Perjalanan Winda Kusuma Wardhani S.T dan Radja Djamu, Meracik Harapan dari Dapur Rumah hingga Menguatkan UMKM

Bagi Winda Kusuma Wardhani S.T, membangun usaha bukan tentang hasil instan.

WANITAINDONESIA.CO – Siapa yang menyangka jika pandemi Covid 19 akan menjadi titik balik dalam perjalanan banyak orang, termasuk Winda Kusuma Wardhani S.T.

Ketika usaha keluarga di bidang minuman susu jelly terdampak situasi yang tidak menentu, ia memilih melihatnya sebagai ruang untuk berinovasi.

Dari dapur rumah, ia mulai meracik kembali minuman tradisional yang telah akrab dalam hidupnya sejak kecil.

“Pandemi membuat saya banyak merenung. Saya ingin menghadirkan minuman yang bukan hanya menyegarkan, tetapi juga benar benar bermanfaat untuk kesehatan keluarga,” ujar Winda.

Tradisi minum kunyit asem, beras kencur, dan jahe merah menjadi fondasi lahirnya Radja Djamu.

Namun Winda tidak ingin sekadar menghadirkan ulang jamu dalam bentuk lama.

Ia berupaya menyesuaikan rasa dan tampilan agar lebih mudah diterima generasi masa kini tanpa menghilangkan nilai khasiatnya.

Baca Juga :  Kementerian UMKM Gandeng HDCI Kampanyekan Produk Lokal Otomotif

“Saya ingin jamu tetap otentik, tetapi bisa dinikmati semua kalangan. Rasa boleh lebih bersahabat, namun manfaatnya tidak boleh berkurang,” katanya.

Radja Djamu juga dirancang dengan kesadaran lingkungan. Winda memilih menggunakan botol kaca sebagai kemasan.

Keputusan tersebut bukan tanpa pertimbangan. Ia melihat isu sampah plastik sebagai tanggung jawab bersama, termasuk bagi pelaku usaha kecil.

“Kalau kita bisa memulai dari langkah kecil seperti memilih kemasan yang lebih ramah lingkungan, kenapa tidak. Bisnis seharusnya membawa dampak baik, bukan hanya keuntungan,” ungkapnya.

Dalam operasional, suaminya berperan dalam proses produksi, sementara Winda mengawal pengembangan produk, branding, serta pengurusan legalitas dan sertifikasi halal.

Latar belakangnya sebagai sarjana teknik membentuk pendekatan yang sistematis dan terstruktur dalam menjalankan usaha.

Baca Juga :  Dari Dapur Sederhana, Perempuan Tangguh Ini Sukses Kembangkan Usaha Kue dan Banjir Pesanan Berkat Dukungan BRI

Menurutnya, tantangan terbesar justru datang dari pemasaran digital.

Seluruh penjualan dilakukan secara daring melalui berbagai platform layanan pesan antar. Ia harus memahami strategi promosi, pengelolaan harga, serta dinamika persaingan yang terus berubah.

“Dunia digital itu cepat sekali berubah. Kalau kita tidak mau belajar, kita akan tertinggal. Saya belajar sedikit demi sedikit, dari memahami algoritma sampai menghitung ulang strategi harga,” tuturnya.

Komitmen Winda tidak berhenti pada bisnis pribadi. Ia membentuk komunitas Bakulan Berbagi sebagai ruang edukasi bagi pelaku UMKM.

Awalnya fokus pada pendampingan sertifikasi halal, kini berkembang menjadi wadah pembelajaran tentang legalitas usaha, pencatatan keuangan, dan perhitungan harga pokok produksi.

Baca Juga :  Mengumpulkan Budaya Betawi yang Berserak untuk Kesejahteraan UMKM Jakarta

“Banyak pelaku UMKM sebenarnya punya produk bagus, tetapi belum memahami struktur biaya dan legalitas. Saya ingin mereka naik kelas dengan cara yang benar dan berkelanjutan,” jelasnya.

Bagi Winda Kusuma Wardhani S.T, membangun usaha bukan tentang hasil instan. Ia menekankan pentingnya niat, konsistensi, dan tanggung jawab terhadap konsumen.

“Usaha itu maraton, bukan sprint. Niat yang lurus dan komitmen jangka panjang akan membawa kita bertahan dalam situasi apa pun,” pungkasnya.

Dari dapur sederhana hingga komunitas yang terus berkembang, Winda menunjukkan bahwa inovasi, integritas, dan semangat berbagi dapat berjalan beriringan.

Sosoknya menjadi contoh bagaimana seorang perempuan mampu meracik harapan, bukan hanya dalam setiap botol jamu, tetapi juga dalam perjalanan pemberdayaan UMKM di sekitarnya. (GIE)