WANITAINDONESIA.CO – DNA orang Cina adalah pedagang bukan pekerja.
Karena hanya lewat perniagaan mereka bisa terkenal sebagai orang terpandang di mana-pun, di muka Bumi.
Hal ini menjadi ulasan yang inspiratif bagi pembaca Wanitaindonesia.co ihwal prinsip dagang mereka, di tengah keinginan banyak masyarakat untuk terjun sebagai pelaku usaha.
Pasutri keturunan Cina berpenampilan rapi, glowing membuka wadah bambu besar yang didesain khusus. Dengan gaya bicara santun nan akrab mereka memperlihatkan aneka kue klasik, ketika senja di sebuah kantor Advertising di kawasan Tebet.
Sejumlah karyawan advertising tampak bungah. Mereka mengerumuni kue dagangan pasutri inspiratif tersebut di “jam lapar sore”. Yang agak jaim lebih senang menyebutnya dengan istilah “snacking berbudaya” Afternoon Tea, yang kekinian berganti Afternoon Coffee.
Wadah di bagian atas berisi aneka kue manis lawas seperti Celorot, Talam Cempedak, Cucur, Bingka, Krasikan, Apam, Lumpur Surga dlsbnya. Sedangkan wadah kedua di bagian bawah lekat dengan snack bercita rasa gurih seperti Cakue, Bakwan Kucai, Lunpia, Kroket, Pao Ayam, Talam Ebi, serta Bakcang
Aroma khas menguar sedap di ruang penerima tamu dari presentasi kue yang terlihat sangat menggoda selera. Warna, serta teksturnya nyata menawarkan kelezatan nan sempurna.
Namun tak pelak ada beberapa orang yang meragu. “Maaf, kue-kue ini halal gak ya? tanya salah seorang karyawan berhijab.
Leni tersenyum sembari berkata, “Kami sedang mengajukan proses sertifikasi halal, kemudian ia mengeluarkan handphonenya lalu memperlihatkan video tempat produksi.
Bahagia Dengan Berusaha
Sebuah dapur khusus dilengkapi peralatan memasak lengkap. Terlihat detail bangunan luar, ambience dalam. Lokasi dapur terpisah dari rumah utama, Proses produksi dilakukan profesional layaknya dapur umum ala Polri.
Pastry Chefnya pasutri tersebut, mereka dibantu dengan dua asisten produksi. Selama bekerja mereka mengenakan apron, sarung tangan, masker, dan penutup kepala. Tampilan videonya sangat detail. Menurut Albert hal ini merupakan strategi dari bisnis rintisan mereka, untuk memutus keraguan konsumen muslim.
Tak butuh lama aneka jajanan tersebut habis dalam sekejap. Harganya terbilang murah untuk kawasan prestisius seperti Tebet, yang kekinian dikepung dengan pusat kuliner mahal. Semua dijual satu harga Rp. 3.500. Yang mengasyikkan dijajakan secara delivery, tak repot harus mencari keluar.
Tak mau melewatkan momen, Wanitaindonesia.co yang membersamai teman-teman Advertising tersebut, langsung tertarik untuk mewawancarai pasutri berpembawaan ramah.
Mereka antusias.
Leni menjelaskan, dulunya mereka berdua karyawan di perusahaan besar
“Bisnis ini hadir lewat perenungan panjang, ihwal keinginan untuk melakukan bonding berkualitas diantara mereka. Dikarenakan bila harus menjadi pekerja keinginan tersebut susah untuk terealisasi, “terangnya.
Albert menyuarakan kegelisahan yang senada. “Bila masih sebagai pekerja, sulit untuk menjalankan kehidupan berumahtangga yang berkualitas. Jadwal kerja kami tak sinkron. Isteri masuk pagi sedangkan saya malam hari, “tambahnya.
Karena Albert terkena PHK, sedangkan Leni mengalami permasalahan kesehatan mental, mereka memutuskan untuk berbisnis bersama. “Frustasikah mereka), oh ternyata tidak.
Untuk menata hidup mereka bertekad untuk menekuni bisnis kuliner rintisan, yang tidak lebay (mengandalkan modal besar, serta praktik aji mumpung). Bertekad memulainya dari bawah dengan passion, kreativitas, modal bisnis yang terjangkau, cinta, dan masih banyak lagi strategi lainnya, agar kelak bisnis mereka “bertelur emas”.
Kue-kue klasik menjadi ladang utama karena keduanya senang mengeksplorasi beragam resep kue jadul. Kami punya hobi masak. Kue lawas menjadi alasan utama, dikarenakan permintaannya cukup besar, dan takkan pernah tergantikan oleh kue modern.
Selain itu, banyak pekerja yang melewatkan waktu dengan menikmati snacking. Selain kue produksi mereka itu bisa dijadikan hantaran, oleh-oleh maupun sajian di berbagai acara.
Bisnis yang baru dirintis 6 bulan lalu sudah menunjukkan progres menggembirakan, menurut mereka progres yang baik karena berpedoman kepada petuah leluhur.
Berbisnis Dengan Petuah Leluhur
Wanitaindonesia.co menanyakan ihwal filosofi bisnis keturunan Cina yang terlihat tangguh, mumpuni membaca zaman, serta membuat banyak pelakunya menjadi mesin uang.
Albert tersenyum, dengan antusias dia menceritakan ajaran bisnis dari orang tuanya. Pria penikmat olahraga luar ruang tersebut diajarkan berdagang sedari kecil. DNA keturunan Cina adalah pedagang. Ini merupakan konsep kehidupan.
Menurut mereka, pekerja yang mendapat gaji tak begitu dihormati, dibandingkan dengan orang Cina yang memilih untuk berdagang. Pedagang dianggap sudah mampu hidup mandiri. Sedangkan pekerja yang mendapat gaji dianggap belum cukup dewasa, serta kuat dalam menjalani kehidupan.
Ihwal perdagangan walaupun dalam skala kecil, orang Cina lebih dihormati dalam sistem sosial. Pedagang dianggap orang yang berani dalam menghadapi tantangan. Mereka percaya hanya dengan berdagang, orang akan berkesempatan untuk menjadi kaya.
Lantas mengapa orang Cina suka berniaga? Salah satu alasan utamanya sebagai bakti kepada orang tua. Ada asa, kelak setelah sukses, mereka dapat memberikan kebahagiaan, serta kesenangan kepada orang tua mereka. Satu-satunya cara agar bisa kaya yakni dengan berdagang.
Dalam berdagang para leluhur Cina memiliki banyak pepatah bijak. Diantaranya orang Cina dapat hidup di mana saja, termasuk di daerah yang dianggap sulit sekalipun.
Hasrat berniaga muncul dari pemikiran bahwa berdagang, merupakan kegiatan yang menyenangkan layaknya melakukan hobi. Berdagang dimaknai dengan tantangan dari ujian mental, serta fisik. Selain kemampuan untuk berkomunikasi, juga mempengaruhi pembeli.
Soal bakat sebagian menganggap bukanlah hal yang krusial. Karena ketika muncul hasrat berdagang biasanya bakat akan mengikuti. Seseorang yang memiliki bakat dalam berdagang lekat dengan energi kreatif. Biasanya tak butuh waktu lama untuk usaha mereka maju.
Walau demikian dalam perjalanan usahanya, tentu saja banyak juga keturunan Cina yang tak berhasil dalam berdagang. Bisa disebut mereka tak berbakat, dikarenakan belum menguasai kunci & kunci emas untuk berbisnis. Seperti tak kreatif, tak sanggup untuk menangkap peluang, kurang mahir dalam berkomunikasi, serta mumpuni dalam ilmu-ilmu lainnya, yang mendukung kesuksesan tersebut.
Salah satu kunci sukses orang Cina berdagang adalah bersungguh-sungguh, serta dilakukan dengan cara-cara yang benar.
Mereka menjalankan prinsip tak boleh mati langkah. Spirit hadir lewat pepatah bijak, pedagang yang baru memulai usahanya sedikit mendekat ke arah kesuksesan, walau akan ada saja tantangan, hambatan.
Kesemuanya harus dilalui dengan kesabaran, serta semangat agar tak berhenti di jalan. Optimisme dibangun bahwa selangkah ke depan adalah menuju gerbang kesuksesan.
Kegagalan yang dialami akan dimaknai tiga kali dari upaya untuk bangkit. Bila gagal di awal, mereka akan memulai kembali hingga mencapai hitungan ketiga. Namun bila ketiganya gagal berarti mereka tak berbakat dagang. Sifat pedagang Cina adalah tak gentar, maupun takut, serta meragu dalam menjalankan usahanya.
Modal bagi mereka bukanlah yang utama, namun peluang merupakan cuan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, karena peluang akan hilang karena waktu. Karenanya mereka bisa memulai berjualan dengan modal kecil.
Tentunya untuk berhasil dalam perdagangan faktor tempat berjualan seperti di lokasi strategis atau bila berdagang secara daring, platform yang paling banyak diminati oleh masyarakat merupakan kunci sukses lainnya. Selain itu orang Cina paling handal dalam memanfaatkan momen yang tepat. (*)

