Lantunkan Surah Al-Insyirah Gio Ikhlaskan Papa-nya “Pergi”

Gio & Mamanya Vera mendekap peti jenazah Alm.Deden Maulana, semua tentang cinta yang tak bersyarat namun harus luruh terpisahkan oleh maut. (Foto : Istimewa)

WANITAINDONESIA.CO – Gio adalah anak yang dipilih Allah SWT untuk kemudian diangkat derajatnya. Anak laki-laki berparas tampan bersuara merdu seketika menjadi anak yatim, tak kala papanya gugur dalam menjalankan tugas. Alm. Deden Maulana merupakan pegawai KKP yang berdedikasi tinggi, loyal terhadap institusi tempatnya mengabdi selama 20 tahun hingga di tubir kehidupannya.

Sabtu kelabu (17/1) menjadi hari tak terlupakan buat Gio, kanak-kanak yang senantiasa menahan kerinduan membuncah, saat menantikan papanya pulang berdinas. Detik ke menit lalu bergeser ke jam berlanjut ke hari, dari kerinduan yang terus dipupuk akan kebersamaan, serta kehangatan seorang figur pemimpin keluarga.

Layaknya kanak-kanak seusianya, ia senantiasa merindukan momen kebersamaan yang tak ternilai dengan bermain, curhat, kulineran maupun berkegiatan di luar ruang. Tak kalah asyik tentunya saat tidur, dalam dekapan seorang pahlawan bagi dirinya.

Rindu selalu mendera bocah tampan dengan tubuh berisi, dikarenakan papanya selalu berdinas ke luar kota. Tak setiap hari ia bisa melewatkan waktu bersama idolanya, layaknya anak-anak lain. Namun Sabtu kelabu seketika memutus asa akan kerinduan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Sabtu kelabu telah mengubur semuanya, bersama figur sang papa.

Sabtu kelabu itu tak serta merta membuat tidur malamnya nyenyak, dari kalbu terdalam, lidahnya kelu memanjatkan doa kepada Allah, agar papanya dilindungi. Bisa pulang dalam kondisi selamat. Namun Sang Maha Berkuasa memiliki rencana lain, yang tentu lebih indah dari harapan seorang anak manusia.

Minggu (17/1) ketika jasad papanya ditemukan kemudian berhasil diidentifikasi, mendung langsung menggelayuti langit, dan jiwa Gio, serta mamanya. Detik ke menit lalu ke jam, dan berganti hari dari beragam momen kerinduan tersebut, kini tak kan pernah ada lagi. Semuanya hilang dalam sekejap.

Di persemayaman pada upacara penghormatan terakhir, dan pemberangkatan jenazah papanya, Asensio Maulana (Gio) tegar dalam duka ikrar cinta ihwal keikhlasan melepas kepergian papanya lewat lantunan merdu Surah Al-Insyirah. (Foto : tangkapan layar YouTube)

Duka Gio Rencana Indah Allah

Pada prosesi upacara persemayaman Alm. Deden Maulana, korban ATR 42-500 di Auditorium Madidihang, Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Pasar Minggu (Kamis, 22/1), Alm.Deden Maulana, dan isterinya Vera telah memperlihatkan sosok anak tunggal yang cerdas, dididik dalam ajaran Islam, penambat hati kedua orang tuanya.

Baca Juga :  Kusdiantoro Dukung KKP Raih Opini WTP

Asensio Maulana yang akrab dipanggil Gio berdiri tegar di hadapan ratusan pentakziah di barisan depan. Ia ditemani oleh paman, bersisian dengan para petinggi KKP, pimpinan papanya.

Tak terlihat wajah sedih, mata sembab, badan yang lemah dikarenakan penantian panjang, diantara untaian doa, harapan akan keajaiban sebelum kenyataan pahit, ayahnya wafat dalam tugas.

Dalam suasana mengharu-biru Gio diberi kesempatan untuk membacakan Surah Al- Insyirah (kelapangan) di depan jenazah papanya.

“Ya Rabb yang Maha Pengasih, Maha Penyayang kiranya Engkau Zat yang maha membolak-balikkan hati seorang kanak-kanak, yang sekarang menjadi yatim.

Kala kesedihan itu datang lalu dihempas, dan digantikan ketabahan dari seorang anak yang ditinggal pergi papanya. Sungguh Gio telah Engkau angkat derajatnya melalui musibah, ujian yang sangat berat.

Lewat momen seorang anak Gio, sungguh hal ini menjadi pembelajaran bagi umat Islam, agar tak hanya fasih membaca Surah Al-Insyirah, penting untuk mempraktikkan dalam keseharian mereka.

Dengan suara merdu, lembut menyeruak ke telinga dengan keseimbangan pernafasan tanpa ada tekanan emosional, Gio melantunkan Surah Al- Insyirah dari bibir mungilnya. Vera, mama Gio yang duduk di seberang terlihat lunglai, wajahnya pucat. Perempuan itu menangis sembari menatap buah hatinya, kemudian tertunduk lemah.

Ratusan pentakziah dibuat terkesima dengan Gio saat melantunkan Surah Al-Insyirah sebagai tanda cinta, bakti, keikhlasan sang anak kepada orang tuanya yang wafat. Juga merupakan pembuktian akan didikan agama yang sangat kuat dari Alm.Deden Maulana.

Suasana seketika mengharu-biru tak sedikit pun Gio larut dalam kesedihan hingga Surah Al-Insyirah selesai dibacakannya.

Muslim perlu memahami, lalu mempraktikkan Surah Al-Insyirah di dalam kehidupan mereka. Al-Insyirah merupakan surah ke -94 dalam Al-Qur’an, yang terdiri dari 8 ayat.

Arti surah Al-Insyirah : “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?

Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Baca Juga :  Peringati Hari Bumi, KKP Tanam 1.000 Mangrove di Maros

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Haru-biru seluruh jajaran Direksi & Pegawai KKP kehilangan sosok pegawai yang loyal berdedikasi. (Foto : Istimewa)

Surah Penguat Kalbu, Penenang Jiwa

Gio memecah suasana perkabungan, mensyiarkan kembali makna keikhlasan manakala umat Islam ditimpa ujian, dan musibah lewat Surah Al-Insyirah. Anak yang cerdas itu menyentuh telinga, hati terdalam dengan salam perpisahan, ikrar di hadapan papa, bahwa Gio, dan mamanya telah ikhlas melepas kepergian kepala keluarga, tambatan pandang, dan hati kepada Sang Maha Pencipta.

Lantas ikhtibar apa yang bisa didapatkan pembaca Wanitaindonesia.co dengan kejadian yang menimpa Gio?

Islam agama yang mengajarkan kepada umatnya bahwa kematian merupakan kejadian yang tidak bisa dihindari. Ketika orang yang kita cintai wafat, kadang kita sulit untuk menerimanya. Hal ini karena sebagai manusia kita memiliki perasaan.

Setiap individu biasanya akan menunjukkan reaksi yang berbeda ketika menerima kabar duka. Biasanya semakin tinggi kedekatan emosional dengan orang yang meninggal dunia, seseorang yang ditinggal pergi akan menunjukkan beragam reaksi.

Ada yang histeris, sangat terluka bahkan sampai pingsan atau mengurung diri. Sebagian lagi tetap bersikap tenang.

Beruntunglah mereka yang memiliki keikhlasan, serta memahami hakikat kematian. Mereka akan terlihat sangat tenang, mampu meredakan emosi ketika berita duka itu datang. Namun tidak dengan mereka yang sulit untuk menerima kenyataan.

Karenanya mereka butuh teman curhat untuk berbagi kesedihan, serta mampu menjadi support system bagi mereka untuk bangkit, serta tak terpuruk dalam kesedihan.

Biasanya persona yang memiliki support system mumpuni, yang tepat dalam mendampingi anak melewatkan masa-masa berkabung adalah keluarga dekat, yang memiliki kedekatan emosional, serta figur dari orang yang wafat.

Penting memiliki ilmu agama yang lebih kuat, sabar mendengar keluhan, dan sangat baik dalam mengontrol emosinya. Bila tidak orang yang dianggap sebagai tempat sandaran dari kepedihan hati malah akan ikut bersedih.

(Foto : Istimewa)

Kiat Menyampaikan Kabar Duka Ke Anak

Bagaimana jika harus memberitahukan kabar duka seperti yang dialami oleh Gio, putra tunggal dari Alm.Deden Maulana ihwal kematian?

Baca Juga :  Surat Al-Insyirah: Janji Kemudahan di Balik Kesulitan

Menyampaikan berita duka cita kepada anak-anak tentunya tak bisa disamakan dengan mereka yang remaja maupun dewasa. Anak-anak kerap memaknai kematian dengan sesuatu yang menakutkan, sebagian akan merespon dengan bingung.

Namun tak ada cara lain yang bisa dilakukan, selain menyampaikan kabar tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami. Diantaranya memberikan informasi secara jujur, apa adanya.

Penting untuk tak menggambarkan peristiwa, menceritakan secara detail ihwal kondisi jenazah dalam bahasa vulgar, yang dapat membuat anak ngeri, takut bahkan terpuruk tentang kejadian tragis dari orang yang mereka cintai, seperti ketika orang tua mereka mati dalam musibah yang memilukan.

Ketika mendengar berita duka cita atas orang yang mereka cintai, wajar jika kemudian anak marah, menangis meluapkan perasaan sedihnya.

Peluk, usap kepala mereka sembari dinasehati untuk menguatkan mental mereka, bahwa kematian itu tak bisa dicegah. Tak tahu kapan datangnya, dan bisa menimpa siapa saja tanpa peduli usia, kondisi sakit maupun sehat, dlsbnya.

Cara bijak adalah dengan memberikan penghiburan, menemani mereka berbagi perasaan. Penting untuk melakukan metode trauma healing secara islami. Berkaca dari kisah hidup Gio, masa perkabungan bisa jadi akan lebih panjang, dikarenakan ada anak yang awalnya tegar kemudian larut dalam kesedihan.

Momen ini terlihat ketika peti jenazah papanya di angkat menuju mobil jenazah. Gio berlari memeluk mamanya sembari menangis pilu.
Ke depan tak lama berselang di momen Ramadan, kenangan melewatkan waktu dengan sahur maupun buka puasa, membaca Al-Qur’an, sholat tarawih di masjid bersama papa tercinta, menjadi salah satu memori yang paling mengaduk-aduk emosi. Tentunya Gio butuh pendampingan, trauma healing dari keluarga besar.

Sabarlah Gio karena Allah dekat dengan anak kecil yang sabar, dan ikhlas. Jangan henti berdoa untuk papamu. Kejar cita-citamu, berjuang, dan beri kebahagiaan buat kedua orang tuamu.

Teruslah membaca, mempraktikkan Surah Al-Insyirah karena Gio merupakan anak hebat pilihan Allah dalam menerima cobaan hidup. (*)