
WANITAINDONESIA.CO – Panggung megah Java Jazz Festival 2026 yang digelar di Nice PIK 2, Kabupaten Tangerang, mendadak berubah menjadi mesin waktu pada Sabtu malam. Di bawah sorot lampu yang dramatis, grup musik legendaris Potret sukses menyihir ribuan pasang mata dengan deretan lagu hit (hit) yang telah menemani perjalanan hidup lintas generasi sejak era 1990-an. Sang vokalis ikonik, Melly Goeslaw, tampil penuh karisma dan energi, membuktikan bahwa daya tarik musik mereka tidak pernah pudar oleh waktu, meski tren industri terus berganti.
Lagu bertajuk “Ingin Dicium” menjadi pembuka yang manis, memicu sorak-sorai antusias dari para penonton yang telah memadati area panggung sejak sore hari. Melodi yang akrab di telinga tersebut seolah menjadi jembatan bagi Melly untuk menyapa para penggemar setianya dengan penuh kehangatan. Ia pun tidak ragu mengungkapkan rasa bahagianya bisa kembali berdiri di atas panggung festival tahunan yang selalu menjadi kiblat para pencinta musik di tanah air.
“Senang sekali, senang banget Potret bisa ada di sini di ajang Java Jazz, perhelatan (event) tahunan yang mana ini menjadi favorit orang-orang Jakarta dan seluruh masyarakat Indonesia. Jadi kita senang banget bisa menyanyikan lagu-lagu karya saya dan juga Potret yang pastinya mudah-mudahan kalian terhibur,” ujar Melly Goeslaw, Vokalis Potret, dengan senyum yang terus mengembang.
Suasana nostalgia semakin kental saat melodi lagu “Tentang Seseorang” dan “Bimbang” mengalun, diikuti dengan lagu “Ku Bahagia” yang memancing paduan suara massal dari kerumunan. Di sela-sela penampilannya, Melly yang kini telah menginjak usia 52 tahun, sesekali melontarkan candaan ringan mengenai faktor usianya yang mengundang tawa renyah penonton. Ia berkelakar bahwa setelah membawakan lagu dengan tempo cepat, dirinya membutuhkan waktu sejenak untuk pendinginan (cooling down), sebuah momen jujur yang justru menciptakan kedekatan emosional yang begitu terasa dengan penggemar.
Namun, di balik kegembiraan tersebut, Melly menyelipkan pesan mendalam yang menggugah jiwa nasionalisme para pencinta musik. Sambil mengenang pengalamannya menonton musisi mancanegara, ia mengajak masyarakat untuk memberikan porsi apresiasi yang setara kepada musisi lokal. Menurutnya, sejauh apa pun lokasi pertunjukan musisi Indonesia, dukungan publik harus tetap mengalir deras karena para seniman ini merupakan aset berharga bagi bangsa yang harus dijaga kelestariannya.
“Boleh mencintai musik luar, saya juga mencintai musik luar, tadi malam saya menonton Laufey. Tapi maksud saya, kalau musik luar itu jauh ke ujung dunia pun dikejar, musik Indonesia pun harus begitu porsinya. Indonesia yang hadir di tempat pertunjukan (venue) sejauh apa pun, harus kita apresiasi dan harus kita tonton, karena ini adalah juga aset bangsa kita,” tegas perempuan yang telah berkarya bersama Potret sejak tahun 1995 tersebut.
Malam itu pun ditutup dengan sangat manis melalui lagu-lagu legendaris seperti “Bunda”, “Gantung” yang dibalut aransemen jazz yang elegan, hingga “Bagaikan Langit” dan “Salah”. Sebagai pemungkas, lagu “I Just Wanna Say I Love You” bergema, meninggalkan kesan mendalam bagi setiap penonton yang hadir.
Penampilan Potret malam itu bukan sekadar konser musik biasa, melainkan sebuah pengingat bahwa karya anak bangsa memiliki kekuatan magis untuk menyatukan hati, dan mencintai karya lokal adalah bentuk tertinggi dari rasa bangga kita terhadap identitas tanah air. (Gdi)




