WANITAINDONESIA.CO — Kesehatan gigi dan mulut pada anak di Indonesia kembali menjadi sorotan utama pemerintah. Dalam acara peluncuran Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD., Ph.D., memaparkan data yang cukup memprihatinkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan program Cek Kesehatan Gratis, ditemukan fakta bahwa 4 dari 10 anak Indonesia yang duduk di bangku sekolah mengalami masalah gigi berlubang.
Acara peluncuran yang berlangsung di SDN Menteng 01, Jakarta Pusat (17/9/2026) ini, merupakan kolaborasi berkelanjutan antara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama Unilever Indonesia melalui brand Pepsodent, serta didukung oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI), dan Asosiasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Indonesia (ARSGMI). Sinergi ini bertujuan untuk memperluas akses edukasi dan pelayanan kesehatan gigi bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
Dalam sambutannya, Prof. Dante menekankan bahwa masalah gigi berlubang tidak bisa dipandang sebelah mata. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan rasa sakit atau mengganggu aktivitas belajar anak, melainkan berpotensi memicu penyakit sistemik yang serius.
”Kesehatan gigi itu tidak hanya soal kebersihan mulut, tetapi berkaitan dengan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Ada kuman bernama Streptococcus beta-hemolyticus grup A yang bisa hidup di dalam gigi berlubang. Kuman ini dapat masuk ke aliran darah dan menyangkut di katup jantung, menyebabkan kelainan katup jantung atau penyakit jantung rematik,” jelas Wamenkes.
Penyakit jantung rematik merupakan kondisi serius yang dapat berdampak panjang bagi kesehatan anak hingga usia dewasa. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan sejak dini menjadi sangat penting.
Untuk menekan angka kasus gigi berlubang, Kemenkes mengedepankan pendekatan preventif dan promotif. Salah satu langkah inovatif yang dicanangkan adalah melatih para siswa untuk menjadi “Detektif Gigi Berlubang” di lingkungan sekolah. Program ini akan diintegrasikan melalui peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
”Anak-anak yang bertugas di UKS akan diajari untuk mengenali tanda-tanda gigi bermasalah pada teman-temannya. Kami telah menyiapkan modul kurikulumnya. Jika mereka menemukan teman dengan gigi berlubang, mereka bisa melaporkannya kepada guru untuk kemudian dirujuk ke Puskesmas terdekat,” lanjut Prof. Dante.
Melalui tema “Gigi Kuat, Senyum Sehat, Indonesia Hebat” dan subtema “Periksa, Tindaklanjuti, Jaga Kesehatan Gigi dan Mulut”, pemerintah berharap momentum BKGN 2026 dapat menanamkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sejak dini, terutama melalui kebiasaan menyikat gigi yang tepat waktu (setelah sarapan pagi dan sebelum tidur malam) serta pemeriksaan rutin setiap enam bulan sekali ke dokter gigi.
Usai acara peluncuran di Jakarta, rangkaian kegiatan BKGN 2026 akan terus berlanjut dengan jadwal pemeriksaan gigi gratis di berbagai Fakultas Kedokteran Gigi dan Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Oktober hingga Desember 2026. (Des)

