
WANITAINDONESIA.CO – Di balik duka yang sempat menyelimuti Aceh Tamiang akibat banjir, perlahan tumbuh harapan baru. Pikiran Rakyat bersama Serikat Perusahaan Pers Aceh (SPS Aceh) berkolaborasi membangun Gedung Pusat Kegiatan Masyarakat sebagai wujud nyata kepedulian bagi warga terdampak.
Rencana penuh makna ini mengemuka dalam pertemuan hangat antara Yayasan Pikiran Rakyat dan SPS Aceh yang berlangsung di Jabarano, Kamis (30/4/2026) malam. Suasana diskusi terasa begitu hangat, menyatukan semangat kemanusiaan untuk menghadirkan perubahan yang berkelanjutan.
Komisaris Pikiran Rakyat sekaligus Ketua Umum SPS, Januar P. Ruswita, menuturkan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar program bantuan, melainkan bentuk kepedulian tulus dari insan pers kepada masyarakat yang tengah bangkit dari bencana.
“Ini adalah cara kami memastikan kepercayaan para pembaca dan donatur dapat diwujudkan menjadi sesuatu yang benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Pikiran Rakyat, Puspatriani Agustina, menegaskan komitmennya untuk menjaga transparansi dalam setiap proses.
“Bagi kami, transparansi adalah kunci. Kami ingin setiap bantuan yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan dan benar-benar memberi dampak nyata,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Ia pun berharap seluruh proses administrasi, termasuk penyusunan nota kesepahaman (MoU), dapat segera rampung, sehingga pembangunan bisa segera dimulai dengan peletakan batu pertama—sebuah langkah awal menuju harapan baru.
Dari Aceh, Plt Ketua SPS Aceh, Muktarrudin Usman, menyampaikan kesiapan pihaknya untuk mengawal pembangunan hingga tuntas. Lokasi yang dipilih berada di Desa Sukajadi Paya Bujuk, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang—wilayah yang terdampak cukup parah akibat banjir pada akhir November 2025.
“Ini adalah amanah yang harus kami jaga dengan sepenuh hati,” ungkapnya.
Ia juga menggambarkan kondisi di lapangan yang masih membutuhkan perhatian, mulai dari akses jalan yang tertutup lumpur hingga ketersediaan air bersih yang belum sepenuhnya pulih.
Gedung yang akan dibangun nantinya dirancang sebagai ruang multifungsi yang hidup dan memberdayakan. Di lantai dasar, masyarakat akan mendapatkan akses layanan kesehatan dasar seperti posyandu, penyuluhan kesehatan, edukasi gizi, hingga posko siaga bencana lengkap dengan fasilitas penyimpanan alat medis.
Sementara itu, lantai dua akan menjadi ruang serbaguna yang hangat dan inklusif, mampu menampung sekitar 50 orang untuk berbagai aktivitas—mulai dari musyawarah warga, kegiatan pemuda, hingga program sosial yang mempererat kebersamaan.
Lebih dari sekadar bangunan, kolaborasi ini diharapkan menjadi simbol kebangkitan—ruang yang bukan hanya berdiri kokoh secara fisik, tetapi juga menghidupkan kembali semangat gotong royong dan harapan masyarakat Aceh Tamiang untuk masa depan yang lebih baik. (ver)




