Phapros Catat Lonjakan EBITDA 869% di Semester I/2025, Didukung Penjualan dan Efisiensi Biaya

Penjualan naik 25% di Semester I/ 2025, Phapros dulang Pertumbuhan EBITDA 869%.

WanitaIndonesia.co – PT Phapros Tbk (PEHA), anak usaha Holding BUMN Farmasi Biofarma, membukukan kinerja positif pada paruh pertama tahun ini dengan pertumbuhan penjualan konsolidasian mencapai 25% secara tahunan (YoY). Lonjakan penjualan ini terutama didorong oleh kinerja kuat dari segmen obat bebas (over the counter/OTC) dan obat resep bermerek (ethical branded), masing-masing tumbuh 81% dan 79%.

Plt Direktur Utama PEHA, Ida Rahmi Kurniasih, menyampaikan bahwa dua segmen produk tersebut menyumbang pendapatan signifikan sepanjang Semester I/2025. “Kontribusi terbesar untuk pertumbuhan penjualan obat resep bermerek disumbangkan oleh segmen pasar Modern Outlet serta rumah sakit yang tumbuh di atas 30 persen, sedangkan untuk segmen obat jual bebas, disokong oleh segmen Retail dan Tender,” ujarnya.

Ida menjelaskan bahwa hasil gemilang ini merupakan buah dari berbagai langkah strategis perusahaan, termasuk penguatan distribusi, penataan portofolio, peluncuran produk baru, serta efisiensi biaya operasional. “Ini menjadi bukti adanya upaya perbaikan kinerja fundamental Perseroan serta penguatan sinergi sebagai Member of Biofarma (Holding BUMN Farmasi),” tambahnya.

Baca Juga :  Dukung Kesehatan Pria Dewasa, Phapros Kenalkan Produk Baru di INASAU 2025

Phapros mencatat pendapatan dari produk OTC sebesar Rp93 miliar dan dari obat resep bermerek sebesar Rp112 miliar. Capaian tersebut menjadi indikator kuat bagi target perusahaan untuk mempertahankan pertumbuhan penjualan dua digit hingga akhir 2025.

Efisiensi Biaya Dorong Laba dan EBITDA

Kinerja positif PEHA tidak hanya terlihat dari sisi pendapatan, tapi juga dari profitabilitas. Strategi restrukturisasi biaya yang diterapkan sejak awal tahun berhasil menekan beban usaha sebesar 7,3% menjadi Rp181 miliar dari sebelumnya Rp195 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Biaya pemasaran dan distribusi pun turun 13,5% YoY.

Sebagai hasilnya, laba usaha melonjak hingga 219% atau sebesar Rp39 miliar, berbalik dari rugi pada periode sebelumnya. PEHA juga berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp2,5 miliar, dibandingkan kerugian bersih Rp49 miliar pada semester I/2024. EBITDA tercatat naik drastis sebesar 869% menjadi Rp62,5 miliar. Sementara itu, liabilitas jangka pendek perusahaan berhasil ditekan hingga 27%.

Ida mengungkapkan bahwa strategi seleksi produk sejak pertengahan 2024 turut berperan dalam efisiensi. “Dari sekitar 200 Nomor Izin Edar yang dimiliki, perseroan berfokus pada penjualan 54 produk,” katanya. Strategi ini memperbaiki efisiensi biaya riset, pemasaran, dan modal kerja, yang kemudian berdampak pada pertumbuhan EBITDA dan laba bersih.

Baca Juga :  Operasi Hydrocehalus di RSUD Tobelo, Bentuk Komitmen Phapros Dukung Kesehatan Rakyat Indonesia Timur

Inovasi Produk dan Strategi Pertumbuhan Berkelanjutan

Phapros juga terus mendorong inovasi sebagai kunci pertumbuhan. Salah satu hasilnya adalah peluncuran produk obat anti-TBC (OAT) Kategori 1 Dosis Harian yang telah lolos uji klinis dan mendapat izin edar dari BPOM. Produk ini ditargetkan memperkuat kontribusi perusahaan dalam program pengendalian TBC nasional, dan ke depan akan diproduksi untuk pasar reguler guna memperluas akses bagi masyarakat.

“Seluruh insan Phapros tengah bekerja keras menghadapi berbagai tantangan eksternal dan internal. Di saat pasar agak melemah dan harga obat-obatan makin kompetitif, PEHA terus beradaptasi dan berbenah agar operasional lebih efisien dan mampu bersaing di pasar. Kami juga terus berinovasi melalui produk dan desain baru agar tetap relevan. Saat ini hingga Juni, Phapros telah meluncurkan 3 produk baru dari total 6 produk yang ditargetkan akan rilis di 2025. Di mana 3 produk baru ini berasal dari kelas terapi antibiotik dan obat terapi TB,” jelas Ida.

Baca Juga :  Sambut Idulfitri, Phapros Pastikan Kesediaan Antimo untuk Pemudik

Ia menambahkan, peluncuran produk-produk tersebut diharapkan menjadi “amunisi” baru untuk memperkuat pertumbuhan berkelanjutan perusahaan. “Oleh karena itu kami optimistis kinerja PEHA akan makin baik dengan target pertumbuhan penjualan minimal 18% di tahun 2025 ini,” tegasnya.

Lima Pilar Strategis Transformasi Bisnis

Dalam memperkuat fondasi bisnis jangka panjang, Phapros menegaskan fokusnya pada lima strategi utama: memperkuat keuangan melalui restrukturisasi utang dan efisiensi menyeluruh; meningkatkan kepuasan pelanggan lewat optimalisasi distribusi; memperluas portofolio dan pasar melalui riset dan kemitraan strategis; mempercepat transformasi proses bisnis dan digitalisasi; serta mengembangkan sumber daya manusia melalui transformasi human capital.

“Kelima strategi utama tersebut telah berjalan sejak tahun lalu dan tetap difokuskan lagi pada tahun 2025 untuk memperkuat fundamental bisnis dan meningkatkan penjualan sehingga dapat mencetak profitabilitas berkelanjutan sebagaimana terlihat di sepanjang Semester I 2025 ini,” tutup Ida. (WIB)