“PLESIR” Mumpuni Satukan Perspektif di Satu Perjalanan

Mencuri perhatian koleksi "Sienna" dari detail Lily 3 dimensi, ajak Wanita Indonesia berani mengeksplorasi warna sembari menghargai keindahan alam nan abadi.Foto: Dokumentasi JF3

WANITAINDONESIA.CO – LAKON Store bersama empat brand anak negeri terbaik di bawah naungannya, sukses mencuri perhatian penonton di JF3 Fashion Festival 2026 Recrafted: Shaping The Future di Fashion Tent, Summarecon Mall Jakarta.

72 look yang dihadirkan lewat buah pemikiran bernas, inovasi serta kreativitas dari sejumlah brand terbaik Indonesia, mampu membuat pengunjung berdecak kagum serta memberikan apresiasi.

Tentu lewat peran serta upaya Platform JF3 yang produktif, tak hanya sekedar memberi panggung namun juga melakukan beragam terobosan kreatif, agar karya anak negeri brand BLEE, Byroam, Malina Alba serta Komang Tri Jewelry saling terhubung, kian membumi, dicintai masyarakat.

Arsya Prasetiawan, Merchandise & Fashion Stylist, Lakon Store menjelaskan, “Sebagai bagian dari ekosistem LAKON Indonesia, Lakon Store berupaya yang menghadirkan ruang bagi brand lokal, untuk terus berkembang serta terhubung dengan pasar, tentunya melalui karya yang memiliki identitas.”

“Berharap kehadiran Lakon Store di JF3 fesyen festival dapat membawa perubahan bagi ekosistem mode Indonesia, “imbuhnya.

PLESIR merangkum koleksi dari 4 brand BLEE, Byroam, Malina Alba, dan Komang Tri Jewelry. PLESIR hadir lewat gagasan tentang eksplorasi, pertemuan berbagai perspektif serta proses yang membentuk identitas.

Arsya Prasetiawan, Merchandise & Fashion Stylist Lakon Store “Lewat “PLESIR” hadirkan kolaborasi epik 4 brand, 4 perspektif di 1 perjalanan. Foto: Wanitaindonesia.co

Lewat pendekatan Recrafted, setiap karya akan menerjemahkan pengalaman, budaya, dan memori ke dalam bentuk yang relevan di masa kini.

Bagi Lakon Store proses kreatif lahir dari perjumpaan dengan berbagai pengalaman serta perspektif yang terus berkembang.

Arsya menambahkan, “PLESIR” menjadi magnet karena merupakan refleksi dari sebuah perjalanan. Perjalanan penuh warna, menyenangkan. Ada naik-turun yang kesemuanya itu bisa terjadi atas berkat karunia Tuhan.”

“Lewat lanskap panorama alam Indonesia, kami terinspirasi untuk mengeksplorasi alam, keindahan laut beserta ekosistemnya yang beragam.”

“Setelah mendapat ide tema, dan melakukan kurasi brand yang paling siap untuk tampil di runway JF3, proses kreatif dilanjutkan dengan berdiskusi, ihwal presentasinya nanti, dikarenakan setiap brand punya perspektif sendiri tentang PLESIR, “terang Arsya Prasetiawan.

Salah satu kejutan epik koleksi PRISM dari BLEE hadir lewat material Thermochromic, bila terpapar panas atau ditepuk-tepuk warna kain akan berubah. Foto: Wanitaindonesia.co

BLEE Inovasi Thermochromic Pakaian Berubah Warna

BLEE yang diwakili oleh Farizky Putra bungah lewat koleksi PRISM. Koleksi terbarunya yang didedikasikan untuk JF3 mengisahkan perjalanan berharga dari transformasi batu permata. Transformasi tersebut direfleksikan sebagai sebuah metafora pertumbuhan, transformasi serta keindahan dibalik setiap prosesnya.

Tantangan terbesar bagaimana upaya untuk menghadirkan beragam warna indah gemstone seperti Maxixe Beryl, Kyanite, dan Tsavorite Green agar tampilannya harmoni dengan busana.

“Didasarkan upaya untuk selalu memberikan yang terbaik, proyek ini berhasil dengan sangat memuaskan. Bagi BLEE, PLESIR itu diibaratkan sebagai metamorfosis dari sebuah batu, yang awalnya hanya sekedar terlihat menarik, namun setelah melewati serangkaian proses, hasilnya nyata, sangat indah,”

“Seperti itulah koleksi terbaru PRISM dari BLEE. BLEE merupakan brand streetwear yang memiliki ciri berani, namun lewat tema PLESIR, kami harus mencoba menggabungkan dengan sejumlah warna yang identik dengan summer. “terang Farizky.

‘Tentunya tanpa meninggalkan DNA BLEE sebagai brand streetwear yang memiliki inklusivitas, ekspresi diri, kualitas produk limited edition dengan material spesial, yang menarget pasar unisex.”

BLEE terdepan dalam mengeksplorasi ragam gemstone Maxixe Beryl, Kyanite, Tsavorite Green hadirkan vibes unisex, comfortable, breathable dominasi warna netral dan earthy. Foto: Dokumentasi JF3

“Lewat koleksi PRISM, kami memasukkan quote melalui siluet campuran dari beberapa style seperti American streetwear, Japanese serta European streetwear.”

Baca Juga :  Billy Tjong, Diantara Ibunda, Panggung JF3 & Fuchsia

“Pesan khusus untuk konsumen, “Apapun prosesnya juga tantangan yang dihadapi, bila awalnya diniatkan hanya untuk mendapatkan keberkahan, muaranya pasti akan indah. Bisa jadi hal ini tak akan terlihat oleh kita, namun orang-orang di sekitar justru dapat melihatnya dengan jelas.”

“Tak kalah menarik ada beberapa koleksi pakaian streetwear, dan runningwear yang kami persembahkan secara spesial sebagai kejutan untuk audience JF3.”

“PRISM menggunakan satu bahan yang masih sulit dijumpai di Indonesia yakni Thermochromic (kain heat sensitive).
Keunikan bahan bila terpapar panas atau semisal ditepuk-tepuk tangan, warnanya akan berubah, namun ketika dingin warna aslinya akan kembali lagi.”

Byroam Cerita Anak, Laut “Sakit” & Kebaya Kasual

Lain lagi cerita brand Byroam (Dewi Roam Signature) yang memiliki DNA sebagai kebaya casual, yang telah berkembang hingga satu dekade.

Kreatornya Dewi Wulansari mengaku mengambil inspirasi laut, karena kegemaran anaknya yang senang membaca buku tentang laut beserta kekayaannya.

Belakangan laut Indonesia hampir seluruhnya “sakit”, karena tercemar beragam limbah plastik, dan mikro plastik.

Dari pertanyaan lugu khas kanak-kanak, mengapa ada lumba-lumba lucu yang terjerat plastik? serta dari mana plastik itu datang? kerap menggelayuti perasaannya sebagai ibu serta pelaku usaha.

Menurut Dewi, ibu menjadi garda terdepan dalam upaya penyelamatan lingkungan, berperan strategis dikarenakan hal ini erat kaitannya dengan keberlanjutan, bagi kehidupan generasi mendatang.

“Aku sulit untuk membayangkan bagaimana nanti anak keturunan kita, di masa depan hidupnya terancam karena malapetaka ini.”

“Akhirnya tercetus ide untuk meneriakkan kegalauan anak Indonesia akan lautnya yang terkontaminasi sampah, dan residu kimia lewat busana kebaya, “imbuh Dewi.

Kebaya pernah menjadi ikon busana nasional di era Pemerintahan Soeharto, lewat tampilan ibu negara Tien Soeharto. Tien memiliki upaya serta jasa mulia dalam menguri-uri budaya, salah satunya lewat cara berbusana Wanita Indonesia pada masa itu.

Sayangnya pamor kebaya tak lagi pecah seperti dulu karena wanitanya sendiri abai. Namun kabar baiknya, Dewi merupakan desainer penyuka kebaya.

Karena ingin memerdekan seluruh Wanita Indonesia lewat kebaya, hadir Byroam yang dikenal fashion enthusiast sebagai kebaya kasual. Khusus untuk kolaborasi show bersama Lakon Store di JF3 2026, Byroam menghadirkan koleksi “LAUTAN”.

Alasan lainnya, kebaya menjadi sumber inspirasi terbesar karena kan Wanita Indonesia baru saja merayakan Hari Kebaya Nasional 24 Juli lalu, selain merupakan bagian jati diri busana mereka.

Kebaya yang oleh sebagian wanita kerap dipersepsikan ndeso, tak layak tampil di publik sukses dibungkam oleh Byroam lewat koleksi “LAUTAN”.

Kreator ini sukses “mencuri” perhatian lewat tampilan kebaya berlook kasual modern, siluet lembut dengan teknik bordir nan rumit.

Detail dirancang tanpa meninggalkan keanggunan pengunanya, menjadikan kebaya Byroam layak dipertimbangkan untuk digunakan sebagai outfit sehari-hari.

Pekerja kantor maupun lapangan, aktivitas seminar, saat ngopi cantik dengan rekan sejawat atau ke pesta, pastikan Anda kaum hawa mengenakan kebaya Byroam sebagai busana terbaik Anda.

Walau mumpuni, Dewi mengaku mendapat tantangan menarik, manakala ia harus menghadirkan tone warna catchy dari karyanya tersebut.

Baca Juga :  Kiat Lakon Indonesia Muliakan Pengrajin

Fashion Enthusiast mengenal produk Byroam identik
dengan warna-warna netral serta pastel, sementara laut Indonesia lekat dengan warna-warni berani.

Setelah diambil jalan tengah, Dewi sukses mengelaborasikan ke dua warna tersebut menjadi warna yang indah memesona. Perpaduan harmonis dari kedua inspirasi warna brand serta laut.

Melanjutkan sukses dari produk sebelumnya Rania Top, yang telah terjual lebih dari 4.000 potong, Byroam kembali menghidupkan desain tersebut dengan memakai kain perca, sisa dari proses produksi sebelumnya.

Memakai teknik patchwork yang dikerjakan dengan ketelitian hadir koleksi tak ternilai. Diibaratkan memberikan kehidupan kedua bagi potongan-potongan kain, sekaligus dukungan kreator agar fesyen Indonesia berkelanjutan.

“Apa sih yang menarik dari koleksi LAUTAN ini?
Bordir lembut nan artistik dari beragam motif biota laut, yang dituangkan lewat siluet kebaya klasik yang nyaman, relevan dipakai sehari-hari.

Sehelai kebaya yang dijahit rapi, dan kuat menyimpan kisah tentang laut-laut Indonesia.
Menariknya setiap membeli satu produk Byroam dari koleksi LAUTAN, Anda telah turut berkontribusi dalam upaya mulia menjaga keberlanjutan laut.

“LAUTAN” ajak Wanita Indonesia berkulit sawo matang untuk berani mengeksplorasi warna serta menjadikan kebaya sebagai outfit sehari-hari. Foto: Dokumentasi JF3

“SIENNA” Ajak Wanita Indonesia Berani Eksplorasi Warna

Brand kesayangan Wanita Indonesia ini lekat dengan desain kontemporer. Berfokus pada koleksi semi tailored yang unik, versatile, dan timelless. Hasilnya busana siap pakai yang mengedepankan aspek kualitas, kenyamanan serta perhatian pada setiap detail.

“SIENNA” menjadi penanda inspirasi alam memukau, lahir dari keyakinan bahwa di tengah dunia yang dipenuhi oleh warna -warna monokrom, alam akan selalu setia untuk mengingatkan manusia yang bijak, ihwal keindahan warnanya.

Lewat koleksi “SlENNA” wanita muda inspiratif ini mengajak Wanita Indonesia agar lebih berani mengekspresikan diri, sekaligus menghargai keindahan abadi di sekitar kita.

“SIENNA” tampil dengan palet warna earthy dengan sentuhan floral, yang menjadi benang merah koleksi.

Ragam material seperti tweed, twill, dan katun digunakan untuk menghadirkan tekstur yang merefleksikan keberagaman alam.

Siluet oversized memberi kesan nyaman, dan effortless yang menjadi ciri khas desain Madina Alba. Yang menarik hadir aplikasi bunga lily 3 dimensi serta renda rumbai yang menjadi pemikat pandang. Cantik!

A-line sleeveless dress motif marine dengan detail unik berupa kerah besar model scarf, walau simpel terlihat high fashion. Foto: Dokumentasi JF3

Komang Tri Jewelry Cerita Heroik Mahkota Ratu ke Limbah Botol

Tak kalah menarik untuk disimak kiprah Komang Tri, pemilik brand Komang Tri Jewelry yang menampilkan desain perhiasan ramah lingkungan, terinspirasi akan keindahan laut Indonesia.

Komang membuat aksesoris berbahan material dari limbah botol wine Bali serta botol sake Jepang.
Proses produksi mengandalkan seni kerajinan perhiasan tingkat tinggi, berupa teknik pahat Pulau Dewata, dan juga Jepang. Looknya bercirikan karya seni kontemporer.

Menurut Komang tantangan terbesar untuk menampilkan karyanya di “PLESIR” bagaimana karyanya bisa terhubung dengan ketiga brand lainnya .Aku harus mampu membuat langgam yang selaras dengan desain mereka.

Menurut desainer perhiasan lulusan Jewelry Design and Management International School Singapore, dirinya berupaya untuk mendobrak pasar global lewat DNA rancangan, berupa karya tangan tradisional, berdesain kontemporer.

Yang mana setiap karyanya tak hanya lekat sebagai aksesori, melainkan ikut merepresentasikan cerita tentang keindahan alam, budaya dan identitas Indonesia.

“PLESIR menjadi rutinitas keseharianku bersama isteri, yang tinggal serta berusaha di
Nusa Dua, Bali. Vibesnya langsung dapat, karena setiap hari kami melihat ritual, pertunjukan kekayaan seni budaya, panorama alam serta menghirupnya.”

Baca Juga :  Torehan Emas PINTU " 5 Partisipan 2025 Siap Bersinar di Panggung Global
Aura cantik “Tropicana Indonesia” koleksi Komang Tri Jewelry, perhiasan esensial limited edition dari botol kaca. Foto : Dokumentasi Komang Tri Jewelry

“Selain itu, aku bersama isteri sering mengeksplorasi ragam kekayaan alam Indonesia beserta ekosistemnya, seperti tumbuhan, dan hewan yang kemudian diaplikasikan ke dalam setiap karya.”

Terlihat nyata beragam motif tradisi seperti gordo, motif batik klasik Yogya, dan Solo yang menyerupai sayap burung Garuda. Oleh Komang bentuknya disederhanakan.

Inspirasi lainnya dari hewan endemik seperti Orang Utan, Cendrawasih, burung Enggang yang kesemuanya dibuat dengan menggunakan siluet simpel.

“Bagiku, dan isteri Bali menjadi sumber inspirasi terbesar, yang seolah tak kan pernah habis untuk dieksplorasi.”

“Bali memiliki alkuturasi budaya seperti dengan Cina, hadir lewat pernikahan Raja dengan seorang Putri dari Cina. Dari sini terjadi akulturasi budaya Bali-Cina yang nyata terlihat lewat koin, dan beragam motif klasik.”

Produk Komang Tri Jewelry juga lekat dengan aksen batu alam Indonesia serta mutiara Indonesia Timur, yang diberi sentuhan khas Jepang. Sedangkan bahan dasar koleksi “Tropicana Indonesia” adalah kuningan berlapis perak, dan emas.

Dari perspektif Komang, aksesori dimaknai sebagai actxam story. Lewat karya, produk, Komang dan isterinya itu bercerita tentang sumber inspirasi terbesar dari sebuah karya.

Tujuannya ingin mengajak konsumen kembali ke alam, mencintai tanpa syarat tak terpengaruh dengan euforia globalisasi.

“Jujur aku baru saja terjun menggeluti material botol sisa wine, dan sake untuk produksi jewelry. Sebelumnya brand Komang Tri Jewelry identik dengan perhiasan, juga made by order mahkota untuk acara pemilihan putri.”

Selain botol kaca karya Komang Tri mendunia lewat material kuningan lapis emas, berhias batu alam serta mutiara dari Indonesia Timur. Foto: Wanitaindonesia.co

“Karyaku mulai dikenal luas ketika aku mendesain mahkota untuk Miss Indonesia di ajang pemilihan Miss Universe di Las Vegas, Amerika.”

“Selain itu brand Komang Tri Jewelry banyak di apresiasi oleh sejumlah daerah, yang menggelar acara kontes pemilihan putri.”

Komang menambahkan, “Saat di Kobe, berkat upaya Duta Besar Indonesia di Jepang, aku bisa melaunching aksesori berbahan botol limbah sake.
Aksesori dengan look elegan, berdesain kontemporer dengan sentuhan artistik kuat, hadir dari warna-warni cantik seperti biru muda, biru tua, dan hijau.

Koleksi bertema “Tropicana Indonesia” yang memuja keindahan laut beserta ekosistemnya, diluncurkan di Jepang, juga menggebrak pasar Singapura. Untuk Indonesia, karyanya hanya bisa dijumpai di Lakon Store.

Perlu diingat memiliki karya Tropicana Indonesia, berarti Anda telah menjadi bagian dari ekosistem masyarakat dunia.
Lekat sebagai masyarakat yang peduli, bertanggung jawab serta berjiwa seni tinggi, dikarenakan untuk setiap desain aksesori “Tropicana Indonesia” hanya dibuat 1 karya.

Jadi pilihan akhirnya ada pada keputusan bijak Anda, untuk hidup sembari memperjuangkan seni.

Walk finale dari fesyen show “PLESIR” untuk JF3 Fashion Festival 2026, dihadirkan lewat iringan musik apik “Whisky and Soda”.

Musik instrumental klasik bergenre reggae mampu menghadirkan nuansa sentimentil.

Lewat musik, pesan yang hendak disampaikan Lakon Store adalah kesuksesan mengkolaborasikan 4 brand, 4 perspektif 1 perjalanan.

Bagi Anda yang tertarik, penasaran akan keindahan hakiki karya anak negeri bisa segera menyambangi Lakon Store. (*)
Info: 021-45865020