini masih memiliki karakteristik yang unik. Arus investasi yang mengalir di sektor gim dinilai belum terlalu besar karena para investor cenderung lebih aktif menanamkan modalnya pada proyek gim tertentu yang sedang digarap, bukan berinvestasi langsung pada kepemilikan perusahaan gim itu sendiri.

Baca Juga :  Ancol Sambut 131 Peserta Magang Program MagangHub Kemnaker 2025–2026

Guna mendobrak barikade hambatan tersebut, Kementerian Ekonomi Kreatif kini menggandeng Coda, sebuah platform monetisasi konten, untuk membuka jalan baru bagi para kreator lokal. Melalui kolaborasi ini, pemerintah ingin memanfaatkan infrastruktur digital yang dihadirkan oleh Coda sebagai batu loncatan untuk menumbuhkan bisnis domestik. Sarana ini diharapkan dapat mempermudah para penyedia konten dalam membidik pasar Indonesia secara tepat sasaran, sekaligus mengerek nilai ekspor produk gim ke luar negeri.

Langkah ini menjadi angin segar yang membuktikan bahwa gim buatan Indonesia bukan lagi sekadar hiburan pengisi waktu luang, melainkan sebuah komoditas ekonomi masa depan yang menjanjikan. Kini, saatnya kita memberikan ruang lebih besar dan dukungan penuh bagi karya-karya lokal untuk merajai layarnya sendiri, sekaligus bersiap menyaksikan bendera Indonesia berkibar tinggi di panggung industri gim global. (Gdi)