Membimbing Generasi Digital Menuju Etika Belajar yang Santun

Siswa sekolah bersama gawainya. gdi

WANITAINDONESIA.CO – Gawai kini telah menjadi sahabat karib yang tak terpisahkan dari jemari anak-anak kita sejak usia dini. Teknologi digital membawa jendela dunia ke dalam ruang kelas, menawarkan kemudahan akses ilmu pengetahuan yang tanpa batas bagi generasi masa depan. Namun, di balik kecanggihan tersebut, tersimpan tantangan baru berupa maraknya perundungan siber (cyberbullying) dan paparan konten yang tidak ramah anak. Menghadapi realitas modern ini, dunia pendidikan dituntut untuk bertransformasi, menyatukan teknologi dengan kekuatan karakter moral yang kokoh.

Menjawab tantangan zaman tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan pendekatan baru yang mengintegrasikan pemanfaatan teknologi dengan pembentukan karakter yang luhur. Langkah strategis ini dituangkan dalam Peraturan Mendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 yang mengatur tentang Budaya Sekolah yang Aman dan Nyaman (BSAN). Melalui kebijakan ini, kenyamanan belajar anak tidak lagi hanya diukur dari keamanan fisik di lingkungan sekolah, melainkan juga kenyamanan dan keadaban dalam berinteraksi di ruang digital.

Baca Juga :  Jessica Mila dan Sahabat Membagikan Momen Emosional Usai Melahirkan, Sukses Menyentuh Hati

Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen, Ruspriono, mengungkapkan bahwa sekolah harus mampu menjadi tempat pengarah bagi siswa agar bijak dalam menggunakan teknologi. Literasi digital yang diajarkan kini tidak lagi sebatas kemampuan mengoperasikan perangkat komputer, melainkan ditekankan pada etika berkomunikasi, menghargai perbedaan di media sosial, serta mencegah penyebaran konten intoleransi digital di kalangan pelajar.

Baca Juga :  Bagaimana Sih Menghadapi anak Yang Suka Mencubit

“Teknologi harus menjadi alat akselerasi ilmu pengetahuan, bukan sarana baru untuk melakukan kekerasan psikis. Melalui penguatan budaya sekolah aman dan nyaman ini, kita mendidik siswa agar memiliki kecerdasan digital yang berkeadaban dan berkarakter luhur,” tutur Ruspriono di Jakarta.

Implementasi program ini dilakukan secara naratif dengan melibatkan para guru untuk memberikan keteladanan dalam pemanfaatan media digital sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). Siswa diajak untuk memproduksi konten-konten positif dan edukatif, sehingga ruang siber di lingkungan sekolah dipenuhi oleh atmosfer kreativitas, bukan justru ruang saling mencemooh.

“Ketika anak-anak kita mampu memadukan kecerdasan teknologi dengan empati sosial yang tinggi, kita sedang mempersiapkan pemimpin masa depan yang luar biasa. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk mengarahkannya,” ucap Kepala Puspeka Kemendikdasmen, Ruspriono, menutup penjelasannya dengan penuh harap.

Baca Juga :  Menteri Wihaji : Orang Tua Jarang Ngobrol dengan Anak, Sebabkan Anak Sibuk Ngobrol dengan Handphone

Menatap binar mata anak-anak yang asyik menatap layar gawainya, ada tanggung jawab besar yang tertumpang di pundak kita sebagai orang tua dan pendidik. Teknologi digital adalah pisau bermata dua yang bisa membangun atau justru merusak jiwa-jiwa yang masih murni. Dengan bimbingan yang penuh kasih dan penguatan karakter yang konsisten, mari kita hantarkan anak-anak kita menjadi penjelajah dunia digital yang santun, cerdas, dan tetap memiliki kehangatan nurani khas ketimuran. (gdi)