WANITAINDONESIA.CO – Ambisi besar untuk mencetak generasi masa depan yang tangguh, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045 kini tengah diuji di atas meja produksi nasional. Sebuah hajatan besar berskala nasional penentu kecukupan gizi anak-anak bangsa menuntut kesiapan yang tidak main-main. Di balik setiap kotak susu segar yang siap dinikmati di ruang-ruang kelas, ada deru mesin pabrik yang kini harus dipacu bekerja berkali-kali lipat lebih cepat demi memenuhi panggilan tugas negara.
Kementerian Perindustrian tengah menggalang kekuatan besar untuk mendongkrak kapasitas industri pengolahan susu secara masif. Langkah ini diambil demi menyokong kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan bakal menembus angka fantastis, yakni mencapai 4,8 miliar kemasan susu ukuran kecil sepanjang tahun ini. Tantangan nyata berada di depan mata, mengingat kapasitas produksi nasional untuk ukuran kemasan tersebut saat ini baru mampu menyuplai sekitar 49,7 persen atau berkisar 2,39 miliar kemasan dari total kebutuhan yang dicanangkan.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengonfirmasi bahwa sudah ada tiga perusahaan besar yang langsung mengambil langkah cepat dengan melakukan investasi baru maupun peningkatan kapasitas pabrik. Kendati demikian, benteng produksi ini dirasa masih perlu terus diperkuat. Oleh karena itu, pemerintah kini tengah membuka pintu lebar-lebar bagi koperasi peternakan lokal untuk masuk ke sektor hilir pengolahan, serta mendorong terjadinya kemitraan strategis berupa pendampingan teknis dari industri raksasa kepada koperasi-koperasi di daerah.
“Kami sangat berharap industri pengolahan susu ini bisa bermitra dengan koperasi-koperasi dan memberikan pendampingan kepada koperasi-koperasi yang ingin melakukan pengolahan untuk pemenuhan susu MBG ini,” ujar Merrijantij dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di Jakarta.
Guna meringankan langkah para pelaku usaha dan koperasi, pemerintah menjalankan program peremajaan struktur industri lewat pemberian insentif potongan biaya investasi. Subsidi ini diberikan hingga 35 persen bagi industri yang menggunakan mesin pengemasan (filling unit) dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tinggi. Tak hanya itu, modernisasi juga menyentuh bagian hulu lewat digitalisasi rantai pasok, di mana hampir seratus tempat pengumpulan susu milik berbagai koperasi kini telah terintegrasi dalam sebuah aplikasi pemantau ketersediaan pasokan secara langsung (real time).
Upaya penguatan dari hulu hingga hilir ini dirasa kian mendesak mengingat tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia secara umum terhitung masih cukup memprihatinkan. Berdasarkan data pembanding global, angka konsumsi susu di tanah air yang berada di kisaran 17,76 liter per kapita per tahun terbukti masih tertinggal jauh di bawah pencapaian negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, bahkan Vietnam.
Menjadikan peringatan Hari Susu Nusantara sebagai batu loncatan untuk menggerakkan roda industri sekaligus membangun kesadaran konsumsi adalah sebuah keharusan. Melalui sinergi yang kokoh antara regulasi pemerintah, kecanggihan industri, dan kemandirian koperasi, pemenuhan gizi yang merata bukan lagi sekadar impian, melainkan fondasi nyata yang siap kita wujudkan demi ketahanan bangsa yang berkelanjutan. (gdi)





