Menggigil Bersama Seniman Ice Carving Kebanggaan Indonesia

Masih ada hingga besok (18 Januari) di Christmas Aurora, Mal Ciputra, Jakarta untuk menikmati karya terbaik ice carving Bambang Supriyanto, seniman yang lekat dengan karya seni Ciputra Group nan ikonik dari seni patung, dan lukis. (Foto: Wanitaindonesia.co)

WANITAINDONESIA.CO – Dari banyaknya talenta-talenta mumpuni pembua ice carving (seni mengukir balok es) terbaik dunia, nama Indonesia bersinar berkat limpahan energi kreatif Bambang Supriyanto bersama tim kreatifnya, Asosiasi Ice Carving Indonesia.

Seni ice carving merupakan salah satu seni tertua di dunia. Bermula dari kreativitas suku Inuit yang berdomisili di Alaska yang membangun tempat berlindung berupa Igloo.

Bentuknya menyerupai kubah mini. Igloo juga dikenal masyarakat Kanada terutama yang bermukim di wilayah Thule di Greenland.

Di tahun 1892 Chef Auguste Escoffier dari Prancis merupakan seniman pertama, yang memperkenalkan seni tersebut kepada tamu-tamu hotel. Chef dengan kemampuan kreatif tersebut membuat patung berbentuk angsa, sebagai penghias sajian dessert buatannya.

Seni ice carving kemudian berkembang, menjadi salah satu unsur pendukung di hospitality industry. Menjadi bagian penting dalam dunia kuliner, dan melengkapi seni ukir buah, dan sayur, mentega, keju, cokelat, serta medium lainnya. Menjadi salah satu materi pembelajaran wajib di sekolah-sekolah kuliner di Amerika.

Wanitaindonesia.co bangga dengan prestasi unggul yang telah diperlihatkannya ke mata dunia. Walau identik dengan negara tropis, namun lewat talentanya yang mumpuni dalam seni ice carving menjadi pembuktian bahwa sebagai bangsa yang besar, Indonesia kaya dengan SDM berkualitas, walau tak ditunjang dengan kondisi geografis iklim bersalju.

Wanitaindonesia.co mewawancarai artisan lulusan pertanian di momen Christmas Aurora yang diselenggarakan (7/12/2025 – 18/1/2026), dalam Snow House bertemperatur minus 5 derajat C, lantai Lower Ground, Mal Ciputra Jakarta.

Bambang, seniman Ice carving berperawakan kurus tinggi dengan kulit cokelat menceritakan upayanya, dalam menghadirkan suasana salju yang nyata, layaknya di negara Eropa.

Upayanya tersebut memberikan tantangan tersendiri mengingat cuaca ekstrem Jakarta lekat dengan panas terik kemudian berganti hujan. “Untuk menghadirkan ruang nan hidup dari suasana saat winter di dalam cold room, saya, dan tim membutuhkan total 12 ton es balok, “terang Bambang.

“Aih lucunya induk penguin, dan anak-anaknya hadir lewat kemahiran tangan cekatan Bambang, dan Asosiasi Ice Carving Indonesia. (Foto: Wanitaindonesia.co)

Taklukan Tantangan lewat Passion

Material es balok yang dipilih dari jenis transparan, dan yang buram. Kedua jenis es balok tersebut di jadikan medium imajinasinya. Dia bersama tim kreatif yang tergabung dalam Asosiasi Ice Carving Indonesia mempresentasikan sejumlah hewan, yang lekat dengan suasana alam bersalju seperti Beruang, dan Rusa Kutub agar terlihat natural.

Dibutuhkan kecermatan saat memahat guna menghadirkan detail seperti bentuk hewan aslinya, kehati-hatian agar tak ada ukiran yang patah saat proses pengerjaan. Mengingat tingkat kesulitan ice carving ada pada balok es, dan ruang tempat bekerja yang sangat dingin. Terlebih medium es balok yang digunakan sangat licin, mudah cair, serta rentan patah.

Dengan tingkat kesulitan yang tinggi dibutuhkan teknik, dan tingkat kehati-hatian ekstra, serta feeling yang baik saat menentukan kedalaman pahatan.

Memahat es berbeda dengan memahat kayu. Bahannya licin, dan keras dengan tekanan yang cukup kuat. Selain itu temperatur panas ekstrem akan menurunkan temperatur suhu dingin di cold room. Dampaknya karya seni ice carving akan memuai, lalu patah. Untuk mengantisipasi ukiran patah, setiap sambungan es ditabur garam halus.

Baca Juga :  Merawat Legacy Memanusiakan Seniman

Bambang menceritakan proses pembuatan ice carving dimulai sejak pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB, dengan durasi waktu yang dibutuhkan masing-masing seniman tak diukur dengan jam, melainkan alert dari kondisi tubuh masing-masing kreator.

Bila mereka sudah merasa kedinginan, pemahat tersebut harus segera ke luar untuk menetralisir suhu tubuhnya. Kemudian tugas akan digantikan oleh seniman lainnya.

Agar tubuh tetap prima dalam suhu ekstrem minus 5-4 derajat Celsius, Bambang bersama tim rutin berlatih berada di dalam suhu ekstrem. Berolahraga seperti lari maupun berjalan kaki. Mengonsumsi makanan yang mengandung protein tinggi, vitamin C. Dan tak kalah penting istirahat yang cukup.

Untuk menghasilkan karya seni ice carving nan indah, Bambang membutuhkan ratusan ton balok es dari jenis transparan, dan yang buram. Ia juga memperhitungkan kualitas balok es yang digunakan. Menurutnya balok es memegang peran penting dari hasil akhir tak kalah penting dari teknik pembuatan. Balok es berkualitas harus diambil dari sumber air bersih.

Adapun peralatan yang digunakan saat bekerja adalah gergaji mesin untuk memotong es balok, pahat, gerinda dengan mata khusus untuk mengukir obyek, serta mesin pengamplas.

Totalitas dari kreativitasnya menghadirkan karya seni nan memesona. Hadir beberapa zona yang dibentuk menyerupai kepulauan Nusantara, yang dihias dengan aneka satwa khas di daerah bersalju seperti beruang, penguin, rusa, serigala. Ambience diperkuat dengan kehadiran pohon cemara.

Di bagian dasar cold room diletakkan potongan balok es berukuran besar, dan kecil yang berfungsi untuk menstabilkan temperatur ruang, serta karya ice carving.

Ice carving Bambang, dan tim kreatif dari Asosiasi Ice Carving Indonesia menjadi pemikat pandang pengunjung. Mereka terpukau kemudian bergegas untuk mengabadikannya. Semua terlihat menggemaskan.

Selama melakukan wawancara Wanitaindonesia co, dan Bambang harus sabar untuk beralih ke sisi lain, yang tidak menghalangi pengunjung berswafoto. Beragam ekspresi muncul dari rasa girang, ada yang menjerit atau berteriak. Semua pengunjung berupaya untuk melakukan pose terbaik. “Seru!.

Bambang Supriyanto perkenalkan perkembangan seni ice carving Indonesia ke seniman di mancanegara. (Foto: Istimewa)

Mentoring, Support System Pak Cip & Ciputra Group

Bicara profesinya sebagai pemahat es kelas dunia, Bambang mengaku awal ketertarikannya itu ketika ia sering berinteraksi dengan para seniman. Pria simpatik dengan background pendidikan pertanian menyadari, bahwa dirinya memiliki passion sebagai pematung.

Proses pencarian passion-nya itu tak bisa dilepaskan dari tangan dingin Pak Cip (Ir.Ciputra, Founder). “Beliau mentor saya, “ujarnya bangga.

“Awalnya saya bertugas membantu mengurus para seniman. Karena kerap melihat cara mereka bekerja, lalu menghasilkan kriya patung terbaik, lekat dengan unsur seni tinggi, saya kemudian terinspirasi untuk melakukannya, “ucap Bambang.

Tak butuh waktu lama, lewat kecekatan tangan dalam memahat obyek menjadi sosok dari imajinasinya tersebut, yang dibangun lewat rasa, dan juga passion, karya-karya Bambang sanggup berbicara, dan menarik minat masyarakat.

Bambang merasa bersyukur, serta terhormat dalam perjalanan karirnya dia dimentorin oleh Pak Cip dalam menciptakan karya seni patung. Karya indahnya kerap terinspirasi oleh sosok wanita Indonesia yang berperan multitasking.

Baca Juga :  Festival Teater Indonesia Harmoni Perbedaan Menjadi Kekuatan Besar Seniman Indonesia Mendunia

Sculpture berbahan resin seperti Mencium Durian, Keluarga Bahagia, Balerina, dan Kuda dijadikan hiasan ikonik di sejumlah properti Ciputra Group. Salah satunya bisa Anda lihat di area luar, dan dalam lobby Hotel Ciputra Jakarta. Juga di area depan seluruh perumahan Ciputra Group.

Dari sini, Bambang melakukan pengayaan dengan menggunakan material berupa es balok. Masyarakat mengenalnya sebagai ice carving. Dalam keseharian, lekat dengan hiasan pada meja buffet pengantin berupa tautan inisial nama kedua mempelai, yang berhias sepasang merpati maupun angsa.

Menurut Bambang, perjuangannya untuk memperkenalkan seni ice carving Indonesia ke mancanegara terbilang sangat menantang. Utamanya adalah bagaimana dia melatih tubuh agar tahan di cuaca ekstrem minus hingga 25 derajat celsius!. “Maklum orang Indonesia tidak pernah merasakan salju, “ujarnya.

Karya terbaik di lomba ice carving internasional di Sapporo, Jepang peristiwa tsunami, detail, dan presisinya membuat pengunjung larut dalam musibah memilukan tersebut. (Foto: Istimewa)

Idenesia Beroleh Award

Ihwal ide, dan kreativitas dalam membuat sebuah obyek menjadi hal penting. Ia kerap melakukan pengamatan mendetail terhadap obyek yang hendak dipahat. Seorang seniman harus dapat berimajinasi juga harus memiliki daya ingat yang kuat terhadap obyek. Ini merupakan pasangan klop untuk menghasilkan maha karya ice carving.

Inspirasi terbesar karyanya datang lewat budaya maupun kejadian penting di Indonesia. Oleh Bambang, dan tim kemudian diselaraskan dengan tema besar lomba.

Ketika meraih juara I di Sapporo, Jepang, Bambang mengabadikan objek satwa endemik Orang Utan. Sejumlah isu hadir dari keberadaan hewan yang hanya hidup di hutan tropis, di wilayah tertentu Indonesia.

Ia mencari referensi dari sumber terpercaya, melihat tayangan video bagaimana kehidupan Orang Utan di habitatnya. Setiap detail nan khas dari keseharian Orang Utan, serta habitatnya di tuangkan dalam seni pahat yang presisi.

Pun ketika musibah besar tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam yang meluluhlantakan Bumi Serambi Mekkah, serta negara di Asia Pasifik. Bambang bersama tim menggarap tema dari momen memilukan tersebut ke dalam ukiran di balok es.

Gelombang besar digambarkan lewat ukiran rumit pada balok es, lengkap dengan amukan air bah, serta kapal Pinisi yang digulung air bah, dan lumpur pekat. Karyanya mampu berbicara ihwal kejadian memilukan, yang menimpa masyarakat Aceh. Mengoyak-ngoyak kalbu masyarakat dunia yang melihat, serta turut merasakan.

Walau mumpuni dalam seni ice carving, dan telah berkali-kali memenangkan perlombaan di tingkat nasional maupun internasional, Bambang mengaku selalu ada momen berkesan saat mengikuti lomba ice carving tingkat internasional.

Saat sedang asyik mengukir sebuah objek, salah satu bagian ukiran yang telah dibuat dengan sangat detail penuh kehati-hatian itu terlepas. Padahal batas waktu perlombaan akan segera berakhir. Tak panik, Bambang sigap karena telah berlatih dengan tekun. Hal seperti ini telah diantisipasinya, mengingat ice carving rentan dengan kejadian tersebut.

“Ketika latihan, saya pernah mengalami kejadian ukiran yang patah. Sebagai kreator, saya harus berpikir kreatif, bagaimana mensiasati bagian yang lepas tersebut, agar bisa menyatu kembali dengan sempurna. Dari proses trial, dan error saya menemukan garam sebagai media perekat. Kreativitas yang berasal dari kearifan lokal tentunya sangat membantu, serta tak dikuasai oleh ice carving luar negeri, “ujarnya sembari tersenyum.

Baca Juga :  Merawat Legacy Memanusiakan Seniman
Seni ice carving Indonesia mendunia, dicintai masyarakat Indonesia berkat tangan kreatif Bambang Supriyanto (Foto: Wanitaindonesia.co)

Apreasiasi Rakyat Indonesia & Ciputra Group Minim Suport Pemerintah

Bicara support system, Bambang mengakui peran pemerintah dalam mendukung upayanya, untuk mempromosikan karya seni ice carving ke mancanegara, masih kurang, bahkan hampir tak ada.

Bambang menjelaskan, “Selama mengikuti penyelenggaraan event kompetisi ice carving internasional, yang rutin diselenggarakan setiap tahun, saya dan tim mewakili Asosiasi Ice Carving Indonesia senantiasa disuport oleh Mal Ciputra Jakarta.”

“Padahal skills kami sudah teruji dalam setiap kompetisi. Tim Ice Carving Indonesia senantiasa unggul dari kriteria penilaian lomba seperti tema, kekompakan tim, keindahan, tepat waktu, serta interaksi dengan pengunjung. Booth peserta yang paling ramai dikunjungi akan mendapatkan nilai tambahan.

“Dari ratusan peserta yang berasal dari berbagai belahan dunia, Indonesia selalu masuk 5 besar. Kami telah berkali-kali membawa pulang kemenangan dari juara 1, juara 2, dan juara 3, “terangnya.

Obyek pohon cemara di hamparan salju pegunungan hadirkan romansa liburan di benua Eropa momen Christmas Aurora, Mal Ciputra, Jakarta. (Foto: Wanitaindonesia.co)

Obsesi Mulia Sekolah Ice Carving Rakyat

Namun pria dengan limpahan energi kreatif ini merasa bersyukur, ketika Mal Ciputra Jakarta bersedia memfasilitasi secara rutin, dia bersama tim kecilnya untuk berlaga di event ice carving di Sapporo, Jepang.

Saat ini ia ingin mewujudkan impiannya lewat Asosiasi Ice Carving Indonesia untuk menghelat event internasional berupa lomba, dan exhibition ice carving di tataran Asia.

Sebagai profesional di bidang Sculpture tekadnya membaja. Ia ingin agar proses regenerasi bisa berlangsung secara alami. Mengingat profesi ice carving di Indonesia masih didominasi oleh generasi senior. Juniornya masih bisa dihitung jari.

Karenanya, ia terobsesi untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan ice carving di Indonesia, sebelum ia bersama para senior lainnya harus rehat memahat balok-balok es tersebut.

Menurut Bambang kendala utama adalah pembiayaan. Pemerintah khususnya Kementerian Kebudayaan masih belum tergerak untuk membantu memfasilitasi. Padahal Asosiasi Ice Carving Indonesia yang menaungi 111 anggota di berbagai daerah Indonesia memiliki talenta-talenta mumpuni.

“Kekinian ice carving tak lagi identik sebagai produk seni negara yang memiliki salju, namun negara tropis seperti Indonesia memiliki banyak seniman ice carving mumpuni, “tegasnya.

Namun pria dengan limpahan energi kreatif ini merasa bersyukur, ketika Mal Ciputra Jakarta bersedia memfasilitasi secara rutin, dia bersama tim kecilnya untuk berlaga di event ice carving di Sapporo, Jepang.

Saat ini ia ingin mewujudkan impiannya lewat Asosiasi Ice Carving Indonesia untuk menghelat event internasional lomba, dan exhibition ice carving di level Asia. Sebagai profesional di bidang Sculpture tekadnya membaja.

Pria kelahiran Demak, Jawa Tengah ini ingin agar proses regenerasi bisa berlangsung secara alami. Mengingat profesi ice carving di Indonesia masih didominasi oleh generasi senior. Juniornya masih bisa dihitung jari.

Karenanya, ia terobsesi untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan ice carving di Indonesia, sebelum ia bersama para senior lainnya harus rehat memahat balok-balok es tersebut. (*)