WANITAINDONESIA.CO – Ketertinggalan produktivitas tenaga kerja nasional masih menjadi tantangan mendesak bagi perekonomian Indonesia saat ini. Dalam hitungan nilai ekonomi per jam, capaian pekerja Indonesia ternyata masih berada di kisaran 10 persen di bawah rata-rata kawasan Asia Tenggara (ASEAN). Kenyataan pahit ini memperlihatkan betapa mendesaknya transformasi pengelolaan sumber daya manusia, terutama di tengah gelombang percepatan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) dan alih wujud digital (digital transformation) yang kian deras.
Kesenjangan efisiensi tersebut terungkap secara gamblang saat membandingkan performa tenaga kerja lokal dengan negara tetangga. Ketua Panitia Pengarah Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (Chairman of Steering Committee GNIK), Yunus Triyonggo, membeberkan gambaran kontras hasil kerja per jam antarnegara tersebut di Jakarta, Kamis.
“Kalau dibandingkan Malaysia, satu jam pekerja kita di Indonesia menghasilkan 13 hingga 15 dolar AS. Malaysia sudah 26 hingga 27 dolar AS,” ungkap Yunus Triyonggo dalam keterangannya, Kamis.
Yunus Triyonggo menegaskan bahwa ketimpangan nilai tambah tersebut menjadi cermin bahwa peningkatan mutu tenaga kerja tidak lagi memadai jika hanya mengandalkan pola pendidikan dan pelatihan konvensional. Terlebih jika dibandikan dengan negara maju seperti Jepang, jarak ketertinggalan produktivitas Indonesia terbilang masih sangat jauh. Menurutnya, penguatan kemampuan teknis (competency) harus senantiasa berkelanjutan dan dibarengi dengan kelincahan beradaptasi terhadap teknologi terkini agar mampu menciptakan nilai tambah nyata bagi perekonomian.
Sebagai respons nyata atas tantangan global tersebut, gelaran Konferensi Tingkat Tinggi Sumber Daya Manusia Indonesia (Indonesia Human Capital and Beyond Summit/IHCBS) 2026 siap dihelat pada 15 hingga 16 September 2026 mendatang. Pesta gagasan yang menargetkan kehadiran 6.000 peserta ini mengusung tema Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity. Melalui tema besar tersebut, teknologi kecerdasan artifisial dan digitalisasi ditegaskan bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan menjadi instrumen penguat kapasitas serta daya saing pekerja.
Agenda besar ini diselaraskan dengan rancangan cetak biru (blueprint) pembangunan sumber daya manusia nasional yang bertumpu pada dua pilar utama, yaitu daya saing kerja (employability) dan kapasitas kewirausahaan (entrepreneurial capability). Langkah terukur ini meneruskan rekam jejak forum yang selama dua tahun terakhir diklaim telah menjangkau sekitar 300.000 tenaga kerja di seluruh Nusantara, termasuk penyediaan pelatihan kecerdasan artifisial tanpa biaya bagi lebih dari 20.000 peserta.
“Setiap tahun kita akan memperbarui apa yang sudah dikerjakan dan apa target utama yang harus kita jalankan,” ujar Yunus Triyonggo menekankan konsistensi langkah pembenahan tersebut.
Menghadapi serbuan teknologi baru seperti asisten kecerdasan artifisial (AI assistant), kecerdasan artifisial teraugmentasi (augmented AI), hingga kecerdasan artifisial agen (agentic AI), pekerja dituntut melompat lebih tinggi agar tidak sekadar menjadi penonton pasif. Oleh sebab itu, IHCBS 2026 memperluas cakupan pembahasan menjadi delapan jalur fokus (track), menghadirkan sesi lokakarya keterampilan praktis, serta menyediakan Zona Digitalisasi (Digitalization Zone) yang melibatkan sekitar 100 penyedia solusi di bidang pengelolaan sumber daya manusia dan teknologi.
Seluruh gairah perubahan ini dirangkum secara inklusif melalui pendekatan lima unsur (pentahelix) yang menyatukan peran pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, hingga komunitas. Sinarki kolektif ini diharapkan mampu mengurai benang kusut yang selama ini mengganjal dunia kerja nasional, khususnya mengatasi ketidaksesuaian (mismatch) antara kualifikasi lulusan sekolah kejuruan maupun perguruan tinggi dengan kebutuhan riil industri modern.
“Kita ingin membangun persatuan dari para pengelola sumber daya manusia (human resources),” tutur Yunus Triyonggo menutup penjelasannya dengan optimisme tinggi.
Penguatan sinergi nasional ini menjadi sinyal kuat bahwa masa depan industri Tanah Air sangat ditentukan oleh keberanian kita mereluksi teknologi sebagai mitra tumbuh. Dengan memadukan kecanggihan digital dan kapasitas manusia secara seimbang, tenaga kerja Indonesia tidak hanya mampu mengejar ketertinggalan produktivitas di tingkat regional, tetapi juga siap berdiri sejajar sebagai pemain utama di panggung ekonomi global. (Gdi)





