Wanita Indonesia

Olga Lydia Bikin Gerakan Kebudayaan yang Merayakan Keberagaman dan Kemanusiaan

Olga Lydia tampil sebagai salah satu sosok yang berani melawan arus dengan cara yang lembut: lewat musik dan perjumpaan.

WANITAINDONESIA.CODi tengah maraknya isu intoleransi dan polarisasi sosial, figur publik Olga Lydia tampil sebagai salah satu sosok yang berani melawan arus dengan cara yang lembut: lewat musik dan perjumpaan.

Melalui kiprahnya sebagai koordinator Festival Band Berani Beda, Olga Lydia tidak sekadar menggelar acara musik, tapi membangun gerakan kebudayaan yang merayakan keberagaman dan kemanusiaan dalam satu panggung.

Festival yang digagas Olga Lydia Bersama Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bersama Yayasan Tirta Bersemi dan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini dijadwalkan berlangsung pada 21 November 2025 di Jakarta.

Olga Lydia, yang dikenal sebagai aktris, model, sekaligus aktivis sosial, mengambil peran penting dalam merancang konsep festival agar menjadi lebih dari sekadar ajang kompetisi — sebuah ruang dialog lintas iman melalui musik.

“Musik punya bahasa yang tidak butuh penerjemah. Saat orang bermain musik bersama, batas agama dan latar belakang bisa mencair,” ujar Olga Lydia. Ia meyakini, harmoni musik dapat menjadi simbol konkret dari harmoni sosial yang ingin dibangun bangsa ini di tengah keberagaman.

Dalam festival ini, Olga Lydia menegaskan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan harus hadir dalam bentuk nyata. Setiap peserta band diwajibkan memiliki anggota dari agama yang berbeda. Dengan begitu, pesan toleransi tidak hanya terdengar dari panggung, tetapi juga terasa dalam proses kolaborasi di balik layar.

Sebagai figur publik yang dikenal berintegritas dan terbuka terhadap perbedaan, Olga Lydia telah lama aktif dalam berbagai kegiatan lintas iman dan sosial kemanusiaan. Melalui Festival Band Berani Beda, ia melanjutkan komitmennya untuk mengubah narasi sosial melalui kekuatan budaya populer.

“Banyak orang bicara soal perbedaan, tapi tidak banyak yang mau menghidupinya. Musik memberi kita ruang untuk mempraktikkan toleransi dengan gembira,” ungkapnya. Konsep festival ini memang unik. Peserta wajib membawakan satu lagu nasional dan satu lagu ciptaan sendiri atau lagu daerah.

Menurut Olga, ini menjadi cara untuk menghidupkan kembali semangat nasionalisme dan rasa cinta tanah air yang kerap terlupakan di tengah tren globalisasi musik modern. “Lagu-lagu nasional bukan hanya nostalgia, tapi pengingat siapa kita sebenarnya,” katanya.

Dengan total hadiah Rp30 juta, festival ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa musik bisa menjadi medium edukasi sosial tanpa kehilangan sisi hiburannya. Olga Lydia berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi musisi muda untuk menciptakan karya yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga mengandung pesan kemanusiaan dan kebersamaan.

Lewat kiprahnya, Olga Lydia memperlihatkan bahwa seorang seniman dapat menjadi jembatan bagi banyak hal — agama, generasi, hingga cara pandang. Di balik panggung Festival Band Berani Beda, ia sedang memainkan melodi yang jauh lebih besar dari sekadar nada: melodi persaudaraan bangsa. (GIE)

Exit mobile version