Site icon Wanita Indonesia

Lulu Tobing Berperan Menantang Lewat Penderita Alzheimer

Dunia seni peran kembali membawa sosok elegan Lulu Tobing ke dalam sebuah perjalanan rasa yang menguras empati. Melalui film terbaru garapan Rapi Films bertajuk “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan”, aktris yang pernah bertahta sebagai ratu layar kaca era 90-an ini bertransformasi menjadi Yuke, seorang ibu yang harus berhadapan dengan kenyataan pahit ketika ingatannya perlahan memudar akibat penyakit gangguan penurunan fungsi otak (Alzheimer).

WANITAINDONESIA.CO – Dunia seni peran kembali membawa sosok elegan Lulu Tobing ke dalam sebuah perjalanan rasa yang menguras empati. Melalui film terbaru garapan Rapi Films bertajuk “Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan”, aktris yang pernah bertahta sebagai ratu layar kaca era 90-an ini bertransformasi menjadi Yuke, seorang ibu yang harus berhadapan dengan kenyataan pahit ketika ingatannya perlahan memudar akibat penyakit gangguan penurunan fungsi otak (Alzheimer).

Peran ini menjadi sebuah tantangan baru bagi Lulu, karena ia harus menyelami kedalaman karakter yang berlapis di bawah arahan sutradara Kuntz Agus. Dalam bincang hangat pada konferensi pers (pertemuan media) di Jakarta, Jumat (8/5/2026), Lulu berbagi kisah betapa kompleksnya memerankan sosok yang sedang kehilangan jati dirinya sendiri secara perlahan namun pasti.

“Semua ilmu tentang penyakit penurunan daya ingat yang diperlukan untuk peran ini saya dapatkan dari Mas Kuntz sebenarnya. Dia memberikan saya banyak literatur (tulisan ilmiah), dan kami melakukan diskusi yang sangat intens (mendalam),” ungkap Lulu Tobing dengan nada serius.

Bagi Lulu, memerankan Yuke bukan sekadar berakting menjadi seorang ibu seperti dalam karya sebelumnya, “Tunggu Aku Sukses Nanti”. Kali ini, ia harus menjaga keseimbangan emosi agar aktingnya tetap terasa nyata dan tidak berlebihan (overacting), mengingat karakter Yuke dikisahkan baru memasuki tahap awal penyakit tersebut. Ia merasa harus sangat berhati-hati dalam menakar porsi kesedihan dan kebingungan yang ditampilkan di layar lebar.

“Menurut saya tiap peran punya kesulitan masing-masing. Namun, di film ini terasa lebih berlapis karena ada kondisi medis yang sebelumnya tidak pernah saya pahami secara mendalam. Jadi saya lebih hati-hati memerankan porsi yang pas, bagaimana supaya tidak tampak berlebihan,” tambah Lulu Tobing menjelaskan proses kreatifnya.

Di balik drama medis yang menyayat hati, terselip benang merah tentang kekuatan cinta yang tak lekang oleh waktu. Film yang dijadwalkan menyapa penonton pada 13 Mei 2026 ini bukan sekadar tentang hilangnya ingatan, melainkan tentang bagaimana keluarga menjadi jangkar terakhir saat badai kehidupan menerjang. Lulu meyakini bahwa rumah sesungguhnya adalah orang-orang yang tetap menggenggam tangan kita meski kita tak lagi mengenali wajah mereka.

“Bahwa keluarga itu bukan sebuah pilihan. Mau dalam kondisi susah ataupun senang, naluri kita akan selalu ingin berada di tengah-tengah keluarga,” tutur Lulu Tobing menutup percakapan dengan sebuah pesan yang menyentuh kalbu.

Kisah Yuke mengingatkan kita semua bahwa ingatan mungkin bisa terhapus oleh waktu dan penyakit, namun jejak kasih sayang yang telah ditanamkan dalam hati anak-anak dan pasangan akan tetap abadi. Melalui film ini, kita diajak untuk lebih menghargai setiap detik kebersamaan, sebelum memori itu benar-benar menjadi rahasia yang terkunci rapat. (Gdi)

Exit mobile version