
WANITAINDONESIA.CO – Selama sepekan masyarakat Indonesia disuguhkan tontonan tak elok tentang ulah oknum juri, dan MC yang tak profesional.
Mereka memberikan penilaian keliru terhadap jawaban dari peserta SMA Negeri I Pontianak yang berhasil cepat, dan tepat menjawab pertanyaan tersebut. Masyarakat tentu paham kejadiannya karena langsung viral di seantero negeri.
Kabar terbaru dari aroma tak sedap sosialisasi lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR tersebut, datang dari pernyataan resmi Ketua MPR, Ahmad Muzani. Rencananya pelaksanaan Final Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI, khusus di Kalimantan Barat akan diulang. Menurut Ahmad Muzani keputusan tersebut diambil setelah mendengarkan masukan dari berbagai elemen masyarakat.
“Waktu pelaksanaannya akan ditentukan secepatnya dengan menggandeng juri yang independen dari kalangan akademisi, “tegasnya.
Tawaran tersebut kemudian ditolak secara elegan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri I Pontianak, Indang Maryati, Kamis (14/5). Dia menyebut pihaknya menghormati hasil lomba, yang memenangkan SMA Negeri I Sambas sebagai pemenang.
Mereka yang akan mewakili Kalimantan Barat di ajang lomba LCC MPR 4 Pilar tingkat nasional.
Kepsek menerangkan, “Protes yang mereka lakukan bukan untuk menyerang kredibilitas juri, namun untuk transparansi lomba.”
Bahkan Kepsek yang bijak ini malah meminta maaf, dikarenakan protes mereka malah berujung kegaduhan.
Tak kalah sengit, para politisi, akademisi serta praktisi ramai menyoroti tawaran tersebut.
Kritik keras dilakukan Guntur Romli, politisi PDIP. Lewat pernyataannya di Tiktok, ia memberi tanggapan, bahwa lomba cerdas cermat yang memalukan tersebut, yang akan diulang merupakan hal blunder.
Sejatinya siswi SMA Negeri I, Ocha, dan teman-temannya-lah sebagai pemenang sejati. Namun dikalahkan secara zalim, dan curang. Faktanya benderang jika perolehan nilai mereka tak dipangkas 5 poin oleh juri, mereka adalah juara yang sesungguhnya.
Namun disayangkan MPR mengambil keputusan lomba ini harus diulang dengan juri, dan MC baru yang independen serta penyelenggaraannya akan diawasi langsung oleh Ketua MPR RI.
Keputusan MPR tersebut malah dianggap sebagian pihak blunder besar. Menurut politisi yang juga berprofesi sebagai penulis seharusnya MPR bersikap tegas, dengan mendiskualifikasi pelaku kecurangan.
“Ini tak adil karena MPR menempatkan korban, dan pelaku di garis start yang sama. Seharusnya MPR bersikap tegas untuk melawan kecurangan dengan menyingkirkan kecurangan, “tegas Guntur.
Menurut Guntur Romli, Ocha, dan teman-teman seperjuangan punya hak untuk mundur, tidak ikut lomba ulang sebagai bentuk protes yang paling elegan. Juga menjadi pengingat keras buat penyelenggara lomba, bahwa harga diri tidak bisa dibeli dengan trofi.
Guntur mengingatkan, “Mundur dengan kebenaran jauh lebih terhormat, daripada bertanding dengan sistem cacat. Ini sebagai bentuk hukuman dari Ocha, dan teman-temannya.”
“Tapi jika nanti mereka memilih untuk kembali naik panggung, ini bukan karena ambisi untuk meraih juara. Hal itu bisa dinilai sebagai bentuk sportifitas juga, “sarannya.
“Mereka hadir untuk kembali memperjuangkan sistem yang fair, dan adil. Dalam kompetisi yang sehat, peserta harus siap menang, atau kalah bukan ngotot menang dengan menghalalkan segala macam cara, “cetusnya.
“Masyarakat menanti keputusan final dari SMA Negeri I Pontianak. Di hati masyarakat Indonesia, Ocha dan teman-temannya adalah pemenang sejati, “tutup Guntur Romli. (*)




