Site icon Wanita Indonesia

Menjemput Cahaya Kartini: Menemukan Kembali Autentisitas Perempuan di Era Modern

Repro Negatif (1890-1904). Potret Raden Adjeng Kartini. Sumber Foto : Wikipedia

WANITAINDONESIA.CO – Setiap kali kalender mendekati tanggal 21 April, ingatan bangsa ini seolah serentak kembali ke sebuah kabupaten di pesisir Jawa Tengah pada akhir abad ke-19. Di sana, dari balik tembok pingitan yang sunyi, seorang perempuan muda bernama Raden Ajeng Kartini mulai menggoreskan pena, merangkai mimpi tentang kebebasan dan kesetaraan yang melampaui zamannya. Sejarah peringatan Hari Kartini bukan sekadar ritual berkebaya, melainkan sebuah pengingat tentang keberanian untuk mempertanyakan dunia.

Lahir di Jepara pada tahun 1879, Kartini tumbuh di tengah budaya patriarki yang amat ketat. Namun, keterbatasan fisik ruang geraknya justru melahirkan pemikiran yang tak terbatas. Melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, Kartini membicarakan banyak hal—mulai dari pendidikan bagi kaum perempuan, kritik atas tradisi yang mengekang, hingga cita-cita luhur untuk melihat bangsanya maju. Semangat itulah yang kemudian melandasi penetapan resmi Hari Kartini oleh pemerintah Indonesia sebagai penghormatan atas jasanya sebagai pahlawan nasional.

Di era sekarang, esensi perjuangan Kartini terus bertransformasi. Sosoknya bukan lagi sekadar pahlawan dalam buku sejarah, melainkan “kompas” bagi perempuan modern dalam menemukan jati diri.

Aktris yang juga penyanyi, Maudy Ayunda, melihat bahwa kekuatan utama Kartini terletak pada proses pencarian jati diri yang sangat dalam melalui literasi dan rasa ingin tahu yang besar.

“Hal yang aku lihat sangat-sangat keren dari sosok Kartini adalah cara dia memperjuangkan dirinya sendiri. Dari situ dia juga jadi mengenal apa sih sebenarnya yang dia inginkan. Walaupun yang dia inginkan pada saat itu, di budaya saat itu, belum dianggap wajar,” ungkap Maudy Ayunda.

Maudy menilai pesan Kartini tetap relevan untuk perempuan masa kini, terutama dalam menjaga keberanian untuk bersuara dan tidak sekadar menjadi penerima keadaan. Menurutnya, perempuan harus berani melakukan kritik terhadap realitas yang ada jika hal tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

“Jagalah rasa ingin tahu itu. Kita harus berani mempertanyakan dan mengkritisi (criticize) apakah sebenarnya cara dunia bekerja saat ini (the way the world works right now) adalah cara yang kita inginkan (the way we want the world to be). Jadi kita tidak hanya menerima,” tambah Maudy.

Lebih lanjut, Maudy mengajak setiap perempuan untuk berani bertarung demi autentisitas diri mereka sendiri, terlepas dari bidang pekerjaan atau peran apa pun yang mereka ambil dalam kehidupan sehari-hari.

Senada dengan Maudy, aktris muda Zulfa Maharani melihat bahwa semangat Kartini kini telah mewujud nyata dalam berbagai profesi. Jika dahulu ada batasan yang kaku antara pekerjaan laki-laki dan perempuan, kini sekat-sekat itu mulai runtuh. Kapabilitas perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata di ruang-ruang publik.

“Aku sekarang lihat banyak juga perempuan-perempuan sudah ada di deskripsi pekerjaan (job desk) yang didominasi sama laki-laki. Itu membuktikan bahwa perempuan juga punya kapabilitas untuk bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin dulu dianggap kurang kompeten,” tutur Zulfa Maharani.

Zulfa mengajak generasi muda, khususnya perempuan, untuk terus memupuk rasa percaya diri dan terus melangkah di bidang yang mereka cintai. Baginya, merawat semangat Kartini berarti terus berkarya dan tidak membiarkan keraguan menghambat potensi diri.

Peringatan Hari Kartini setiap tanggal 21 April sejatinya adalah sebuah refleksi. Sejarah mencatat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk berpikir beda.

Seperti kata-kata Kartini yang abadi, “Habis Gelap Terbitlah Terang,” terang itu kini ada di tangan setiap perempuan yang berani menjadi dirinya sendiri dan berjuang untuk sesamanya. Melalui inspirasi dari sosok seperti Maudy dan Zulfa, warisan Kartini terbukti tidak pernah usang; ia tetap hidup, menyala, dan terus menggerakkan perubahan. (gdn)

Exit mobile version