
WANITAINDONESIA.CO – Di balik riuhnya jalanan Indonesia dan kebiasaan unik warga yang mengutarakan gurauan di media sosial, tersimpan potensi besar yang mampu menyihir jagat hiburan digital dunia. Siapa sangka, fenomena sederhana seperti bunyi klakson bus yang pernah memicu gelombang meme populer di tengah masyarakat kini bertransformasi menjadi modal berharga bagi pengembang gim lokal untuk menembus dan memikat pasar internasional.
Langkah kreatif memanfaatkan kekuatan budaya serta tren lokal ini terbukti menjadi kunci sukses dalam membangun ekosistem gim yang berdaya saing tinggi. Melalui pendekatan yang padu antara kearifan lokal dan selera pasar global, karya anak bangsa tidak hanya menjadi hiburan harian, tetapi juga berhasil mengumpulkan pundi-pundi ekonomi yang sangat signifikan bagi negara.
Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) Luat Sihombing mengungkapkan bahwa budaya Indonesia dapat menjadi salah satu bahan bakar atau fondasi yang dilirik oleh pengembang untuk dijadikan gim yang berpotensi mendunia.
Berbicara di depan forum “Tencent White Paper Launch” yang menjadi bagian dari World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis, Luat mengatakan, budaya lokal yang dimaksud mencakup pula hal-hal populer maupun meme yang tengah berkembang di masyarakat. Elemen yang awalnya hanya viral di dalam negeri tersebut pada akhirnya sanggup dikenal luas oleh masyarakat global karena disajikan secara interaktif.
Pengembang gim di Indonesia dinilai terus berupaya untuk selalu relevan dan mengokohkan ekosistemnya. Pendekatan yang dilakukan adalah menjangkau pasar global dari konten lokal menuju konten global, dengan tetap menjaga kebudayaan asli agar melekat di dalam permainan.
Salah satu bukti nyata suksesnya strategi ini terlihat pada permainan “Bus Simulator Indonesia” (BUSSID). Gim tersebut memasukkan unsur-unsur yang sangat akrab dalam keseharian masyarakat, termasuk fenomena “om telolet om” yang sempat menjamur pada 2016 dan belakangan kembali viral karena diangkat menjadi tema lagu oleh grup wanita No Na.
Luat Sihombing menjelaskan bahwa mekanisme konten yang berkembang berkat balutan meme berhasil membentuk basis pemain yang sangat setia di dalam negeri. Keberhasilan itu tercermin dari jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active users) yang terus meningkat pesat hingga mampu menjaring peminat dari negara luar seperti India.
Daya tarik fenomena ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi para pengembang gim pemula maupun pengembang independen ( indie developer ) dalam merancang karya yang sanggup melintasi batas negara. Pemerintah pun turut menyelaraskan langkah dengan menyiapkan revisi Peraturan Presiden nomor 19 tahun 2024 tentang Percepatan Pengembangan Industri Gim Nasional guna memberikan payung hukum yang lebih efektif bagi pertumbuhan para pelaku industri.
Langkah penguatan regulasi tersebut sejalan dengan besarnya potensi nilai ekonomi yang dihasilkan. Laporan Tencent White Paper yang disusun oleh firma konsultan kebijakan publik Access Partnership bertajuk “The video game industry: Unlocking the next level of economic and social development in the Southeast Asia” mengungkap bahwa pada 2025 industri gim Indonesia berhasil mencetak pendapatan total senilai 1,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp23 triliun. Pada tahun yang sama, sektor ini juga membuka 257.400 lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja lokal.
Pertumbuhan industri kreatif digital ini diperkirakan akan terus melesat tajam. Pada 2030 mendatang, industri gim diproyeksikan memberi kontribusi ekonomi nasional hingga meraih pendapatan 3,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp59 triliun, sekaligus menyerap hingga 476.000 tenaga kerja.
Melihat besarnya peluang yang ada, narasi lokal Indonesia jelas bukan sekadar cerita pelengkap, melainkan panggung utama yang siap memikat dunia. Sudah saatnya kekayaan cerita dan keunikan tradisi kita terus mewarnai layar layar digital global, membuktikan bahwa kreativitas anak bangsa mampu menjadi raja di negeri sendiri sekaligus memikat hati masyarakat dunia. (gdi)




