
WANITAINDONESIA.CO – Runway JF3 menjadi bukti serta lintasan emas bagi desainer Prancis untuk memamerkan karyanya.
Mereka mengekspresikan diri lewat karya yang menembus batas pemikiran tanpa harus kehilangan jati diri sebuah bangsa, dan negara yang menjadi kiblat mode dunia. Berikut persona sejumlah desainer Prancis yang telah memberi warna bagi ekosistem mode Indonesia.
Fashion Genderless, Puitis, Multikultural
Fengyuan DAI merupakan cerminan dari kegigihan desainer keturunan Cina yang merantau ke Paris. Di tengah hiruk-pikuk, dunia gemerlap serta persaingan sengit kota mode terbaik dunia tersebut, sosok Fengyuan DAI menjadi salah satu persona yang diperhitungkan di industri.
Rekam jejaknya nyata, berkarir di sejumlah Rumah Mode terkenal di Kota Paris kemudian berlanjut mewujudkan obsesi dengan memiliki brandnya sendiri.
Kini dengan label miliknya 30%70, pejuang di industri mode ini menjadi satu dari beberapa gelintir perantau yang sukses masuk ke industri mode global.
Ketertarikannya di event tahunan JF3 karena direkomendasikan oleh Pemerintah Prancis lewat Kementerian Kebudayaan mereka. Prancis dengan Indonesia telah membuhul sebuah kerja sama di industri kreatif salah satunya lewat kerja sama bilateral di bidang budaya, dan mode.
Bersama 30%70, pria dengan energi kreatif yang luar biasa ini menghadirkan sebuah visi di industri mode, di mana keseimbangan menjadi sebuah bahasa untuk kreativitas.
Apa yang istimewa dari label Fengyuan? pria kharismatik ini menawarkan koleksi busana genderless, yang dirancang untuk melampaui batas budaya, musim serta generasi.
Lewat brand, Fengyuan ingin menyampaikan gagasan bahwa keseimbangan tidak harus selalu simetris. Justru dalam ketegangan yang halus antara berbagai hal, inilah yang membuat harmoni tercipta.

Antara Timur dengan Barat, warisan budaya, dan modernitas elegansi, dan kenyamanan serta craftsmanship, dan inovasi.
Setiap koleksi 30%70 menampilkan pendekatan yang sensitif terhadap busana. Siluet timeless dipadukan dengan penggunaan material alami, tekstil daur ulang, eksplorasi teknik artisan serta detail yang dikerjakan dengan penuh ketelitian.
Hadir palet warna lembut, tekstur khas, dan volume busana yang nyaman. Menciptakan dunia kontemporer sekaligus puitis.
Lebih dari sekedar sebuah label fesyen, 30%70 memiliki visi untuk secara bertahap, membangun semesta gaya hidup yang utuh. Di mana fesyen, craftsmanship, objek, dan budaya saling berdialog melalui pencarian bersama akan keseimbangan makna, dan nilai berkelanjutan.
Sebelum mendirikan labelnya sendiri, Feng mengembangkan keahliannya bersama sejumlah desainer ternama sebutlah sosok Jean Paul Gaultier, Sandrine Philippe, dan Stephane Ashpool, juga berkarya di Le19M.
Namanya bersinar ketika dirinya terpilih sebagai 1 dari 10 finalis Hyeres International Festival of Fashion, Photography and Accessories.

Romansa Budaya Indonesia & Senegal
Koleksi hasil kolaborasi jenama Indonesia, DenimItUp dengan Tareet sukses mempertemukan dua pendekatan kreatif dalam proses pengembangan koleksi bersama antara brand fesyen Indonesia dengan Prancis.
Koleksi menceritakan kisah pertemuan budaya Indonesia dengan Senegal. Ternyata lewat kolaborasi nyata, kedua negara memiliki budaya dengan beragam kesamaan.
Ide berasal dari elemen lemari pakaian Indonesia, dan Senegal kemudian dipersatukan hingga tercipta lemari pakaian hibrida. Nama koleksi merupakan cerminan dari pertemuan kedua budaya tersebut.
Bahasa Senegal menyebut kuda sebagai Fas, masyarakat Indonesia mengenal Delman merujuk pada kereta kuda tradisional.
Kuda dijadikan simbol bersama, digunakan secara luas serta memiliki arti penting secara historis untuk pergerakan, dan transformasi sehari-hari bagi masyarakat Senegal, dan Indonesia.
Elemen kunci pada koleksi hadir lewat sentuhan (the twist) pada pakaian. Sentuhan yang mencerminkan cara djellaba menciptakan volume saat tubuh bergerak.
Tujuannya untuk menerjemahkan rasa dari volume yang mengalir ke dalam potongan pakaian jalanan, yang lebih kontemporer.

DenimItUp merupakan brand Indonesia yang fokus mengembangkan produk denim, dan pakaian buatan tangan. Ciri khasnya jahitan zig-zag serta kualitas denim yang kuat.
Digawangi oleh Vincent Michael yang menjadi peserta program PINTU Accelerator. Sedangkan Tareet merupakan merek yang mengangkat aturan, dan estetika pakaian Afro-Eropa, yang menyoroti warisan budaya dari keluarga pemilik label, tempat di mana kami tumbuh besar bersama dalam kehangatan.
Merek memadukan arketipe spesifik untuk kedua budaya. Proses kreatifnya melibatkan visualisasi siluet memakai maket 3D, dan cetakan untuk membentuk lemari pakaian, yang kami terjemahkan aturan dari sisi pengrajin, dan proses industri.

“Louiseguard” Menghimpun Memori Perjalanan Musim Panas Indonesia
Lebih dari sebuah nostalgia tentang sebuah perjalanan musim panas, “Louiseguard” menjadi catatan personal Louise Marcaud tentang Indonesia, yang diterjemahkan melalui busana.
Pertemuan dengan craftsmanship lokal, budaya visual sehari-hari dari material yang ditemukan secara tidak terduga, hingga kisah-kisah yang ia saksikan, dan bayangkan.
Seluruhnya telah membentuk koleksi yang memperlihatkan, bagaimana perjalanan lintas budaya, dapat berkembang menjadi eksplorasi desain yang baru.
Kembali ke Indonesia, kembali ke Jakarta untuk berkiprah di JF3 Fashion Festival 2026, persona Louis Marcaud, desainer Paris sangat lekat di hati masyarakat fesyen Indonesia.
Kecintaannya dengan negara, dan budaya Indonesia diwujudkan dengan menghadirkan “Louiseguard” , koleksi Spring/Summer 2027 yang hadir berkat perjalanan indah ke berbagai kota di Indonesia.
Pengayaan material, dan pengalaman budaya berhasil dengan apik dikumpulkannya selama perjalansn tahun sebelumnya.
Waktu pertama kali berkarya di JF3 2025 ia menjelajahi beragam aspek kehidupan masyarakat Indonesia, yang kemudian melahirkan fondasi kreatif untuk koleksi terbaru.
Sebuah perjalanan yang menyenangkan membawanya ke pasar tekstil di Jakarta, mengamati workshop membatik, dan menenun lurik dengan artisan di Yogya.
Ia bungah terpilih sebagai peserta program PINTU Cultural Visit. Kehadirannya bersama delegasi Prancis.
Hasil dari perjalanan cantik selama di Indonesia, Louise mengumpulkan beragam material serta referensi visual, mulai dari batik, lurik, kain sisa produksi hingga benda-benda keseharian.

Mata Kreatif Louise
Anda tentu tak percaya atau merasa aneh dengan kebiasaannya mengumpulkan kantong teh, kartu pos vintage, suvenir hotel serta desain kemasan produk Indonesia.
Inspirasi lainnya datang ketika ia terpukau oleh keindahan pertunjukan Sendratari Ramayana yang ikonik. Kostum penari, ornamen, karakter serta kisah cinta yang menaungi tokoh utamanya, kemudian diinterpretasikan secara bebas ke dalam dunia imajinernya.
Lewat ide bernas Parisian cantik ini, keseluruhan elemen yang kerap dipandang sebelah mata, berhasil diterjemahkan menjadi palet warna, motif, tekstur, detail grafis di koleksi “Louiseguard”.
Menurut Louise kunjungan ke workshop batik, dan lurik di Yogya menjadi satu pengalaman yang memberikan pengaruh kuat untuk karyanya.
Desainer wanita pendiam tapi sangat antusias saat diajak bercerita ihwal karyanya, mengaku menemukan banyak potongan kain sisa yang diabaikan pengrajin.
Di mata kreatif Louise dia melihat sisa produksi tersebut terlihat seksi dari susunan motif yang tak beraturan serta jejak proses pengerjaan yang terekam pada permukaan kain tersebut.
Walau dianggap sampah, kain sisa batik, dan tenun lurik tersebut tak
kehilangan fungsinya. Tahukah Anda, material yang dianggap tak bernilai itu di bawa Louise ke studionya, di Paris.
Embusan angin segar dari kota mode tercantik dunia, telah membawa sisa kain produksi diolah ke dalam bahasa desain Louise, yang berakar pada tailoring, struktur serta permainan proporsi.

Harmoni Desain Kontemporer Prancis & Material Craftsmanship Indonesia
Tiga belas look dari 20 look yang dibuatnya dipresentasikan di BRI JF3 Fashion Festival 2026 di Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading.
Karyanya memikat fashion enthusiast Indonesia karena menghadirkan harmoni pertemuan antara pendekatan desain kontemporer Prancis dengan material, dan craftsmanship Indonesia.
Louise membawa referensi tersebut ke dalam konteks yang sama sekali berbeda, sebuah kolam renang umum di Jakarta. Koleksinya membayangkan kisah musim panas fiktif, antara seorang wisatawan yang memperpanjang masa tinggalnya di Jakarta, dan seorang penjaga kolam muda yang ditemuinya.
Lewat narasi hadir koleksi yang bergerak diantara kenangan liburan, romantisme musim panas, dan estetika seragam. Tailoring bergaris mengingatkan pada kursi santai serta payung di tepi kolam renang.
Juga rajutan berpotongan pas mengambil referensi dari pakaian renang bergaya vintage. Sementara bikini, celana bermuda, celana capri, dan gaun terlihat ringan.
Dari kisah romansa imajiner tersebut, pendekatan Louise terhadap material dalam koleksi, juga sejalan dengan praktik yang telah lama dilakukan untuk labelnya.
Dirancang di Paris, diproduksi dalam jumlah terbatas, karyanya mengutamakan penggunaan material yang telah tersedia. Termasuk kain deadstock sebagai salah satu cara untuk mengurangi kebutuhan terhadap produk material baru.
Melalui “Louiseguard”, kain yang ditemukan di sebuah perjalanan, tidak akan berhenti hanya sebagai suvenir atau arsip personal.
Justru material tersebut masuk ke dalam proses kreatif. Dipotong, dikonstruksi, dan ditempatkan dalam konteks baru, tanpa menghilangkan jejak asal maupun karakter visualnya.

Peran Emosi di Ranah Digital
Rohan Mirza adalah studio mode yang didirikan di Paris 2021. Ciri khasnya eksplorasi titik temu antara budaya internet, narasi pribadi, keahlian teknis, dan percetakan 3D. Setiap koleksi berfungsi sebagai dunia paralel yang dapat diuraikan, dihuni serta diadopsi.
Setelah Nuketown, peta pertama yang diadaptasi dari Call of Duty, brand baru ini melanjutkan perjalanannya ke sejumlah wilayah imajiner melalui stonehaven. Koleksi musim semi/musim panas 2026.
Kali ini reruntuhan kastil dari Call of Duty berfungsi sebagai latar belakang simbolis, yang diciptakan kembali dalam bentuk taman umum, untuk sebuah upacara perayaan. Bukan sekedar ikatan biner, melainkan ikatan emosional, baik nyata maupun virtual, yang dibangun, dan dipelihara oleh setiap individu dalam realita digital.
Di sini ikatan keluarga kandung diwujudkan dalam gagasan komunitas yang dipilih. Taman tersebut telah membangkitkan kenangan, akan taman bermain masa kecil serta pertemuan tak terduga, di mana bangku taman menjadi sisa yang paling setia.
Penonton merupakan bagian yang tak terpisahkan dari upacara anachronistic ini, yang berada diantara teater sosial, peragaan busana, dan ritual.
Sebuah estetika diantara hantu-hantu digital, dan hyperrealism. Dalam semesta yang bernuansa vampir, dan puitis ini, senjata tak lagi mematikan.
Senjata-senjata itu justru membela cinta, ikatan, dan kelembutan. Stonehaven adalah tempat berlindung sekaligus nama keluarga yang melambangkan persatuan.
Siluet-siluetnya menyerupai mainan. Berayun antara kerapuhan, dan perlindungan, kenangan, dan hiperbola. Armor Nuketown telah berganti menjadi bentuk-bentuk bulat dari kain katun fleece. Begitu pula dengan teknologi 3D yang tampil lebih halus.

Paris, Arena Bermain & Paradoks
Koleksi ini berakar pada kota Paris yang memiliki dua wajah. Satu yang menghisap mimpi sekaligus mewujudkannya. Siluet-siluetnya berkelana di dunia, di mana para malaikat tak jatuh, melainkan membusuk akibat keseriusan yang dipaksakan kepada mereka.
Tujuannya adalah untuk bermain-main dengan kode-kode eksklusif yang sering melekat pada dunia mode, guna memberikan penghormatan kepada semua hantu, dan kode visual, dalam ingatan kolektif populer kita.
Di sini sosok vampir yang mendasari koleksi ini, menjadi metafora bagi hasrat mutlak akan kedekatan berbagi sejarah, ingatan, dan budaya bersama.
Darah tak lagi perlambang kematian, melainkan secara metaforis, cinta abadi dengan segala kelembutan, dan kecanggungan yang menyertainya.
Referensi-referensi terhadap budaya internet ini terjalin bersama-sama. Terjalin bersama benang merah, dari sebuah koleksi yang berupaya melibatkan penonton. Mengajak mereka untuk menjadi bagian dari klan yang diwujudkan oleh setiap siluet dalam keunikan masing-masing.
Dengan pengantin pria, dan wanita sebagai pusat dari @. @ adalah ajakan untuk menjalin kembali hubungan, untuk bersama-sama turut serta dalam sebuah perayaan yang diselenggarakan, guna menghormati persatuan antara sisi-sisi kasar dari realitas vampirik kita. (*)




