
WANITAINDONESIA.CO – Di tengah hiruk-pikuk gelaran Jakarta Dessert Week (JDW) 2026 yang berlangsung meriah di fX Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (1/9/2026), sosok perempuan yang satu ini mencuri perhatian. Dengan senyum ramah dan gaya bicaranya yang hangat.
Nama Nanik Soelistiowati mungkin tak asing lagi di telinga para pecinta kuliner Nusantara. Perempuan di balik jenama legendaris Pisang Goreng Madu Bu Nanik ini menjadi salah satu sosok penikmat dan penggerak industri F&B lokal yang menginspirasi.
Di balik popularitas produknya yang kini menjadi icon kuliner Jakarta, ada perjuangan seorang perempuan, ibu, sekaligus pengusaha gigih yang memulai langkahnya dari prinsip sederhana namun bermakna.
Berawal dari empati dan kejelian seorang Ibu, siapa sangka, pisang goreng madu yang memiliki tampilan khas agak hitam berkaramel ini lahir dari sebuah ketidaksengajaan. Kala itu, Bu Nanik mengelola usaha katering untuk hotel. Ia sering mendapati pisang sajian yang tidak habis atau tampilannya kurang sempurna untuk disajikan kembali.
”Saya pantang membuang makanan,” tutur Bu Nanik saat berbincang santai di sela acara. Dari rasa tidak tega melihat makanan terbuang, ia mencoba mengolah kembali pisang-pisang tersebut menjadi sale hingga pisang goreng.
Namun, tantangan tak berhenti di situ. Sang ibu tercinta yang menderita diabetes membuat Bu Nanik harus memutar otak agar pisang goreng buatannya tetap aman dikonsumsi tanpa gula pasir berlebih. Terinspirasi dari kebiasaan pribadinya yang rutin minum air lemon madu setiap pagi, Bu Nanik mencoba mengganti racikan gula dengan madu alami.

Hasilnya, tidak hanya lebih ramah bagi sang ibu, penambahan madu justru menciptakan reaksi karamelisasi alami yang membuat tekstur pisang gorengnya menjadi garing di luar, lembut di dalam, dan memiliki aroma khas yang menggugah selera.
Sebagai perempuan yang menahkodai bisnisnya dari skala rumahan hingga menjadi salah satu pionir UMKM sukses, Bu Nanik sangat disiplin soal kualitas. Seluruh proses produksi diusahakan memiliki pengawasan Quality Control (QC) yang ketat demi menjaga kesegaran rasa.
Bahkan ketika musim kemarau pisang melanda dan bahan baku utama sulit didapat, Bu Nanik memilih berinovasi dengan menu olahan lokal lain seperti nangka, sukun, martabak granat, hingga yang terbaru pia Betawi daripada menurunkan standar mutu produknya.
Prinsip keuletan ini pula yang membuat sosok Bu Nanik sering diundang menjadi narasumber inspiratif di berbagai forum kewirausahaan, mulai dari tingkat kecamatan, universitas terkemuka seperti ITB Bandung, hingga instansi kepresidenan. Ia ingin menularkan semangat kepada sesama pelaku usaha, khususnya perempuan, bahwa bisnis lokal punya potensi raksasa jika dikelola dengan ketekunan.
Bagi Bu Nanik, tantangan terbesar bagi pelaku usaha pemula bukanlah modal, melainkan ketekunan untuk terus berinovasi dan keberanian mempertahankan identitas lokal. Di tengah gempuran tren makanan impor, ia secara konsisten mengajak generasi muda untuk bangga pada kekayaan bahan pangan Indonesia.
”Indonesia itu sangat kaya akan bahan pertanian dan peternakan. Itulah yang harus kita olah. Jangan hanya ikut-ikutan tren luar yang belum tentu bertahan lama,” pesannya penuh optimisme.
Melalui keteguhan hati, inovasi tanpa henti, seperti targetnya yang selalu meluncurkan dua menu baru setiap tahun, serta keberanian memanfaatkan potensi lokal, Bu Nanik membuktikan bahwa sentuhan dingin tangan seorang perempuan mampu mengubah kesederhanaan menjadi warisan kuliner yang dicintai sepanjang masa. (Des)




