Menjaga Nadi Konstruksi Nasional Lewat Material Hijau yang Tangguh dan Berkelanjutan

Salah satu aplikasi produk Onduline Indonesia pada rumah ibadah. Onduline

WANITAINDONESIA.CO – Sebuah bangunan publik bukan sekadar berdiri dari tumpukan bata dan paduan semen, melainkan lahir dari kepastian mutu material yang mampu bertahan melintasi rentang waktu. Di tengah masifnya geliat pembangunan infrastruktur nasional yang kian terakselerasi, ketersediaan material yang andal dan kesiapan pasokan yang stabil menjadi fondasi utama. Menjawab tantangan tersebut, PT Onduline Indonesia menggelar forum diskusi strategis bersama Direktorat Jenderal Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum serta perwakilan Masyarakat Jasa Konstruksi di Jakarta pada Rabu, 26 Agustus 2026. Pertemuan ini mempertemukan visi pemerintah dan industri untuk memastikan bahwa setiap fasilitas publik dibangun di atas standar keandalan serta prinsip ramah lingkungan yang kokoh.

Dinamika industri konstruksi saat ini menuntut sinergi ketat antara kapasitas produksi dan ekosistem rantai pasok ( supply chain ). Kebutuhan material skala besar yang tersebar di berbagai wilayah—seperti pada proyek infrastruktur pendidikan Program Sekolah Rakyat—membutuhkan ketepatan waktu distribusi tanpa boleh mengurangi standar kualitas. Penentuan material tidak lagi sekadar memperhitungkan harga dan spesifikasi teknis di awal, melainkan harus memperhitungkan nilai guna, kemudahan pemeliharaan, keselamatan, hingga ketahanan bangunan jangka panjang terhadap perubahan iklim.

Country Director PT Onduline Indonesia, Esther Pane, menegaskan bahwa pemenuhan standar mutu dan keberlanjutan lingkungan merupakan komitmen yang tidak bisa ditawar dalam menjawab kebutuhan fasilitas publik.

“Tantangan industri konstruksi saat ini adalah menyediakan jumlah material dalam skala besar yang tepat waktu tanpa mengorbankan standar kualitas dan kelestarian lingkungan. Kami memastikan seluruh produk yang terpasang memiliki ketahanan yang baik dilengkapi fitur ekstra lainnya agar fungsi yang diberikan dapat optimal untuk jangka panjang,” ujar Esther Pane.

Rekam jejak komitmen keberlanjutan tersebut diwujudkan secara nyata melalui lokalisasi produksi di dalam negeri. Perusahaan manufaktur pembuat atap bitumen bergelombang asal Prancis yang telah hadir di Nusantara sejak tahun 1977 ini kini makin memperkuat posisinya. Melalui peresmian pabrik PT Onduline Manufaktur Indonesia di Pasuruan, Jawa Timur, yang beroperasi sejak November 2024, fasilitas tersebut kini resmi menjadi pusat penelitian dan pengembangan ( research and development ) untuk kawasan Asia.

Langkah strategis ini memastikan seluruh proses pengawasan mutu dan pendistribusian material dapat dipantau dari dekat secara komprehensif dari awal hingga akhir ( end-to-end ). Industri tidak hanya bertanggung jawab hingga barang keluar dari pintu gudang, melainkan terus mengawal hingga material terpasang sempurna di lokasi proyek.

“Bagi kami, tanggung jawab tidak berhenti ketika produk keluar dari pabrik. Kami ingin memastikan produk dapat tersedia, didistribusikan dengan baik, dan mendapatkan dukungan teknis yang dibutuhkan hingga terpasang dan berfungsi dengan aman di lokasi proyek,” tambah Esther Pane.

Kolaborasi harmonis antara pengambil kebijakan dan manufaktur lokal ini memegang peranan vital dalam membentuk wajah baru infrastruktur Indonesia. Ketika standar keselamatan, efisiensi material, dan kelestarian lingkungan menyatu dalam satu ekosistem yang terintegrasi, bangunan yang berdiri hari ini bukan hanya menjadi saksi kemajuan zaman, melainkan jaminan warisan ruang publik yang aman dan nyaman bagi generasi mendatang. (Gdi)