Mengapa Pekerjaan Berstres Tinggi Sering Memicu Nyeri Jantung

Kemacetan di Ibu Kota menjadi salah satu penyebab stres. Gdi

WANITAINDONESIA.CO – Di tengah tingginya ritme kerja perkotaan yang nyaris tanpa jeda, rasa lelah yang menumpuk dan tekanan pekerjaan kerap kali dianggap sebagai bagian biasa dari keseharian. Namun, di balik rasa penat yang terus diabaikan tersebut, tubuh diam-diam menyimpan alarm bahaya yang siap melonjak kapan saja, terutama bagi organ paling vital dalam tubuh: jantung.

Banyak yang menduga bahwa tekanan mental yang ekstrem maupun kelelahan fisik berat merupakan pemicu tunggal munculnya gangguan jantung secara mendadak. Namun, fakta medis berbicara lain. Tekanan mental dan rasa lelah hebat sesungguhnya bertindak sebagai pemantik yang memperberat kondisi, bukan faktor tunggal pencetus awal penyakit tersebut.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, mengungkapkan bahwa rutinitas harian dengan tingkat tekanan tinggi berpotensi besar memperburuk respons tubuh pasien yang sudah memiliki riwayat gangguan pembuluh darah.

Baca Juga :  Nutrisi Yang Bagus Untuk Menjaga Kesehatan Jantung

“Kondisi tersebut memang sangat terpicu oleh pekerjaan dengan tingkat stres tinggi (high stress occupation) dan juga kelelahan (fatigue). Memicu itu artinya memperberat, tetapi bukan sebagai sumber penyebab utama,” ujar Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP usai sesi edukasi media yang diselenggarakan Daewoong bersama PERKI di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bahwa akar utama pembentukan penyakit jantung pada umumnya berasal dari muasal faktor risiko yang majemuk (multiple risk factors), seperti pola makan yang tidak seimbang, kebiasaan merokok, hingga kecenderungan genetik. Ketika seseorang telah mengidap penyakit jantung koroner, tekanan emosional dan fisik akan membuat pembuluh darah mengalami penyempitan secara alami (vasokonstriksi).

Baca Juga :  Inilah Sebuah Rekomendasi Pekerjaan Yang Bisa Ibu Lakukan Dirumah

Penyempitan refleksif ini menyebabkan pasokan darah dan oksigen menuju otot jantung terhambat drastis. Akibatnya, serangan atau keluhan nyeri dada (angina) akan muncul jauh lebih sering dan terasa menyiksa. Sementara itu, pada kasus gagal jantung, kelelahan fisik yang melampaui ambang batas toleransi tubuh menjadi faktor dominan yang menurunkan fungsi pompa jantung secara drastis.

Menyadari bahwa tekanan hidup merupakan hal yang tidak mungkin dihindari sepenuhnya dalam dinamika modern, pengelolaan respons diri menjadi kunci paling mendasar untuk menjaga kelangsungan hidup.

“Stres itu tidak bisa dihilangkan. Selama kita hidup pasti ada faktor pemicu stres (stresor). Akan tetapi, bagaimana kita mengelola stres itu yang menjadi kunci utamanya,” tegasnya.

Langkah pemulihan dan perlindungan jantung menghendaki komitmen utuh terhadap pembenahan gaya hidup harian. Memenuhi waktu tidur yang berkualitas selama enam hingga delapan jam setiap malam menjadi fondasi awal pemulihan sel-sel tubuh. Selain itu, menyantap hidangan bergizi seimbang, aktif berolahraga secara teratur, serta mantap menghentikan kebiasaan merokok menjadi benteng pertahanan vital.

Baca Juga :  Resolusi Kesehatan 2026 'Alert' Ancaman Nyata Diabetes & Jantung lewat Penyakit Gusi!

Keseimbangan kondisi psikologis serta penataan lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja yang kondusif turut memegang peranan besar dalam menekan risiko pemburukan kondisi kesehatan pembuluh darah.

Menjaga kesehatan jantung bukanlah tentang melarikan diri dari kesibukan, melainkan tentang keberanian untuk menyisipkan jeda dan mendengarkan sinyal yang diberikan oleh tubuh. Sebelum rasa lelah dan tekanan harian berujung pada konsekuensi yang tak ternilai, mulailah menyayangi jantung Anda hari ini dengan memberikan haknya untuk beristirahat dan bernapas lega. (Gdi)