Site icon Wanita Indonesia

Legacy RA Kartini, Resep Lezat Bangsawan Jepara

Legacy RA Kartini, dan cicitnya Suryatini N Ganie lewat kuliner otentik keluarga Sosroningrat. (Foto: Istimewa)

WANITAINDONESIA.CO – Merayakan peringatan Hari Kartini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Rekomendasi dari Wanitaindonesia.co dengan belajar memasak sajian klasik warisan RA Kartini. Anda tertarik?

“Walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu. Walaupun saya akan mati di tengah jalan. Saya akan mati dengan bahagia. Jalan sudah terbuka, dan saya telah turut merintis jalan yang menuju kebebasan, dan kemerdekaan perempuan Bumiputra. (Sepenggal surat RA Kartini kepada sahabatnya Nyonya Abendanon)

Selain sebagai pejuang emansipasi wanita Indonesia, RA Kartini pahlawan nasional yang namanya senantiasa harum lintas generasi, merupakan putri yang berperan penting dalam menyajikan beragam menu untuk keluarga besarnya Sosroningrat.

Ketrampilan Kartini dalam olah-olah (bahasa Jawa, yang artinya aktivitas memasak) diceritakan dengan gaya bahasa menarik oleh cicitnya Suryatini N. Ganie. Beliau merupakan cucu RA Soelastri, kakak kandung perempuan RA Kartini dari ibu yang berbeda.

Suryatini bangsawan Jepara merupakan Begawan Kuliner Indonesia ternama, ia berperan multitasking sebagai wartawati, penulis, konsultan kuliner, dan ibu rumah tangga. Sosoknya dikenal sebagai salah satu perempuan Indonesia yang disegani.

Sebelum berpulang, Suryatini meninggalkan legacy buku resep masakan otentik dari keluarga besar RA Kartini “Kisah, dan Kumpulan Resep Putri Jepara, Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini.”
Dicetak perdana di tahun 2005, dan diterbitkan oleh Gaya Favorit Press, Femina Group.

Buku setebal 352 halaman yang memuat lebih kurang 209 resep terinspirasi dari resep keluarga Sosroningrat, lekat dengan pengaruh lokal, Belanda, Cina, India, dan Timur Tengah.

Buku ikonik untuk Wanita Indonesia ini dibuat dengan materi tulisan yang sangat menarik. Setiap resep telah dikelompokkan berdasarkan variannya, agar pembaca terutama generasi muda terbantu, untuk menemukan resep favoritnya seperti olahan Nasi, Sup, Soto, dan Sayuran Berkuah.

Juga terdapat racikan Salad, serta variasi masakan Sayur, Ikan, dan olahan hasil Laut, Unggas diantaranya Ayam Besengek yang merupakan sajian fusion Belanda -Indonesia hingga masakan berbahan Telur.

Racikan Daging resepnya tak kalah beragam seperti kuliner Belanda yang dipengaruhi Prancis Biefstuk, steak dengan Kentang Halus, dan Setup Sayur.

Selain hidangan pelengkap seperti Sambal, dan Acar. Bagi penikmat makanan kecil, Anda dapat mencoba kudapan manis, dan gurih diantaranya Puding, Cake, Roti maupun Kue Kering.

Sebagai penulis mumpuni, Suryatini bernas bercerita. Resep masakan ditulis dengan gaya bahasa baku khas Femina, kemudian semua resep harus lolos ujicoba di Dapur Uji Femina. Jika rasanya belum sesuai dengan ekspektasi, resep harus dirubah untuk diujicoba kembali, hingga didapat masakan yang sempurna.

Olahan lezat warisan keluarga besar Kartini kemudian diplating menarik, unik dengan penggunaan peranti saji warisan keluarga Sosroningrat, kain batik tulis, serta roncean melati.

Perempuan yang semasa hidupnya banyak menulis buku diantaranya buku kuliner dalam bahasa Indonesia, dan Inggris seperti “Not Only Nasi Goreng” tak hanya sekedar meneliti, menghimpun resep otentik Indonesia menjadi sebuah buku yang wajib dimiliki pecinta kuliner. Namun Suryatini mumpuni memproduksi opini yang berangkat dari kegelisahan hatinya sebagai diplomat kuliner Indonesia.

Buku masak Not Only Nasi Goreng contohnya memuat aneka varian resep Nusantara. Targetnya adalah orang asing yang sering ditemuinya, yang mana mereka hanya tahu olahan Nasi Indonesia sebatas Nasi Goreng.

Suryatini menjadi pewaris semangat, dan perjuangan eyangnya RA Kartini. Lewat peran, serta kiprahnya semasa hidup. Sosok perempuan menyala di eranya hingga sekarang, merupakan pejuang kuliner Nusantara kebanggaan bangsa Indonesia.

Ki-ka : RA Kartini bersama kedua saudara perempuannya RA Kardinah, dan RA Roekmini. (Foto: Istimewa)

Seni Gastronomi, RA Kartini Anti Rasa Manis Berlebih

Ibunda dari wartawan aktif Abdul Rasyid di buku monumental “Kisah, dan Kumpulan Resep Putri Jepara, Rahasia Kuliner RA Kartini, RA Kardinah, RA Roekmini” menerjemahkan legacy masakan otentik dengan menyertakan resep aslinya yang ditulis dengan aksara, dan bahasa Jawa, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti yang terlihat nyata di sampul muka buku.

Varian resep lokal masyarakat Jepara seperti Padamara, Opor Ayam Panggang, Sayur Lodeh serta olahan laut yang beragam dari laut Jepara diantaranya Botok Urang (udang), menjadi bukti sajian keluarga bangsawan Jawa abad ke -19 tak ada bedanya dengan masakan rakyat jelata. Terbaca Janganan Sala yakni Sayur Sala yang populer dengan sebutan Pecel atau Semur Iwak atau Semur Ikan, serta masih banyak lagi varian resep lainnya.

Menurut penuturan Suryatini, semasa hidup eyang Roekmini kerap memasak aneka kue, yang terinspirasi dari resep lawas keluarga Bupati Jepara, Sosroningrat. Eyang Roekmini gemar mengolah kudapan manis dengan rasa manis yang pas, dan tidak berlebihan. Kudapan bercita rasa manis yang pas menjadi sajian favorit RA Kartini, dan RA Roekmini.

Tentunya kebiasaan menyantap olahan dengan rasa manis yang tak berlebihan menjadi sesuatu yang istimewa. Tak biasa, dikarenakan orang-orang Jawa terdahulu menggemari rasa manis yang berlebihan.

Hampir semua sajian dari aneka kudapan, minuman rasa manisnya dominan. Bahkan agar masakan tersaji lezat kaum ibu menambahkan gula sebagai pelezat.

Selain kuliner lokal, Roekmini juga mahir mengolah masakan Belanda seperti Gebakken Brood Met Bayam (Roti Panggang Bayam). Di masanya, keluarga berdarah biru ini sudah mampu membaca zaman dengan mengurangi food waste pada masakan.

Roti Panggang Bayam menggunakan roti sisa sehari yang dioles mentega, dan ditoping dengan bayam rebus. Agar bayam tersaji lezat dibumbui dengan bawang merah, pala bubuk, garam, gula pasir.

Tradisi Afternoon Tea (Thee Uurtje) di keluarga bangsawan Sosroningrat rutin diadakan setiap sore hari. Lekat dengan aneka sajian manis, yang terinspirasi dari kue-kue Belanda. Juga disajikan olahan lokal diantaranya Pilus Kentang, Serabi Gandum, dan Pisang Goreng Keju.

Momen afternoon tea menjadi pembelajaran etika cara makan keluarga bangsawan. Aturan yang dibuat harus dipatuhi seperti tata cara mengambil makanan, menyuap, dan mengunyah, hingga menyeruput teh atau kopi, yang lekat dengan beragam pakem.

Diantaranya tak boleh mengunyah dengan mulut terbuka, mengeluarkan bunyi. Pun halnya busana, posisi duduk antar anggota keluarga, cara duduk, dan posisi tangan juga memiliki aturan tersendiri.

“Penasaran dengan warisan buku masakan RA Kartini, dan keluarga Sosroningrat? Anda bisa mendapatkannya di toko Buku Gramedia. (*)

Exit mobile version