Menjemput Kebanggaan Nasional, Menteri Brian Ajak Akademisi “Keroyokan” Riset

Ilustrasi insan perguruan tinggi tengah melakukan tugas riset. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Dunia pendidikan tinggi Indonesia kini tengah memacu adrenalin untuk melompat lebih tinggi di kancah global. Di tengah persaingan ketat dengan negara-negara tetangga, semangat kolaborasi antar-akademisi menjadi kunci utama untuk memperkuat taring riset nasional.

Harapan besar kini disematkan pada pundak para dosen dan peneliti untuk membawa nama Indonesia sejajar dengan bangsa-bangsa maju, demi sebuah kehormatan bangsa yang tak ternilai.

Target ambisius telah dicanangkan, di mana institusi pendidikan seperti Universitas Indonesia (UI) diharapkan mampu menembus jajaran 100 universitas terbaik dunia. Keberhasilan UI masuk dalam peringkat 200 besar dunia saat ini menjadi pemantik semangat bagi kampus besar lainnya, seperti ITB, UGM, dan ITS, untuk terus meningkatkan daya saing mereka. Langkah ini bukan sekadar mengejar angka, melainkan upaya menyiapkan sumber daya manusia yang unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sesuai arahan Presiden.

Baca Juga :  UI Pimpin Kolaborasi Riset Asia-Pasifik, Perkuat Inovasi bagi Masyarakat Global

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menekankan bahwa memperkuat riset adalah harga mati jika ingin mengejar ketertinggalan dari negara tetangga. Beliau mengajak para dosen untuk membuang jauh-jauh rasa gengsi dan mulai bekerja sama secara kolektif atau “keroyokan”. Menghadapi peringkat dunia universitas di Malaysia dan Singapura yang sudah melesat jauh, bergerak sendiri-sendiri dianggap tidak lagi relevan dalam ekosistem pendidikan modern.

Keterbatasan alat penelitian pun diharapkan tidak lagi menjadi penghalang bagi para inovator tanah air. Menteri Brian menyarankan agar para akademisi saling berbagi sumber daya dan fasilitas antar-kampus. Beliau menceritakan pengalamannya menjalin relasi dengan kolega (rekan sejawat) di luar negeri untuk membantu proses pengukuran teknis yang belum bisa dilakukan di dalam negeri, membuktikan bahwa ketekunan selalu menemukan jalan keluar.

Baca Juga :  Pemerintah Harus Konsisten Dalam Pengendalian Perokok Generasi Muda

“Mari kita kolaborasi, jangan hitung-hitungan. Kita royal saja untuk berkolaborasi. Riset kita harus kuat, Bapak dan Ibu sekalian. Presiden berpesan bahwa kita harus memiliki pemenang Nobel dalam dua hingga tiga dekade mendatang dan masuk peringkat 100 besar dunia. Kita adalah bangsa yang besar, jangan sampai kalah dengan tetangga, ini adalah national pride (kebanggaan nasional),” ujar Brian Yuliarto dalam sebuah forum riset di Jakarta.

Semangat untuk tidak “pelit” ilmu dan fasilitas ini diharapkan menjadi budaya baru di lingkungan kampus. Dengan berkolaborasi secara luas, hambatan teknis dapat diatasi melalui sinergi (kerja sama yang menghasilkan nilai tambah) antar-lembaga. Ketekunan dan kerja keras para akademisi dalam melakukan riset prioritas akan menjadi fondasi kokoh bagi transformasi pendidikan tinggi yang lebih bermartabat di mata dunia.

Baca Juga :  UI dan Harbin Institute Jajaki Kerja Sama Teknologi Masa Depan

Pada akhirnya, perjuangan meningkatkan mutu pendidikan adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran dan kebersamaan. Melihat para pendidik kita saling bergandengan tangan tanpa sekat birokrasi memberikan secercah harapan bahwa masa depan gemilang bagi anak cucu kita bukan sekadar impian. Di setiap penemuan riset yang lahir dari kerja keras bersama, terukir janji untuk membawa Indonesia terbang tinggi, membuktikan bahwa dengan “keroyokan”, tak ada puncak yang terlalu tinggi untuk didaki. (Gdi)