Site icon Wanita Indonesia

Liburan Tak Biasa di Bhutan Lewat Gelaran Bathing Carnival Kedua di Lembah Telung

Agenda pariwisata Bhutan "Bathing Carnival" yang diselenggarakan di Lembah Telung. (Pariwisata Bhutan)

WANITAINDONESIA.CO — Kerajaan Bhutan kembali bersiap menyuguhkan pengalaman liburan yang tak biasa bagi para petualang dunia. Departemen Pariwisata, Kementerian Industri, Perdagangan dan Ketenagakerjaan Bhutan, bekerja sama dengan Administrasi PemaGatshel Dzongkhag, resmi mengumumkan penyelenggaraan Bathing Carnival Bhutan (BCB) yang kedua.

Perayaan air berskala internasional ini akan meluncur pada 6-8 November 2026 di kawasan asri Telung, Nganglam, PemaGatshel. Penentuan tanggal tahun ini diselaraskan dengan Proyek 108 di Gelephu Mindfulness City (GMC) sebagai bentuk penghormatan atas inisiatif Kerajaan. Mulai 2027 dan seterusnya, pesta air tahunan ini akan mengunci jadwal tetap setiap tanggal 1-3 November.

Karnaval yang berlangsung selama tiga hari di wilayah timur Bhutan tersebut dirancang sebagai festival kontemporer yang memadukan rekreasi air, aktivitas outdoor (luar ruang), budaya lokal, dan petualangan seru. Mengusung tema “Celebrating the Joy of Water” (Merayakan Kegembiraan Air), perayaan ini terinspirasi dari tradisi leluhur Bhutan yang disebut Thruebab, atau Hari Hujan Berkah, serta kebiasaan kuno mandi air alami yang dipercaya membawa penyucian diri, kesehatan, pembaruan, dan kesejahteraan bersama.

Rangkaian acara dipastikan berlangsung meriah dengan paduan olahraga dan hiburan interaktif. Pengunjung dapat menikmati beragam kegiatan air seperti tarik tambang air, mandi bersama, perang air, kompetisi water balloon throwball (lempar balon air), hingga lomba estafet ember. Tak hanya itu, tersedia pula atraksi pancing fly fishing mahseer hunt (berburu ikan mahseer dengan teknik pancing layang), bamboo mat dining (santap siang di atas tikar bambu), serta pertunjukan laser light show (pertunjukan sinar laser) yang memukau di malam hari.

Sisi kebudayaan pun dikemas memikat lewat pameran pasar lokal, demonstrasi pembuatan Tsatshi Buram (permen gula khas setempat), serta pertunjukan alat musik tradisional Dung dan Jaling. Pesta kuliner buah Valley Fruit Feast serta tarian kebersamaan akan menjadi penutup yang menghangatkan suasana.

Narasumber menegaskan pentingnya ajang ini bagi wajah pariwisata Bhutan bagian timur. Singay Dorji, Dzongdag (Gubernur) PemaGatshel, menyampaikan antusiasmenya terhadap perkembangan festival ini. “Bathing Carnival Bhutan berkembang menjadi sesuatu yang benar-benar istimewa, menghadirkan kebahagiaan dan makna melalui alam serta perayaan kebersamaan. Pada penyelenggaraan tahun keduanya, kami menambahkan lebih banyak aktivitas menarik, hiburan, program budaya yang bermakna, serta keindahan luar biasa dari dua Dzongkhag untuk menjadikan festival ini sebagai pengalaman yang seru, unik, dan tak terlupakan. Festival ini juga merupakan sebuah ajakan untuk menemukan dan merasakan pengalaman di PemaGatshel, Lotus Valley yang luar biasa di Bhutan bagian timur,” ujar Singay Dorji.

Arena kuliner di “Bathing Carnival” Bhutan. Pariwisata Bhutan

Senada dengan hal tersebut, Dzongdag (Gubernur) Mongar, Lungten Jamtsho, mengajak para pelancong untuk merasakan langsung keajaiban alam di sepanjang aliran sungai alami Bhutan. “Selamat datang di Bathing Carnival 2.0, sebuah perayaan warisan budaya yang terus hidup di Bhutan bagian timur. Bergabunglah bersama kami di sepanjang sungai-sungai yang masih alami dan lanskap yang megah untuk kembali terhubung dengan tradisi-tradisi kuno, merasakan pembaruan budaya, serta menemukan ketenangan dari aliran air Bhutan, termasuk pengalaman fly fishing kelas dunia di salah satu sungai terpanjang di wilayah kami,” tutur Lungten Jamtsho.

Sementara itu, Damcho Rinzin, Direktur Departemen Pariwisata Bhutan, menggarisbawahi komitmen pemerintah setempat dalam menghadirkan inovasi wisata yang berdampak positif bagi masyarakat lokal.

“Menyusul kesuksesan penyelenggaraan perdananya, Bathing Carnival Bhutan kembali hadir dengan energi dan semangat yang lebih besar. Festival tahun kedua ini menawarkan pengalaman yang baru dan menarik dengan memadukan budaya, masyarakat, alam, olahraga, dan hiburan dalam satu rangkaian perayaan yang spektakuler. Tahun ini, kami sangat senang dapat melanjutkan momentum tersebut melalui kolaborasi erat dengan PemaGatshel dan Mongar Dzongkhag, di mana partisipasi aktif keduanya dan keterlibatan masyarakat setempat turut membentuk sebuah perayaan yang mencerminkan kekayaan dan keberagaman Bhutan bagian timur. Melalui berbagai kegiatan seperti BCB, kami terus menciptakan pengalaman inovatif yang mendorong para wisatawan untuk menjelajah lebih jauh dari destinasi yang sudah dikenal, menemukan keberagaman destinasi wisata Bhutan, serta membangun interaksi yang bermakna dengan masyarakat lokal. Kami berharap festival tahun kedua ini dapat menjadi perayaan yang berkesan bagi semua orang,” ungkap Damcho Rinzin.

Untuk memfasilitasi wisatawan, Bhutan menerapkan prinsip high-value, low-volume tourism (pariwisata bernilai tinggi dengan volume terbatas). Wisatawan internasional wajib mengurus dokumen visa atau izin secara online (daring) dengan biaya pengajuan 40 dolar AS, serta membayar Sustainable Development Fee / SDF (Biaya Pembangunan Berkelanjutan) sebesar 100 dolar AS per orang per malam—kecuali pengunjung dari India yang dikenakan SDF 1.200 Rupee per malam.

Akses menuju Negeri Seribu Benteng ini dapat ditempuh via penerbangan udara menuju Bandara Internasional Paro dari kota-kota utama Asia seperti Singapura, Bangkok, dan Dubai, atau melalui jalur darat melintasi perbatasan Samdrup Jongkhar.

Membiarkan raga terbasuh oleh keasrian air pegunungan sembari menyerap kehangatan budaya lokal di lembah tersembunyi Himalaya tentu akan menjadi babak baru dalam lembar perjalanan hidup Anda. Jalani pengalaman spiritual dan petualangan tak tertandingi ini, lalu temukan alasan mengapa Bhutan selalu berhasil mencuri hati para pengembara dunia. (Gdi)

Exit mobile version