WANITAINDONESIA.CO – Di balik pesona hamparan laut biru yang membentang luas di seluruh wilayah Nusantara, tersimpan sebuah rahasia besar yang belum sepenuhnya terkuak. Tahukah Anda bahwa hingga saat ini, bagian laut Indonesia yang berhasil dipetakan secara mendetail jumlahnya masih kurang dari 19 persen? Angka ini menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan maritim tanah air. Guna mendobrak keterbatasan tersebut, sebuah terobosan besar dilakukan melalui proyek ambisius penandatanganan kontrak pembangunan dua armada laboratorium terapung mutakhir yang siap mengarungi dan menyingkap misteri terdalam samudra kita.
Dua armada tangguh yang diberi nama Kapal Riset Nasional (Krisna) ini digarap melalui kolaborasi strategis bersama galangan kapal ternama asal Prancis, Piriou. Proyek mercusuar ini didanai oleh Badan Pembangunan Prancis (AFD) dengan nilai investasi yang fantastis, yakni mencapai 82 juta Euro. Kehadiran kapal riset pesisir (coastal research vessel) dan kapal riset penjelajah samudra (ocean going research vessel) ini diproyeksikan menjadi tulang punggung baru dalam memetakan keanekaragaman hayati (biodiversitas) lautan Indonesia.
Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nugroho Dwi Hananto, memaparkan bahwa kedua kapal ini sengaja dirancang dengan menyematkan instrumen-instrumen teknologi paling canggih di kelasnya. Inovasi ini memungkinkan para peneliti bekerja lebih akurat dalam mengupas tuntas kondisi geologi laut dalam.
“Bedanya, peralatan yang kita pasang (install) lebih canggih untuk bisa memetakan kedalaman laut secara keseluruhan, mengambil sampel-sampel biota, geologi, dan juga batuan. Dengan menggunakan kedua kapal ini kita ingin melangkah lebih jauh menjadi pemain global dalam bidang riset ilmiah kelautan,” ujar Nugroho Dwi Hananto penuh optimisme saat ditemui di Jakarta.
Ketangguhan sepasang kapal komando riset ini tecermin dari kemampuannya memfasilitasi penelitian geosains dengan metode penilaian stok bebas (free stock assessment) serta analisis DNA lingkungan (environmental DNA) secara langsung di atas dek kapal. Tidak hanya itu, Krisna akan berfungsi sebagai platform induk untuk mengoperasikan berbagai perangkat robotika bawah air modern, mulai dari kendaraan bawah air kendali jarak jauh (Remotely Operated Vehicle/ROV) hingga kendaraan bawah air otonom (Autonomous Unmanned Vehicle/AUV). Kapal ini juga dipersenjatai dengan alat pendeteksi gempa dasar laut (Ocean Bottom Seismometer/OBS), hidrofon dasar laut, dan perangkat elektromagnetik dasar laut.
Senada dengan hal tersebut, Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan bahwa penguatan riset dan inovasi maritim adalah kunci mutlak untuk mendongkrak kontribusi sektor laut terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Eksplorasi kekayaan laut yang berkelanjutan serta mitigasi bencana maritim ini berjalan beriringan dengan visi prioritas Presiden Prabowo Subianto di sektor kelautan.
“Kapal riset memainkan peran mendasar dalam riset dan inovasi maritim karena berfungsi sebagai laboratorium ilmiah bergerak yang memungkinkan pengumpulan data, pengujian teknologi, dan observasi langsung terhadap lingkungan laut,” kata Arif Satria menjelaskan fungsi vital armada baru tersebut.
Ia menambahkan bahwa seluruh data dan informasi autentik yang dihimpun oleh kapal riset moderen ini akan menjadi kompas utama dalam merumuskan kebijakan maritim yang presisi, pengelolaan sumber daya yang bijak, serta perlindungan lingkungan yang komprehensif demi masa depan generasi penerus bangsa.
Langkah besar pembangunan Kapal Riset Nasional Krisna ini membawa pesan optimisme bahwa Indonesia siap berdaulat secara ilmiah di lautnya sendiri. Ketika teknologi mutakhir bersanding dengan komitmen menjaga kelestarian alam, potensi maritim kita tidak hanya akan menjadi cerita kejayaan masa lalu, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan yang berkelanjutan di masa depan. Mari kita kawal bersama perjalanan sang penjelajah samudra ini demi membawa nama Indonesia harum di panggung riset dunia! (Gdi)





