Saya Seorang Disleksia, Dibully Karena Alami Gangguan Membaca dan Menulis - Wanita Indonesia
PARENTING

Saya Seorang Disleksia, Dibully Karena Alami Gangguan Membaca dan Menulis

wanitaindonesia.co Saya mengalami gangguan dalam membaca dan menulis, karena saya adalah seorang disleksia. Saya sering dibully dan dilecehkan karena kondisi ini

Saya adalah anak yang dulu mengalami disleksia. Saya mengalami gangguan tak bisa membaca dan menulis, saya sering dimarahi dan dibully karena kondisi ini.

Hingga kelas 2 SD saya hanya bisa membuat garis lurus. Ketika diminta guru untuk membuka bab, halaman, dan poin untuk dibaca, rasanya kepala saya langsung pusing tujuh keliling. Itu karena disleksia yang saya derita.

Karena kondisi itu, saya jadi sering ditegur gara-gara menulis acak-acakan dan tidak konsisten. Memang sulit sekali mengenal mana yang “b”, mana yang “d”, atau “R” dan “S” dan beberapa huruf lainnya. Itulah yang terjadi pada saya, tidak mampu membaca dan memahami kata sesuai dengan standar pendidikan yang ditetapkan di sekolah

Pada kenaikan kelas satu dan dua, saya memiliki nilai dan rangking yang buruk. Bapak saya pun selalu mengancam, kalau saya tidak naik kelas, saya akan dibelikan kambing dan saya harus pelihara kambing itu.

Oleh teman-teman, saya juga dianggap bodoh, begitu juga dengan penilaian guru saya. Karena kekurangan saya ini, akhirnya saya sering sekali di bully. Pada akhirnya saya memilih untuk sedikit menjauh dari banyak teman sebaya. Kondisi keterbatasan mengenali huruf dan kata yang saya alami itulah yang kini sering disebut disleksia.

Akhirnya pada saat menginjak kelas 3, karena ketertekanan itu dan keharusan beradaptasi dengan kondisi lingkungan, saya berusaha menemukan metode belajar saya sendiri. Pada akhirnya saya mulai bisa belajar secara perlahan mengenai baca dan tulis, meskipun setelahnya tetap saja akan muncul banyak hambatan ketika membaca dan menulis.

Padahal membaca dan menulis adalah modal penting dalam menjalani hidup. Hampir setiap lini kehidupan kita pasti akan sangat bergantung pada aktivitas ini. Oleh karena itu, di sekolah-sekolah dasar, kemampuan membaca serta menulis adalah pokok pelajaran yang pertama kali diajarkan dan harus dikuasai oleh setiap murid. Namun, bagaimana kalau diantara begitu banyak murid, ada satu saja murid yang punya keterbatasan mengenali huruf dan kata seperti saya?

Namun, di tahap-tahap berikutnya, saya cukup beruntung, karena dengan usaha keras, akhirnya saya mampu sedikit beradaptasi. Nyatanya banyak anak disleksia lain bahkan tak tertolong. Seperti saya, anak-anak disleksia kerap mendapatkan stereotipe negatif sebagai anak bodoh dan pemalas dari lingkungannya. Karena telah lelah dengan stereotipe ini, akhirnya anak-anak disleksia itu melampiaskannya dengan bersikap nakal dan membantah.

Lebih mudah bagi anak-anak disleksia mengatakan bahwa “aku tak mau”, ketimbang “aku tak bisa” kepada orang lain, terutama orang tuanya sendiri. Apalagi jika orang-orang di sekelilingnya memandang kehidupan sebagai perlombaan. Bukan hanya anak-anak ini terus dipacu dengan serentetan penilaian negatif, tetapi sengaja dikurung dengan berbagai beban seperti harus belajar ini dan itu yang sebenarnya tidak mereka kuasai. Ujungnya anak akan mengalami depresi dan stress akibat tekanan.

Anak-anak dengan disleksia sebenarnya adalah gifted children atau anak cerdas istimewa. Meskipun memiliki kekurangan dalam mengenali huruf dan kata, kami terkadang punya kelebihan lain. Contohnya dalam film asal India berjudul Taare Zameen Par yang dibintangi oleh Amir Khan, ada tokoh anak bernama Ishaan Awaasthi yang memiliki daya imajinasi yang hebat. Dia mampu mengekspresikan imajinasinya dengan menggambar. Hal yang sama pula terjadi pada tokoh Leonardo Da Vinci. Kalau ditanya, “berarti anak disleksia tidak akan mampu menulis dan membaca seumur hidupnya? Bisakah dia sukses tanpa bisa membaca dan menulis?.”

Meskipun sulit, saya sendiri akhirnya bisa beradaptasi dengan keadaan tersebut. Akhirnya saya banyak belajar dan bisa menulis panjang seperti yang kamu baca, dan saya juga bisa kuliah.

Ada juga kisah sukses seorang disleksia yang menjadi penulis terkenal, yaitu Agatha Christie. Dia menjadi penulis maestro kisah misteri dan mendapatkan penghargaan di tingkat dunia.

Menyambung ke jawaban kedua, saya yakin standar sukses yang dimiliki tiap orang berbeda-beda dan saya yakin setiap anak akan mencapai titik puncaknya. Memastikan pendampingan anak-anak dyselexia hingga menjadi sukses itulah tugas bagi orang tuanya dan lingkungannya. Anak-anak disleksia yang hebat bisa semakin terpuruk karena mereka kurang perhatian orang terdekat yaitu orang tuanya sendiri.

Yang mereka lawan adalah sistem global yang mengharuskan setiap orang bisa membaca dan menulis. Bagaimana bisa anak berusia 9 atau 10 tahun kamu biarkan sendirian melawan sistem hegemonik itu?

Maka dari itu, peran orang tua amatlah penting. Kasih sayang dan perhatian adalah kunci dari perkembangan setiap anak disleksia. Orang tua harus mau repot menghadapi anaknya yang ternyata disleksia. Ingat, anak disleksia tetaplah anak yang sama dengan anak yang lain, dan sesuai amanat Undang-undang mereka berhak mendapatkan pendidikan juga. Oleh karena itu lembaga pendidikan harus mulai peka terhadap kondisi tiap anak.

Menurut data yang diungkap Riyani T Bondan dalam nasional.kompas.com (2/12/2014), anak dyselexia di Indonesia jumlahnya sekitar 10 hingga 15 persen. Dan belakang ini pengetahuan orang tua mengenai keadaan anak-anaknya yang disleksia sepertinya mulai ada titik terang. Meskipun begitu, saya masih merasa was-was karena banyak orang tua yang tidak mengetahuinya dan masih banyak lagi anak-anak ditekan oleh ketidaktahuan yang merajalela mengenai mereka.

Bukankah jadi kerugian bagi negara juga jika anak-anak dengan bakat yang luar biasa mesti terpuruk dan hancur di tangan sistem dan stereotipe negatif?

Menampilkan lebih banyak

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button