WANITAINDONESIA.CO – Indonesia terus mengukuhkan posisinya sebagai magnet investasi yang tangguh di kawasan Asia Pasifik. Di tengah dinamika ekonomi global, fundamental pasar domestik yang solid serta transformasi ke arah ekonomi digital menjadi daya tawar kuat yang memikat para investor institusional global.
Berdasarkan laporan triwulan pertama tahun 2026 yang dirilis oleh konsultan properti JLL, Indonesia dinilai memiliki daya pikat struktural jangka panjang. Faktor pendorongnya meliputi pasar digital yang luas, besarnya populasi usia produktif, serta adopsi teknologi Kecerdasan Buatan (AI) yang semakin meluas di berbagai sektor industri.
“Indonesia terus menarik minat investor yang kuat, didukung oleh fundamental pasar yang solid serta tren struktural jangka panjang. Kami melihat minat investor yang tetap tinggi terhadap sektor sektor dengan potensi pertumbuhan yang kuat, termasuk logistik dan manufaktur, data center, dan perhotelan,” ujar Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia.
Salah satu sorotan menarik dari laporan global ini adalah pergeseran peta pengembangan Data Center. Melonjaknya kebutuhan akan infrastruktur digital dan komputasi AI mendorong para pengembang mencari lokasi alternatif yang memiliki ketersediaan daya listrik dan lahan yang mumpuni.
Dalam hal ini, Batam muncul sebagai salah satu lokasi berkembang paling strategis di Asia Pasifik, bersanding dengan Johor Bahru (Malaysia) dan Bangkok (Thailand). Kehadiran Batam sebagai hub data center baru tidak hanya mendorong pertumbuhan properti komersial lokal, tetapi juga membuka peluang besar bagi penyerapan tenaga kerja terampil dan penguatan ekosistem teknologi di tanah air.
Strategi ‘HALO’
Menghadapi lanskap teknologi yang bergerak cepat, laporan JLL juga menyoroti perubahan perilaku para investor besar yang kini mulai mengadopsi pendekatan ‘HALO’ (Heavy Assets with Low Obsolescence).
Strategi ini berfokus pada penguasaan aset fisik yang mampu menghasilkan arus pendapatan stabil dan tidak mudah terdisrupsi atau usang oleh perubahan teknologi. Bagi investor jangka panjang, keterbatasan pasokan baru di lokasi strategis saat ini justru menjadi momentum emas untuk masuk ke pasar properti komersial. (gdi)





