
WANITAINDONESIA.CO — Keheningan dini hari di perairan Masalembo mendadak berubah menjadi tragedi mencekam saat gulungan ombak menghantam lambung kanan Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8. Kapal yang mengangkut 243 jiwa dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin itu dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) sekitar pukul 02.00 WITA akibat mengalami kemiringan parah. Di tengah gelombang laut yang ganas, perjuangan melawan maut terjadi, merenggut ketenangan ratusan keluarga yang kini menanti keajaiban di tepi pantai.
Hingga saat ini, sebanyak 113 penumpang berhasil dievakuasi oleh tim pencari dan pertolongan (SAR) gabungan, dengan rincian 107 orang ditemukan selamat dan enam orang meninggal dunia. Namun, bayang-bayang kecemasan belum mengendur karena masih ada 129 jiwa yang dinyatakan hilang di tengah perairan Laut Jawa. Basarnas bersama instansi terkait bergerak cepat mengerahkan 15 armada laut dan udara, yang terdiri atas 11 kapal, satu helikopter, dan tiga pesawat untuk menyisir lokasi kejadian dari berbagai sudut.
Guna memaksimalkan upaya pencarian korban yang diduga terperangkap di bawah perairan, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menerjunkan kekuatan penuh dengan mengikutsertakan personel dari Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut, Basarnas Special Group (BSG), serta tim penyelam khusus lainnya. Operasi penyelaman bawah air ini disokong oleh kapal perang terbaru milik Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal), yakni KRI Canopus, yang dilengkapi teknologi wahana nirkabel bawah air (drone bawah air) serta perangkat pencarian bawah air yang canggih.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa armada dan personel berkeahlian khusus tersebut dipersiapan untuk menembus kedalaman perairan demi menemukan korban yang tersisa. “Khusus untuk KRI Canopus, ini merupakan kapal terbaru dari TNI AL yang dimiliki oleh Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal). Kami berharap dari kapal ini kita nanti bisa melaksanakan operasi underwater (bawah air) dengan optimal,” tutur Kepala Basarnas Mohammad Syafii saat konferensi pers perkembangan operasi SAR kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin.
Meskipun armada utama telah bersiap di lokasi, alam belum sepenuhnya bersahabat. Derasnya arus perairan Masalembo memaksa tim penyelam menahan diri demi keselamatan jiwa para personel. Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan bahwa operasi penyelaman baru akan dimulai begitu kondisi arus laut melandai dan aman untuk diselami. “KRI Canopus yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan searching underwater (pencarian bawah air) sudah ada di lokasi. Namun untuk menurunkan personel-personel yang memiliki kemampuan underwater (bawah air), karena memang kondisi arus tidak memungkinkan, sampai di jam ini belum kita turunkan,” ujar Kepala Basarnas Mohammad Syafii menambahkan.
Sementara itu, Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso menjelaskan kronologi musibah berdasarkan keterangan langsung dari kapten kapal. Pemicu utama kemiringan kapal hingga akhirnya tenggelam adalah hantaman gelombang tinggi yang bertubi-tubi pada sisi lambung kanan kapal. “Disampaikan oleh nahkoda Kapal Virgo tersebut terkait kejadian kemiringan kapal, ini juga akibat dari hantaman ombak dari lambung kanan. Ini info yang kami dapatkan langsung dari kapten Kapal Virgo tersebut dalam operasi pencarian, khususnya yang kapal hilang kontak maupun kapal tenggelam,” terang Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso di Jakarta.
Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso mengonfirmasi bahwa data manifes kapal mencatat keberadaan 243 orang, terdiri atas 213 penumpang dan 30 awak kapal. Proses evakuasi yang berlangsung intensif melibatkan berbagai kapal penolong di sekitar lokasi. “Perkembangan saat bisa saya sampaikan berdasarkan laporan di lapangan tadi jam 15.30 bahwa korban yang sudah terevakuasi kurang lebih 113, di mana yang selamat adalah 98, kemudian yang meninggal ini ada enam. Di TB Mauhaw itu ada 16 orang, di mana 15 orang selamat, dan satu meninggal dunia, kemudian di TB TCP, yaitu enam orang, di mana satu selamat dan lima orang meninggal dunia,” papar Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas Edy Prakoso. Ia merinci lebih lanjut bahwa KM Haida menyelamatkan 69 orang, Kapal Nelayan Cahaya Bahari yang dipindahkan ke Kapal Intandaya menyelamatkan 20 dua orang, dan Kapal Nelayan Sri Asih menyelamatkan satu orang, sehingga total korban selamat tercatat 114 orang dengan enam korban meninggal dunia serta 129 orang masih dalam pencarian.
Tragedi ini juga mendapat perhatian serius dari jajaran dinas pemerintahan pusat. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dan siap mengusut tuntas penyebab musibah ini melalui jalur resmi. “Proses tersebut akan dilaksanakan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sesuai dengan kewenangannya,” tegas Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dalam konferensi pers penanganan kecelakaan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meminta seluruh lapisan masyarakat memberikan ruang bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk bekerja secara independen berbasis fakta teknis demi melahirkan evaluasi menyeluruh pada standar keselamatan pelayaran nasional. Di balik langkah taktis hukum dan investigasi tersebut, ucapan belasungkawa mendalam pun disampaikan kepada keluarga korban. “Kementerian Perhubungan bersama seluruh pemangku kepentingan terus mengawal proses penanganan musibah tersebut hingga seluruh tahapan dapat diselesaikan, termasuk pencarian dan penanganan seluruh korban kecelakaan Kapal Virgo Transport 8,” ucap Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dengan nada empati.
Di tengah amukan gelombang Masalembo dan pekatnya dasar Laut Jawa, detik demi detik terus berjalan menjadi pertaruhan antara harapan dan waktu. Harapan keluarga korban kini bertumpu pada ketangguhan tim SAR gabungan dan kesiapan armada yang berjuang menembus samudra demi membawa pulang 129 jiwa yang masih hilang. Mari kita panjatkan doa terbaik, semoga secercah keajaiban segera hadir menyinari kedalaman laut dan memberi kedamaian bagi mereka yang menanti di rumah. (Gdi)




