Misi Baznas Terangi Rumah di Wilayah Terisolasi Lewat Energi Bersih

Ilustrasi pembangkit listrik tenaga surya memanfaatkan atap bangunan. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Malam hari bagi sebagian besar masyarakat perkotaan berarti gemerlap lampu yang menghidupkan suasana. Namun, di sudut-sudut tersembunyi Nusantara, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), senja yang tenggelam acap kali menjadi penanda dimulainya kegelapan yang sunyi.

Menjawab tantangan ketimpangan akses energi ini, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Republik Indonesia bergerak membawa secercah harapan melalui sebuah program berskala nasional yang dirancang untuk mengubah peta kehidupan masyarakat prasejahtera.

Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui Program Rumah Terang Baznas. Tidak tanggung-tanggung, program ini mematok target untuk menjangkau hingga ribuan rumah tangga di berbagai pelosok daerah di Indonesia yang selama ini belum pernah merasakan aliran daya listrik. Melalui pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah, lembaga ini berkomitmen menghadirkan keadilan sosial lewat pemenuhan kebutuhan dasar yang berkelanjutan.

Ketua Baznas Republik Indonesia, Sodik Mujahid, saat ditemui di Indramayu, Jawa Barat, menegaskan bahwa ambisi ini tidak berhenti di satu titik. Pihaknya optimistis jumlah penerima manfaat akan terus meluas seiring dengan peningkatan realisasi penghimpunan dana umat.

Baca Juga :  Acara BAZNAS Awards 2025, Ivan Gunawan Donasikan Rp2 Miliar untuk Palestina

“Targetnya sebetulnya ribuan di Indonesia. Dan bisa bertambah ketika kami mencapai juga target pengumpulan zakat di atas target begitu,” ujar Sodik Mujahid dengan nada optimis.

Program Rumah Terang Baznas bukan sekadar tentang memasang kabel dan menyalakan lampu penolak bala gulita. Intervensi ini dirancang dengan pendekatan berwawasan lingkungan melalui penyediaan instalasi listrik berbasis energi terbarukan (renewable energy), yakni dengan memanfaatkan perangkat panel surya (solar panel). Langkah inovatif ini menjadi solusi jitu bagi wilayah-wilayah terisolasi yang belum terjangkau oleh jaringan listrik konvensional milik pemerintah.

Setiap keluarga yang terdata sebagai penerima manfaat akan dibekali dengan paket penerangan lengkap. Paket tersebut mencakup lima buah lampu dioda pancaran cahaya (light-emitting diode/LED) berdaya satu watt, instalasi kabel yang aman, serta akumulator (accu) yang berfungsi sebagai penyimpan daya energi. Keunggulan dari teknologi ini terletak pada efisiensinya yang tinggi, di mana satu lampu LED tersebut diklaim memiliki masa pakai hingga dua puluh tahun. Lebih dari itu, masyarakat sama sekali tidak dibebani oleh biaya perawatan yang tinggi; mereka hanya perlu membersihkan permukaan panel surya dari debu setiap tiga bulan sekali.

Baca Juga :  Forum Zakat Silaturahmi dengan BAZNAS RI, Upaya Perkuat Sinergi Zakat di Indonesia

Kehadiran sumber energi mandiri ini dipercaya akan memicu efek domino yang positif bagi kualitas hidup masyarakat, mulai dari sektor domestik, pendidikan, hingga geliat ekonomi lokal. Sodik Mujahid memaparkan visi besar di balik denyut program ini, yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

“Harapannya masyarakat semakin cerdas, semakin rajin belajar terutama putra-putrinya, semakin menambah semangat untuk hidupnya, semakin menambah ibadahnya, semakin menambah kerjanya, sehingga secara umum semakin sejahtera,” kata Sodik Mujahid menjelaskan dampak jangka panjang yang dibidik.

Dalam eksekusinya di lapangan, Baznas Republik Indonesia menerapkan strategi kolaborasi yang terukur dan bertahap. Proses penyaluran bantuan dijalankan melalui koordinasi yang ketat dengan jaringan Baznas di tingkat provinsi serta kabupaten dan kota. Kerja sama ini juga memperluas keterlibatan berbagai mitra strategis demi memastikan bahwa bantuan yang sarat nilai kemanusiaan ini benar-benar jatuh ke tangan masyarakat yang paling membutuhkan dan tepat sasaran.

Baca Juga :  Sahur Amal Ajak Seribu Anak Yatim Berdoa 'Mengetuk Pintu Langit'

Menutup penjelasannya, Sodik Mujahid menitipkan pesan mendalam yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut ambil bagian, setidaknya melalui dukungan moril dan doa, agar misi kemanusiaan ini dapat berjalan tanpa hambatan dan meluas jangkauannya.

“Jadi mohon doa dan dukungan agar targetnya bertambah sehingga distribusinya pun bertambah,” ucap Sodik Mujahid mengakhiri perbincangan.

Ketika selembar kain zakat mampu dikonversi menjadi pendar cahaya yang menerangi meja belajar anak-anak di pedalaman, di sanalah esensi dari kepedulian sejati menemukan bentuknya. Dukungan kolektif dari masyarakat tentunya akan menjadi bahan bakar utama yang memastikan lentera-lentera harapan ini tidak akan pernah padam, sekaligus mengantarkan Indonesia menuju masa depan yang lebih setara dan benderang. (Gdi)