WANITAINDONESIA.CO – Siswa berbaris rapi menanti giliran mengambil makanan bakal menjadi pemandangan apabila program Makan Bergizi Gratis (MBG) sistem prasmanan diterapkan. Program baru dari Badan Gizi Nasional (BGN) masih dalam tahap uji coba yang dilaksanakan di 66 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 10 provinsi.
Tujuan dari sistem baru ini tentunya untuk meningkatkan kualitas penyajian ditengah-tengah derasnya kritikan terhadap program ini. Tak hanya itu sistem baru ini bertujuan untuk memastikan setiap porsi makanan terserap secara maksimal.
Pemerintah sendiri memberikan atensi khusus terhadap program baru ini setelah sebelumnya Presiden memberikan arahan berdasarkan praktik serupa di negara-negara lain.
Langkah ini diambil untuk menjawab kendala distribusi yang kerap terjadi, seperti durasi pengiriman yang panjang hingga penurunan suhu makanan saat diterima oleh siswa. Faktor-faktor teknis tersebut berpotensi memengaruhi mutu serta keutuhan pangan (keamanan pangan) yang disajikan.
Dalam konferensi pers seusai rapat koordinasi MBG di Jakarta, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa sistem baru ini lebih efisien terutama terkait dengan konsumsi.
Penyajian secara prasmanan dapat mengurangi limbah pangan (sisa makanan) karena siswa diberi kebebasan mengambil porsi sesuai kadar kecukupan masing-masing. Terlebih lagi, bagi mereka yang masih membutuhkan asupan lebih, ruang untuk menambah porsi terbuka lebar sehingga tidak ada makanan yang terbuang sia-sia, kata Zulkifli Hasan.
Pengamatan selama satu pekan pelaksanaan menunjukkan respons positif yang sangat signifikan dari para penerima manfaat.
Kepala BGN Sudaryono menyebut tingkat konsumsi makanan meningkat pesat lantaran hidangan yang tersaji jauh lebih segar dan hangat.
Meski memberikan dampak yang sangat menjanjikan bagi pemenuhan gizi anak bangsa, pemerintah sepertinya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan untuk meluncurkan sistem baru ini secara menyeluruh.
Pengkajian mendalam mengenai pembiayaan dan pemetaan tenaga kerja masih terus digodok secara intensif. Evaluasi komprehensif dilakukan untuk menakar secara akurat efisiensi operasional maupun potensi pembengkakan biaya jika dibandingkan dengan metode penyajian yang digunakan sebelumnya. Dari sisi operasional itu yang sedang kita hitung lagi, sedang kita kaji kira-kira bisa kurang berapa atau jangan-jangan lebih berapa, jelas Sudaryono.
Selain perhitungan finansial, uji coba ini difokuskan untuk memetakan kendala teknis serta kesiapan infrastruktur di lingkungan sekolah. Kehadiran edukasi dan pelatihan bagi pihak sekolah menjadi krusial agar alur pelayanan dapat berlangsung secara tertib dan aman. Pendampingan lapangan pun wajib disesuaikan dengan tingkatan usia siswa, mengingat pola pendampingan untuk anak usia dini di kelas-kelas awal sekolah dasar memerlukan perhatian yang jauh berbeda dibandingkan dengan murid di jenjang yang lebih tinggi.
Akankah penyajian bergaya prasmanan ini menjadi standar baru di seluruh sekolah? Tentunya masih harus dikawal dan dicermati bahkan dikritisi kekurangannya demi mewujudkan generasi yang lebih sehat dan cerdas. (gdi)





