Merayakan Proses “HARSA” Hadirkan Eksotika Batik & Bordir Kontemporer

Penutup BRI JF3 Fashion Festival 2026, HARSA merefleksikan semangat Recrafted Shaping the Future, sebuah keyakinan bahwa masa depan fesyen Indonesia dibangun melalui penghormatan terhadap craftsmanship, kolaborasi lintas budaya, dan keberanian untuk terus berevolusi, tanpa kehilangan akar yang menjadi identitasnya. Foto: Dokumentasi JF3

WANITAINDONESIA.CO – LAKON Indonesia merupakan rumah bagi keberagaman produk fesyen bercirikan kekayaan karya tangan Indonesia tingkat tinggi dengan desain modern, relevan serta berkelanjutan.

Show penutup BRI JF3 Fashion Festival 2026 menjadi pertunjukan mode yang paling spektakuler. Nyata dari euforia tamu-tamu undangan yang hadir dengan busana terbaik mereka seperti Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste & ASEAN, H.E. Fabien Penone, Atase Kebudayaan IFI -Kedubes Prancis, Carol Meyer, beserta jajarannya,

Turut hadir memberikan apresiasinya, mantan Menteri Pemberdayaan Wanita, dan Perlindungan Anak, Linda Agum Gumelar, juga terlihat hadir Chairman JF3 , Soegianto Nagaria yang menutup perhelatan akbar BRI JF3 Fashion Festival 2026, Direktur Utama PT Summarecon Agung TBK, Adrianto Pitojo Adhi serta ratusan tamu undangan lainnya lintas generasi.

Sebagian tamu terlihat “mencuri” pandang dalam balutan busana dari koleksi terbaru LAKON Indonesia “HARSA”, yang menjadi penanda ihwal keberadaan serta peran LAKON Indonesia di hitungan ke -8.

Theresia Mareta Founder LAKON Indonesia juga Advisor JF3 terlihat stand-out dengan koleksi “HARSA” yang didedikasikan untuk memuliakan para pengrajin batik, bordir, tenun serta seni kerajinan tangan lainnya, yang berada di bawah naungan LAKON Indonesia.

Tak cukup kata untuk menggambarkan keindahan koleksi terbaru LAKON Indonesia “HARSA” hadir filosofis mendalam ihwal penghormatan atas nama dedikasi, loyalitas, kreativitas para pengrajin yang layak untuk diapresiasi serta dirayakan di momen 8 Tahun Lakon Indonesia, terlihat Theresia Mareta bersama koleksi “HARSA”, Founder LAKON Indonesia merupakan penerima penghargaan Seni & Sastra tertinggi, Kementerian Kebudayaan Prancis atas dedikasi serta konribusi dalam memprosikan budaya Indonesia, dan dunia mode. Foto: Dokumentasi JF3

Thres memesona dalam balutan cape coat fuchsia tanpa lengan, terlihat bordir indah berbentuk bunga besar, cukup detail. Cape cantik tersebut dipadukannya dengan dalaman berupa kemeja putih beraksentuasi bunga di bagian tengah atas kemeja.

Bagian bawah berupa jeans biru gelap dengan heels toska serta anting bewarna senada.
Tampilannya wearable sekaligus modern. Nyata bordir dibuat oleh pengrajin yang memiliki keterampilan tangan tingkat tinggi.

Tampilan seni kerajinan tangan modern, kontemporer yang dituangkan lewat selembar pakaian, related digunakan untuk beragam aktivitas. Menjadi salah satu bukti akan upaya sepenuh hati para insan kreatif, buah manis dari perjalanan panjang LAKON Indonesia.

Thres menjelaskan, “HARSA” merupakan perwujudan atas rasa syukur, ungkapan kebahagiaan serta ucapan terima kasih atas perjalanan 8 tahun, yang lekat dengan beragam tantangan.”

“HARSA (bahasa Sansekerta adalah kebahagiaan) adalah cerminan dari semangat LAKON Indonesia bahwa Fashion Indonesia tidak dibangun dalam waktu semalam, melainkan lewat tahapan panjang. Hadir kolaborasi epik serta penghargaan terhadap setiap karya tangan para artisan.”

Upaya sepenuh hati LAKON Indonesia diapresiasi ekosistem fashion Indonesia, dan global hadirkan karya tangan bermutu tinggi, yang related dengan kebutuhan masyarakat modern, akan produk seni budaya modern kontemporer. Foto: Dokumentasi JF3

“HARSA” Keberlanjutan dari Urub & Pasar Malam

“HARSA” tak hanya lekat dengan proses pembuatan maupun hasil akhir. Melainkan hadir arti dari sebuah nilai, keterampilan, dan dedikasi para pengrajin yang setia menjaga nyala keberlanjutan tradisi wastra Indonesia.”

Baca Juga :  Dorong Communal Industry, Dompet Dhuafa Yogyakarta Pacu Ekonomi Industri Batik Di Gunung Kidul

“Setiap koleksi “HARSA” memiliki cerita yang berbeda yang merefleksikan hubungan antara budaya, kerajinan tangan, dan perkembangan mode modern. Menjadi bentuk penegasan keyakinan, bahwa masa depan karya tangan Indonesia dibangun lewat proses yang dijalani dengan sepenuh hati. Tercipta desain modern, yang relevan dengan masa sekarang serta mengakar pada nilai craftsmanship, “terang Thres.

Kian menarik untuk disimak manakala “HARSA” berada dalam arahan Direktur Kreatif Irsan. Desainer mumpuni berdedikasi tinggi untuk kemajuan industri fesyen Indonesia, kemudian mempersembahkan koleksinya yang ke sembilan, spesial untuk LAKON Indonesia.

Lewat pendekatan desain yang matang, yang menghadirkan keseimbangan antara kreativitas, fungsi serta kualitas pengerjaan.

Ini menjadi penanda akan keberadaan serta kiprah LAKON Indonesia yang tengah menuju eksplorasi baru, lewat karakter busana yang lebih lembut, ringan dan terlihat elegan.

Di koleksi HARSA eksplorasi diperluas dengan menghadirkan kategori daily wear hingga daily deluxe, yang sangat relevan digunakan dalam beragam kesempatan, tanpa khawatir kehilangan marwahnya sebagai busana nan mewah.

Lewat upaya berkelanjutan yang didedikasikan atas nama budaya, kreativitas, inovasi serta tekad menghadirkan seni, nilai yang related dengan zaman, “HARSA” bernilai lebih. Tak hanya sekedar penutup tubuh, tapi terlihat indah dengan teknik, aspek craftsmanship dari look modern kontemporer.

Manakala tradisi dipertemukan dengan street wear, white shirt dengan detail ruffle over sized 3D floral applique, dikombinasikan jeans sobek aksen bulu warna-warni, “hmmm glamour plus edgy. Foto: Dokumentasi JF3

Buah manisnya muncul ekosistem yang hidup, yang memuliakan hasil seni budaya Indonesia yakni kreator, para pengrajin serta mereka yang terlibat di dalamnya.

Masyarakat konsumen tentunya merupakan pihak yang sangat diuntungkan dengan keberadaan LAKON Indonesia. Lewat LAKON Store-nya, kekinian setiap persona dapat tampil menarik, semakin elegan, stand out dalam balutan busana indah terinspirasi dari
wastra, seni kerajinan tangan yang disalin rupa menjadi terlihat modern kontemporer, yang lahir dari buah pemikiran bernas anak bangsa.

Thres, Wanita Indonesia penulis buku “Ode to Indonesian Culture” senantiasa menebarkan optimisme tinggi dalam kondisi apapun lewat LAKON Indonesia selalu mengingatkan masyarakat khususnya generasi muda pentingnya untuk menguri-uri budaya.

“Hasil budaya dari keahlian kerajinan tangan seperti batik, tenun, bordir dapat digunakan sebagai busana sehari-hari dengan look modern kontemporer, sehingga para pengrajin tradisional tetap hidup serta terus berkarya, “jelasnya.

Seni Bordir yang dikembangkan oleh LAKON Indonesia lekat dengan aspek Craftsmanship, mereka menciptakan kreasi bordir bolak-balik, menurut Theresia Mareta kemahiran pembordir di bawah naungan LAKON Indonesia senantiasa berprogres, kian sempurna dari 3 tahun sebelumnya. Foto: Dokumentasi JF3

“Romantika” Karpet Merah

Dan saatnya presentasi akan dimulai, lembaran besar karpet merah yang menutupi runway JF3 Fashion Festival digulung, kemudian segera dibersihkan, dan bersalin rupa lewat atraksi lantai runway JF3 yang colourful, catchy.

Baca Juga :  Peringatan Hari Batik Nasional 2024, Merlynn Park Hotel Hadirkan "Pesona Batik Indonesia"

Kejutan-pun dimulai, saat tata cahaya lampu dipadamkan, musik pembuka yang disajikan dalam bunyi orkestra menyapu indera pendengaran. Lekat dengan semangat, energi serta rasa keingintahuan ihwal kejutan spesial, yang hendak dipersembahkan LAKON Indonesia lewat koleksi “HARSA”.

Durasi musik nan indah itu dipadukan dengan bebunyian musik tradisi Jawa serta musik pop barat walau mengalun panjang, dan diseling kehadiran smoke effect menyerbu area Fashion Tent Summarecon Mall Kelapa Gading.

Suasana temaram ruang bak berkabut, sukses menghadirkan vibes dramatis, sakral.
Seolah mengajak yang hadir untuk merenung sejenak ihwal akar rumput kita, budaya leluhur adiluhung yang telah diwariskan, salah satunya seni kerajinan tangan batik.

Penonton diajak untuk rehat sejenak dari kesibukan, hingar bingar kehidupan monoton di luar, untuk menjadi bangsa berbudaya, mampu memberi arti serta memuliakan jati diri mereka dengan maha karya LAKON Indonesia yang akan diperlihatkan.

Selain itu, tentu saja LAKON Indonesia punya taktik jitu untuk memberitahukan kepada tamu-tamu asing Duta Besar Prancis beserta jajarannya, para Desainer dari Prancis, Cina, Korea serta negara ASEAN yang tergabung dalam AFDS ihwal jati diri bangsa yang tak akan pernah bangkrut, tercerabut lalu menghilang dikarenakan efek globalisasi dari pengaruh budaya luar yang mendominasi.

Masih ada anak bangsa yang memiliki komitmen sepenuh hati yakni para pelaku usaha yang bernaung di LAKON Indonesia, sebagai penjaga, pelestari, pengembang warisan budaya adiluhung bangsa.

Mengingat durasi musik pembuka terbilang panjang namun sarat dengan energi serta spirit, cara yang tepat untuk lebur dalam ambience istimewa tersebut, yang telah diciptakan oleh fashion Coreographer LAKON Indonesia adalah menafikan hape.

Suasana hening memiliki makna mendalam, filosofis bahwa semua yang dilakukan manusia harus melewati proses, tak serta-merta hadir dalam waktu semalam.

Penonton diajak untuk menghargai lalu merayakan proses. Audience diajak masuk untuk menyelami dunia kreatif LAKON Indonesia yang mengalir perlahan, magis, penuh warna serta menghormati akar budaya.

Momen ini bila pengunjung mampu menikmati musik pembuka, lanjut meresapi keindahannya dengan membuat tubuh rileks, bonusnya pikiran, hati serta jiwa yang jauh menjadi lebih baik, nyaman serta berenergi dari sebelumnya.

Pemilihan material premium dilakukan secara cermat hadir busana yang ringan, elegan, dan nyaman digunakan. Foto: Dokumentasi JF3

Hargai Proses lewat Kreativitas Inovasi

Gongnya ketika musik tradisi mengalun dari vokal berat khas budayawan, seniman serta dalang Sujiwo Tejo. Ingsun lagu yang menggunakan syair berbahasa Jawa, terdengar puitis. Kerap diartikan sebagai gambaran dari lakon hidup manusia yang berenang di telaga. Salah satu penggalan liriknya menyebut kata hidung, ini terkait dengan cerita perjalanan hidup manusia.

Baca Juga :  Kolaborasi Alumni Ecole Duppere "Victor Clavelly & LAKON Indonesia" Hadirkan Adikarya Les Fragments - URUB Semesta pun Terpesona

Para model keluar beruntun, mengenakan koleksi dengan salah satu kekuatan utama “HARSA” terletak pada pengolahan kekayaan tekstil Indonesia LAKON Indonesia menerjemahkan keindahan batik, dan bordir tangan ke dalam bahasa desain yang lebih kontemporer.

Eksplorasi dilakukan dengan permainan proporsi, konstruksi pakaian serta pemilihan material berkualitas. Koleksi menggunakan bahan katun poplin, katun voile, satin duchess, dan organza lewat 36 look koleksi.

Penggunaan material tersebut menghasilkan karakter busana yang ringan, elegan, dsn nyaman digunakan. Sebuah kemewahan yang tak berlebihan namun tetap terlihat lewat detail pengerjaan serta kualitas bahan.

Finale show model bertahan di runway para tamu undangan dipersilahkan untuk melihat dari dekat semua koleksi “HARSA”. Foto: Dokumentasi JF3

“HARSA” hadir lewat palet warna cerah, dan vibrant seperti merah menyala, kuning, hijau terang ungu, oranye dan fuchsia. Juga warna lembut biru dengan nuansa krem yang artistik, selain warna-warna netral yang terlihat elegan sebagai unsur penyeimbang.
Kesemuanya menjadi penanda karya LAKON Indonesia yang sedang berada dipuncak!

Kesemua koleksi “HARSA” menyajikan paduan menarik, dikarenakan semua look bermain di warna solid yang kuat fuchsia, ungu, oranye dengan warna lantai panggung yang playful. Bak sebuah kanvas dari perjalanan panjang LAKON Indonesia lekat dengan beragam tantangan serta terus berproses.

Kian memberi arti ketika seluruh model mengenakan Balaclava yang bertujuan agar penonton lebih fokus ke baju ke warna, tekstur, detail serta siluet. Tak terlalu berjalan mengitari runway, saat finale tak lama berselang seluruh penonton dipersilahkan untuk mendekat untuk mengamati keindahan koleksi “HARSA”.

Ini seperti konsep trunk show yang tak memberi jarak antara koleksi dengan penonton. LAKON Indonesia menginginkan penonton dapat mengetahui serta menghargai proses kreatif, ketekunan, keterampilan tangan di balik tampilan setiap busana.

Lewat interaksi ini memungkinkan seluruh tamu undangan dapat melihat lebih dekat hasil bordir, motif floral tiga dimensi serta tehnik aplikasi kain. Juga mengajak penonton untuk menghormati jerih payah pengrajin seperti pembatik, pembordir serta penjahit lokal yang terlibat dalam pembuatan busana. Last but not least cara ini menghadirkan pengalaman teatrikal tak terlupakan. Viva LAKON Indonesia, Viva koleksi “HARSA”. (*)