Misi Lingkungan Indonesia di London Jelang COP 17 Armenia

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Jumhur Hidayat (pertama kiri) bertemu dengan Co-Chair International Advisory Panel on Biodiversity Credits (IAPB) Dame Amelia Fawcett dan timnya di London, Inggris, Kamis (25/6/2026). HO-Kementerian Lingkungan Hidup.

WANITAINDONESIA.CO – Kekayaan alam Indonesia yang melimpah tengah disiapkan menjadi motor penggerak diplomasi lingkungan di panggung tertinggi global. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup resmi menjajaki pencalonan diri sebagai tuan rumah Konferensi Para Pihak ke-18 Konvensi Keanekaragaman Hayati (Conference of the Parties to the Convention on Biological Diversity atau COP 18 CBD) yang direncanakan bergulir pada tahun 2028. Langkah besar ini bukan sekadar tentang menggelar perhelatan internasional, melainkan sebuah penegasan posisi tawar Nusantara dalam merajut titik temu antara kelestarian ekosistem dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sebelum melangkah ke tahun 2028, fokus dunia internasional terdekat akan tertuju pada COP 17 CBD yang dijadwalkan berlangsung di Yerevan, Armenia, pada Oktober 2026 mendatang. COP 17 merupakan forum pengambil keputusan tertinggi bagi negara-negara yang telah meratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati. Pertemuan global dua tahunan ini berfungsi sebagai panggung evaluasi, negosiasi, dan penyusunan strategi lintas negara demi menghentikan laju kehilangan keanekaragaman hayati, memastikan pemanfaatan ruang hidup yang berkelanjutan, serta menyepakati pembagian keuntungan yang adil atas pengelolaan sumber daya genetik di seluruh dunia.

Baca Juga :  Misi Internasional Bantuan Untuk Gaza, Dompet Dhuafa Kirim Relawan Kemanusiaan Ke Tunisia

Ikhtiar strategis menuju diplomasi lingkungan global tersebut dibahas secara mendalam oleh Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, saat melakukan pertemuan khusus dengan Co-Chair International Advisory Panel on Biodiversity Credits (IAPB atau Ketua Bersama Panel Penasihat Internasional untuk Kredit Keanekaragaman Hayati), Dame Amelia Fawcett, di London, Inggris. Pertemuan yang digelar di sela-sela agenda London Climate Week (Pekan Iklim London) tersebut mematangkan komitmen bersama dalam memperkuat skema biodiversity credit (kredit keanekaragaman hayati) sebagai instrumen pendanaan baru untuk menjamin kelestarian ekosistem nasional.

Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menegaskan bahwa status Indonesia sebagai salah satu negara dengan megabiodiversitas terbesar di dunia harus menjadi modal utama dalam mengembangkan mekanisme pendanaan berbasis konservasi. Menurutnya, upaya perlindungan alam di Tanah Air sama sekali tidak boleh mengorbankan kesejahteraan masyarakat, melainkan harus berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, penerapan mekanisme pembiayaan hijau yang berkelanjutan menjadi hal yang sangat krusial agar menjaga ekosistem sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata.

Baca Juga :  Birkenstock Rayakan Ikon Legendaris London, Boston dan Milano dalam Anniversary Edition 2026

Komitmen dan langkah taktis yang disodorkan Pemerintah Indonesia tersebut mendapat sambutan hangat serta apresiasi tinggi dari mitra internasional. Dame Amelia Fawcett menilai Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk tumbuh menjadi salah satu negara terdepan dalam pengelolaan instrumen pembiayaan konservasi di tingkat global. Secara khusus, ia memuji langkah cepat Kementerian Lingkungan Hidup yang telah membentuk Task Force (Gugus Tugas) Pengembangan Kredit Keanekaragaman Hayati untuk menyiapkan kajian kebijakan, menyusun skema implementasi, hingga mengidentifikasi proyek percontohan di lapangan.

Baca Juga :  Birkenstock Rayakan Ikon Legendaris London, Boston dan Milano dalam Anniversary Edition 2026

“Inisiatif Indonesia menjadi pelopor pengembangan biodiversity credits di kawasan Asia dan global. Hal ini memberi pesan penting terhadap kolaborasi antarnegara dan para pihak untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati dengan semangat nature positive (berdampak positif bagi alam),” ujar Dame Amelia Fawcett.

Guna memperkuat posisi tawar tersebut sebelum pencalonan resmi tahun 2028, Indonesia dan IAPB sepakat untuk terus meningkatkan kemitraan pengetahuan. Langkah awal kesepakatan ini akan diwujudkan dengan memperkuat dialog pada forum terdekat, yaitu COP 17 CBD di Armenia.

Lewat kolaborasi ini, Indonesia bersiap membuktikan kepada dunia bahwa merawat bumi bukan lagi sebuah beban biaya, melainkan sebuah investasi jangka panjang yang mampu menghidupi masa depan generasi mendatang. Kelestarian alam yang terjaga adalah warisan terbaik, dan kini Indonesia sedang memimpin jalan untuk mewujudkannya. (Gdi)