Site icon Wanita Indonesia

Mengenal drg. Ratu Mirah Afifah, Tokoh di Balik Edukasi Kesehatan Gigi Indonesia

drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc., – Personal Care Community Lead Unilever Indonesia. (Foto ; Dok. Pepsodent)

WANITAINDONESIA.CO — Kesehatan gigi dan mulut kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat. Padahal, dari senyum yang sehat dan napas yang segar, terpancar kualitas hidup serta kepercayaan diri seluruh anggota keluarga. Di balik masifnya kampanye kesadaran kesehatan gigi di Tanah Air, ada sosok wanita inspiratif yang tak pernah lelah mendedikasikan ilmunya, yaitu drg. Ratu Mirah Afifah, GCClinDent., MDSc.

​Sebagai Personal Care Community Lead di Unilever Indonesia, dokter gigi lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran (Unpad) ini mengombinasikan keahlian klinis serta komitmen sosialnya untuk mengubah pola pikir masyarakat mengenai perawatan gigi harian.

​Lahir di Jakarta pada 2 Februari 1970, drg. Ratu Mirah memperdalam ilmu kedokteran giginya hingga ke jenjang internasional dengan meraih gelar Graduate Certificate in Clinical Dentistry (GCClinDent) dan Master of Dental Science (MDSc.). Sejak bergabung dengan perusahaan multinasional pada 2008, ia konsisten menjembatani dunia medis dan kebutuhan masyarakat melalui berbagai posisi strategis, mulai dari Head of Professional Marketing Personal Care hingga Division Head for Health & Wellbeing and Professional Institutions di Yayasan Unilever Indonesia. Lewat perannya tersebut, ia memotori berbagai inisiatif edukasi promotif dan preventif, termasuk ajang tahunan Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) yang berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG), Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM), serta Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).

​Melalui momentum Hari Kesehatan Gigi Nasional (HKGN) dan konsistensi pelaksanaan BKGN yang telah memasuki tahun ke-17, drg. Ratu Mirah menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi masyarakat. Berdasarkan data kesehatan terkini, sebanyak 57 persen penduduk Indonesia usia 3 tahun ke atas masih mengalami masalah gigi dan mulut. Tantangan ini diperberat oleh pola hidup masyarakat, di mana 47,5 persen di antaranya mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali sehari. Di sisi lain, kendati 95,6 persen masyarakat mengaku telah menyikat gigi setiap hari, kenyataannya baru 6,2 persen yang melakukannya di waktu yang tepat, yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur malam. Kesadaran untuk memeriksakan diri pun masih sangat rendah, sebab hanya 11,2 persen masyarakat yang berkonsultasi ke tenaga medis gigi dalam kurun waktu satu tahun.

​Melihat kondisi tersebut, drg. Ratu Mirah menginisiasi pentingnya edukasi mengenai mikrobioma mulut (mouth microbiome). Menurutnya, mulut yang bersih bukan berarti harus steril dari seluruh bakteri, melainkan harus berada dalam kondisi yang seimbang antara bakteri baik dan merugikan.

​”Melalui program Bulan Kesehatan Gigi Nasional ini, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan mulut secara menyeluruh. Edukasi ini penting agar masyarakat memahami bahwa rongga mulut yang tampak bersih sekalipun sebenarnya menjadi tempat bagi banyak bakteri. Masing-masing memiliki peran, sehingga menjaga keseimbangan mikrobioma mulut adalah kunci utamanya. Menggunakan obat kumur setelah menyikat gigi hadir sebagai perlindungan ekstra 24 jam untuk membantu menjaga keseimbangan tersebut sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” ujar drg. Ratu Mirah Afifah.

​Sebagai seorang wanita yang memahami pentingnya peran keluarga, drg. Ratu Mirah percaya bahwa perubahan kebiasaan sehat selalu bermula dari rumah. Oleh karena itu, gerakan BKGN merangkul jaringan komunitas ibu di berbagai daerah untuk menjadi agen perubahan bagi suami, anak-anak, dan lingkungan sekitar. Tak hanya terfokus di kota-kota besar, edukasi dan pelayanan kesehatan gratis ini disebarkan secara merata hingga ke pelosok negeri.

​Di Jawa Barat, edukasi difokuskan secara intensif karena wilayah dengan populasi terbesar ini mencatatkan lebih dari 50 persen penduduk yang mengalami masalah gigi dan mulut. Sementara di Nusa Tenggara Timur (NTT), fokus diarahkan untuk memperluas akses perawatan serta pertolongan promotif-preventif bagi masyarakat yang terdampak bencana. Upaya pemerataan ini juga menjangkau wilayah Papua untuk mengatasi keterbatasan distribusi dokter gigi melalui program pencegahan yang terstruktur.

​Melalui hadirnya inovasi seperti teknologi microbiome active pada Pepsodent Pro Care serta konsistensi program BKGN, drg. Ratu Mirah berharap masyarakat tidak lagi baru datang ke dokter gigi saat merasa sakit, melainkan terbiasa melakukan perawatan harian yang tepat di rumah. Dedikasi drg. Ratu Mirah Afifah membuktikan bahwa peran seorang profesional medis tidak hanya terbatas di dalam klinik, tetapi juga mampu menggerakkan masyarakat luas demi mewujudkan senyum Indonesia yang lebih sehat dan berdaya. (Des)

Exit mobile version