
WANITAINDONESIA.CO – Komika Pandji Pragiwaksono akhirnya angkat bicara menanggapi perbincangan publik seputar materi spesial stand-up comedy terbarunya, Mens Rea, yang kini tayang di Netflix. Tayangan tersebut sukses mencuri perhatian dan bahkan bertengger di posisi nomor satu Netflix Indonesia, namun juga memunculkan satu pertanyaan besar di kalangan penonton: mengapa nama Anies Baswedan tak dibahas?
Dituding pilih kasih, Pandji dengan tenang memberikan klarifikasi. Ia justru mengingatkan publik untuk menilik kembali rekam jejaknya. Menurut Pandji, tak ada YouTuber di Indonesia yang lebih sering mengkritik Anies Baswedan selain dirinya. Ia mengaku sudah berkali-kali mengulas kinerja Anies, termasuk saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Bahkan, Pandji pernah membuat satu video khusus yang mereview masa jabatan Anies secara menyeluruh. Dalam konten tersebut, ia menyinggung beragam isu sensitif, mulai dari tudingan korupsi, polemik Formula E, hingga program DP nol persen. Tak hanya sebagai bahan diskusi serius, Anies juga kerap muncul sebagai materi komedi dalam penampilan Pandji sebelumnya.
Lalu, mengapa nama Anies absen di Mens Rea? Pandji menegaskan bahwa pilihannya bukan soal kedekatan atau keberpihakan, melainkan relevansi. Dalam Mens Rea, ia sengaja menyoroti tokoh-tokoh yang saat ini masih aktif atau memiliki pengaruh langsung terhadap kebijakan publik. Sementara itu, beberapa nama yang ia sebut—seperti Ganjar Pranowo, Mahfud MD, Basuki Tjahaja Purnama, Gita Wirjawan, dan Dahlan Iskan—dibahas karena posisi mereka yang tidak lagi menjabat dalam pemerintahan.
Sebaliknya, Pandji lebih memilih mengulas figur-figur yang masih aktif di panggung kekuasaan, seperti Prabowo Subianto, Gibran Rakabuming Raka, Ahmad Sahroni, Bahlil Lahadalia, Natalius Pigai, hingga Fadli Zon. Menurutnya, apa pun yang diucapkan dan dilakukan para pejabat aktif patut menjadi bahan diskusi publik.
Meski begitu, Pandji mengakui ada pengecualian dalam Mens Rea. Nama Joko Widodo, Teddy Minahasa, dan Dharma Pongrekun tetap diangkat meski tidak lagi menjabat, dengan alasan tertentu yang dianggap masih relevan untuk dibahas.
Sebagai suami Gamila Arief, Pandji menutup klarifikasinya dengan satu penegasan penting. Mens Rea bukanlah panggung untuk menjatuhkan siapa pun atau menggiring opini politik tertentu. Ia menyebut pertunjukan ini sebagai upaya memberi rakyat Indonesia informasi seluas-luasnya tentang apa yang pernah dan sedang terjadi di negeri ini—dengan gaya khas komedi yang kritis, cerdas, dan mengajak berpikir.
Tak heran jika Mens Rea terus menjadi buah bibir dan tetap bertahan di puncak tontonan favorit di Netflix Indonesia. (imb)




